Opini

Puasa, Ibadah yang Sangat Rahasia

Siedoo, "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan tangan mereka akan berkata dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan" (Surat Yasin ayat 65)

Mendeteksi kejujuran atau kebohongan memang bukan hal mudah. Meskipun ada tanda-tanda tertentu ketika seseorang jujur atau berbohong. Namun demikian, para ahli senantiasa berusaha untuk menemukan alat bantu pendeteksi kejujuran atau kebohongan.

Alat tersebut dikembangkan pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902 dan selanjutnya dimodifikasi lagi pada tahun 1921, dibuat versi modernnya oleh John Larson yang disebut dengan Polygraph.

Cara kerja Polygraph adalah dengan mekanisme pencatatan dan perekaman respons tubuh secara simultan ketika seseorang diberi pertanyaan. Secara sederhana akan terjadi suatu reaksi ketika seseorang berbohong, antara ucapan yang dikeluarkan akan mempengaruhi reaksi psikologis di dalam tubuh yang akan berefek pada kerja organ tubuh tertentu, seperti pernapasan, jantung, kulit, dan lainnya.

Melalui alat deteksi yang dihubungkan pada bagian tubuh atau organ tertentu, maka didapatkan grafik perubahan fungsi organ tersebut, diantaranya grafik pernapasan, irama jantung, tekanan darah, keringat dan lainnya.

Namun demikian, secanggih apapun suatu alat maka ketepatan dan keakuratan tidak bisa 100% untuk mendeteksi kejujuran atau kebohongan seseorang. Sehingga, berpotensi tidak akan menghasilkan keadaan yang sebenarnya.

Apalagi dalam era millenial yang didukung dengan kemajuan teknologi infomasi, maka potensi terjadinya kejujuran atau kebohongan bisa mengarah pada hoax. Oleh karena itu, Allah SWT telah melengkapi pedoman Islam yang lengkap dan sempurna dalam mengarungi kehidupan, agar tumbuh kejujuran yang hakiki melalui penempaan puasa Ramadhan.

Puasa: Ibadah Rahasia

Rukun Islam yang terdiri dari lima perkara merupakan satu kesatuan penempaan ibadah yang dibutuhkan umat Islam mencapai kesempurnaan ketaqwaan. Ibadah puasa sebagai rukun Islam keempat dari lima rukun Islam, merupakan kewajiban bagi umat Islam yang dikerjakan dengan dasar iman dan penuh keikhlasan.

Hal ini menunjukkan bahwa, ibadah puasa hanya dikatehui Allah SWT dan orang yang berpuasa, sehingga bisa tidak diketahui orang lain.

Ibadah rukun islam lainnya, sangat berbeda, misalnya salat menggunakan gerak atau aktifitas yang bisa dilihat orang lain. Demikian juga zakat dan ibadah haji, hanya orang yang mampu dengan syarat-syarat tertentu, diketahui orang lain, selain diri sendiri.

Ibadah puasa harus dilakukan dengan dasar keimanan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang terdahulu agar kalian bertaqwa ”

Ibadah puasa yang ditujukan untuk meningkatkan ketaqwaan, memiliki keunikan. Sehingga disebut sebagai ibadah yang bersifat rahasia. Hal ini disebutkan dalam hadits qudsi:

“Semua amalan anak Adam (manusia) itu untuk dirinya, kecuali puasa. Sebab, ia adalah buat-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. (HR Al Bukhari-Muslim).

Oleh karena itu ganjaran ibadah puasa juga istimewa sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap (ridha dan pahala-Nya), akan diampunkan baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari-Muslim).

Puasa dan Kejujuran

Orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan dasar iman, tentu merasa diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian orang iman yang berpuasa tidak mau membatalkan puasanya, walaupun makan dan minum yang disajikan adalah dari sumber yang halal dan orang lain tidak bakal tahu.

Orang iman yang berpuasa yakin dalam pengawasan Allah SWT, yang akan memupuk nilai-nilai kejujuran, kepada dirinya sendiri dan selalu merasa diawasi Allah SWT dalam segala tingkah lakunya.

Begitu sangat pentingnya nilai-nlai kejujuran dalam kehidupan, maka di dalam Alquran itu disebutkan sebanyak 145 kali dalam bentuk kata ash–shiddiqu dengan berbagai perubahan-perubahan bentuknya. Bahkan, dalam firman Allah SWT surat At-Taubah ayat 119, perintah taqwa disertai dengan perintah untuk bersama dengan orang-orang jujur:

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan jadilah orang-orang yang jujur hendaklah kalian bersama-sama dengan orang-orang yang jujur.”

Selanjutnya sabda Nabi kita, Muhammad SAW banyak sekali menyebutkan hadits-hadits perintah dan seruan untuk menjadi orang yang jujur. Diantaranya hadits Ibnu Mas’ud yang artinya: “Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran akan menghantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan menghantarkan ke syurga.” (HR. Bukhari Muslim).

Insya-a Allah jika nilai ibadah puasa orang yang beriman betul-betul dihayati sebagai peningkatan nilai-nilai kejujuran, maka para pemegang tampuk kepemimpinan, aparat pemerintahan akan bisa mencontohkan pola hidup yang jujur dan terhindar dari sifat tercela. Seperti berbohong, berbuat curang, menipu. korupsi, kolusi dan nepotisme.

Melalui candradimuka Ramadhan ini, maka kita ditempa untuk saling muhasabah, saling mengingatkan saudara kita, terutama saudara-saudara mukmin. Bahwa Allah SWT mensyariatkan puasa ini bukan hanya simbol tidak makan, tidak minum, tidak bercampur dengan suami-istri.

Tetapi hakikat yang lebih dalam dibalik pensyariatan ibadah puasa ada hikmah-hikmah besar yang terkandung dibalik daripada itu. Termasuk diantaranya ialah melatih dan mendidik kita menjadi orang-orang yang jujur.

Insya-a Allah, kita berharap dan berdoa agar ibadah puasa yang dilakukan orang-orang beriman di Indonesia khususnya dan di belahan bumi lain pada umumnya, akan dapat meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan puasa yang tercermin dari nilai-nilai kejujuran yang hakiki.

Sebagaimana surat Yasin yang disampaikan pada mukaddimah tulisan ini, maka pada hari pembalasan nanti mulut kita akan dikunci. Selanjutnya kaki dan tangan akan bersaksi dan menyampaikan kesaksian atas apa yang kita perbuat yang dicatat oleh malaikat Roqib dan Atid dengan sangat cermat, tepat, akurat, tidak bisa disogok, tidak bisa di-hack, tidak bisa dimanipulasi oleh siapapun.

Kita berharap dan berdoa bersama pada tanggal 22 Mei 2019 di Indonesia (bertepatan dengan 17 Ramadahn 1440 H) akan dihasilkan keputusan dari ajang perhelatan Pemilu yang betul-betul dihasilkan dari proses yang jujur, dilakukan oleh orang-orang beriman yang jujur, dan menghasilkan perhitungan dari sumber yang jujur. Sehingga Indonesia akan menjadi Negara yang adil, makmur, maju dan menang serta jaya, memberi kedamaian bagi kehidupan di seluruh penjuru alam semesta. Aamiin YRA.

 

 

 

*DR. Dr. Fidiansjah Mursjid Ahmad, SpKJ, MPH

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Keswa-Napza Kemenkes 2016-sekarang

Apa Tanggapan Anda ?