Giovania Kartika. foto: instagram

Tokoh

Dosen Cantik, Membagikan Ilmunya secara Gratis

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

Siedoo, SEMUA anak Indonesia berhak menikmati bangku pendidikan sekolah. Terkadang, biaya menjadi kendalanya. Komunitas Little Hope Indonesia (LHI) mencoba mengurainya dengan memberikan pendidikan gratis.

Dibalik komunitas peduli pendidikan itu, ada sosok yang bernama Giovania Kartika. Aktivitas kesehariannya adalah menjadi dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.

Sasaran yang dibantu adalah anak-anak kurang mampu di pinggiran atau desa-desa di Salatiga. Mereka diberi waktu khusus untuk belajar mata pelajaran tertentu.

“Kami memberikan bimbingan belajar secara gratis tiga kali dalam seminggu. Setiap Senin, Rabu dan Jumat mulai pukul 14.00 sampai 17.00 WIB,” katanya sebagaimana ditulis Radar Semarang.

Untuk program akademik, lebih fokus pada mata pelajaran matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Bahasa Inggris. Karena bagi mereka, itu pelajaran yang paling sulit dan gurunyapun terbatas.

Dalam mengajarnya LHI bekerja sama dengan SD Jembrak, Desa Jembrak, Salatiga. Ia dibantu sejumlah volunteer yang memiliki komitmen dan rasa ingin berbagi untuk membantu anak-anak pedesaan yang belum menerima pendidikan dengan maksimal.

LHI juga telah bekerjama sama dengan AIESEC UKSW, dalam program winter, akan mendatangkan exchange participant dari luar negeri dan Little Hope Indonesia menjadi salah satu tempat mereka mengajar.

Giovania mendirikan LHI setelah hatinya terketuk ingin memberikan kontribusi berupa pendidikan untuk Indonesia.

Hal itu muncul setelah dirinya sepulang mengikuti kegiatan volunteer untuk mengajar bahasa Inggris di beberapa daerah terpencil di Vietnam.

”Selama satu bulan saya di Vietnam. Saat saya terpikir, kenapa saya pergi jauh-jauh ke negara orang kalau saya nggak bisa bikin apa-apa di negara sendiri, terutama di lingkungan tempat tinggal saya?” ujar pengampu program studi Akuntansi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis ini.

Komunitas ini berdiri sejak 11 November 2016. Menyarsar anak-anak tidak mampu karena pendidikan di kota dan di desa sangat berbeda. Sangat bertolak belakang.

“Bahkan, mereka yang tinggal di desa tidak memiliki perpustakaan, dan guru-gurunya sangat terbatas,”tutur Giovania.

Apa Tanggapan Anda ?