Thoriq Aziz Jayana, penulis muda yang produktif dan menginspirasi kaum muda. (Foto: radarmadura.id)

Tokoh

Thoriq Aziz Jayana, Jadikan Tulisan sebagai Media Dakwah


SiedooThoriq Aziz Jayana (23) merupakan penulis muda dan produktif asal Madura, Jawa Timur. Menurutnya, menulis tidak perlu memperhatikan aturan kepenulisan. Jika memiliki keinginan menulis tidak harus mengetahui metode. Pengetahuan yang ada dalam pikiran dengan sendirinya akan mengalir.

Inti dalam menulis itu adalah membaca. Walaupun tidak tahu metode menulis, tapi banyak membaca akan mengalir dengan sendirinya. Tulisan orang yang pernah dibaca secara tidak langsung akan terekam dalam pikiran.

”Kalau mau nulis, ya nulis saja. Yang tepenting adalah suka membaca. Saya belajar menulis otodidak,” terangnya mengawali cerita.

Pemuda Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur ini mengaku tidak punya cara khusus dalam menghasilkan sebuah karya. Semua tulisan yang diterbitkan merupakan luapan pemikiran yang terserap dari apa yang dia baca.

”Awalnya saya tidak punya maksud untuk menulis. Apalagi sampai menerbitkan buku. Hanya, waktu SMA saya suka membaca buku,” tutur alumnus MAN 2 Pamekasan itu.

Kebiasaan itu membuahkan banyak tulisan. Catatan yang ditulis di kertas kemudian dikumpulkan dan disusun menjadi satu. Pada saat itulah, dia mulai berpikir untuk menerbitkan tulisannya berupa buku.

”Setelah disusun, kemudian saya mencoba menghubungi penerbit. Semua penerbit yang saya tawari menolak. Tapi, saya tetap berusaha mencari penerbit lain,” ungkapnya.

Kepada radarmadura.id, Thoriq menceritakan, beberapa bulan kemudian ada penerbit yang bersedia menerbitkan tulisannya. Desember 2015 buku pertama diterbitkan saat dia kuliah semerter lima di STAIN Pamekasan. Buku pertama yang terbit pada 7 Desember 2015 berjudul Meneladani Semut dan Lebah.

Setahun kemudian dia menerbitkan buku Ketika Ibu Telah Tiada. Selama di tahun 2017, Thoriq semakin produktif. Tiga buku diterbitkan dalam setahun yaitu Setapak Akhir Zaman (10 Desember), Jangan-Jangan, Dia Jodohmu (18 Mei), dan Tuhan, Aku Titip Ibu (1 Oktober). Judul terakhir khusus dipersembahkan untuk ibunya, Sunarti, yang meninggal saat Thoriq menempuh semester 5.

Tahun ini semangat menulisnya semakin membara. Februari lalu menelurkan buku berjudul Musibah atau Anugerah: Melihat Surga di saat Musibah. Sebulan kemudian disusul Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati. Agustus terbit Give Me Second Chance, dan terbaru Tuhan, Aku Tak Pantas Masuk Surga (5 November).

Semula Thoriq menulis karena hobi. Ketika mengetahui arti pentingnya sebuah karya, dia baru punya niat menjadikan tulisan sebagai media dakwah. Dengan begitu, ketika menulis buku tidak hanya menyalurkan hobi, tapi sekaligus berharap mendapatkan pahala.

Buku yang sudah diterbitkan ada beberapa yang menginspirasi kalangan pemuda. Beberapa temannya juga tertarik menghasilkan sebuah karya. Tak jarang buku dari hasil pemikirannya dijadikan referensi mahasiswa.

Saat ini Thoriq terus menulis. Tidak hanya buku, dia juga menulis jurnal. Hasil penelitiannya sudah diterima di beberapa penguruan tinggi.

Kini, penulis muda ini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur, Jurusan Pendidikan Agama Islam. Meskipun sudah menjadi seorang penulis, menuntut ilmu pun tetap dia lakukan. Salut.

Apa Tanggapan Anda ?