BERPOSE. Kepala SMAN 1 Candimulyo (dua dari kiri) bersama guru pembina dan siswa peraih juara berpose bersama.

Inovasi Nasional Teknologi

Foto Zaman Now dan Laru Mengkudu Raih Peringkat Nasional

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Prestasi siswa-siswi SMAN 1 Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, patut diacungi jempol. Mereka mampu membawa nama harum sekolah ke jenjang tingkat nasional.

Dalam ajang lomba pada Peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke- 72 yang digelar Fakultas Teknik UGM, di kampus ternama tersebut mereka meraih juara.

Dalam gelaran yang mengusung tema `Technoday, Green and Sustainable Energy` itu pada lomba fotografi, Muhammad Rifqy meraih juara I. Untuk lomba karya ilmiah remaja (KIR), yang disusun Dita Nuraini Damayanti, Denny Aprilio Nugraha, dan Muhammad Rifqy meraih juara II.

“Atas raihan ini, kami bersyukur alhamdulillah. Kami akan terus memacu siswa-siswi untuk berkompetisi di ajang-ajang berikutnya,” kata kepala Sekolah Drs Rohmat Chozin M.Ag.

Untuk peraih fotografi bukan hanya Muhammad Rifqy. Tetapi, juga ada Meilia Intan Pratiwi (juara harapan I) dan Nafis Lulu Hidayah (juara harapan II). Ketiganya masuk lima besar.

“Lomba ini skala nasional. Mereka pertama kali mengirimkan foto lewat email. Pertama dikirim tanggal 12 Februari, lalu diumumkan pada tanggal 16 Februari. Dan final penilaian lima besar dilaksanakan 18 Februari di UGM. Untuk penilaian final lomba karya ilmiah juga dilaksanakan Minggu 18 Februari,” kata guru pembina siswa, Slamet Sumari M.Hum.

Jangan Terjebak Game di Android

Muhammad Rifqy dalam foto yang dilombakan mengambil objek anak yang bermain game di android. Lalu di belakangnya terdapat kumpulan anak yang bermain permainan tradisional. Ia menamainya “foto zaman now”.

Foto hasil jepretan Muhammad Rifqy yang dilombakan

“Pesan yang ingin saya sampaikan, bahwa bila anak bermain android, atau teknologi lainnya secara berlebih itu saya nilai kurang baik. Sebab, interaksi dengan teman sebaya tentu akan berkurang, jiwa sosial berkurang,” kata warga Mejing, Candimulyo, Kabupaten Magelang ini.

Baginya, lebih baik bila bermain game di android seperlunya saja.

“Jangan sampai kecanduan main game di android atau sejenisnya,” tandasnya.

Membuat Gula Jawa, Laru dari Mengkudu Lebih Aman Dibanding Deterjen

Sedangkan pokok bahasan yang diangkat dalam KIR tersebut terkait laru sebagai bahan campuran pembuatan gula jawa atau gula merah.

Laru atau jantu, digunakan sebagai bahan tambahan yang dicampur dengan nira kelapa sebagai bahan pembuat gula jawa. Dengan adanya laru ini, gula akan menjadi padat dan keras.

Dari tinjauan siswa di lapangan, masih ada perajin gula jawa yang larunya dari sabun deterjen. Dari sudut pandangnya, laru dari bahan tersebut cukup berdampak pada tubuh manusia.

“Ayah saya ketika mengonsumsi gula jawa yang larunya dari deterjen, kepalanya jadi pusing. Dugaan awal kami, penggunaan laru dari deterjen cukup berbahaya,” kata Dita Nuraini Damayanti, salah satu siswi penyusun karya tulis.

Judul yang disajikan yakni Pemanfaatan Buah Mengkudu sebagai Laru, untuk Menggantikan Laru Sabun Deterjen dalam Pembuatan Gula Merah yang Layak Dikonsumsi Masyarakat.

Ditambahkan Denny, sebagai pengganti deterjen atau sabun colek untuk dijadikan laru, yaitu buah mengkudu. Buah ini tidak berbahaya dan tidak terasa pahit setelah diproses.

“Buah mengkudunya dicuci, lalu dimasak, diblender. Lalu bisa dijadikan laru. Pernah ini kami berikan ke pembuat gula jawa. Hasilnya jauh lebih bagus,” kata penggagas tema penulisan tersebut.

Bila sudah menjadi gula jawa, susah dibedakan mana yang larunya dari deterjen dan mana larunya yang dari mengkudu. Tetapi semua itu bisa dirasakan.

“Kalau dikonsumsi, laru dari deterjen, rasanya seperti ada yang tertinggal di tenggorokan. Kalau yang dari mengkudu tidak,” ucap siswa kelas X ini.

Hasil perbandingan, dengan laru ukuran sama, misal sama-sama 10 cc setelah diuji di laboratorium yang menggunakan laru dari mengkudu akan lebih tahan lama. Sebab, kandungan airnya lebih sedikit.

“Yang dari mengkudu 3,79. Sedangkan yang dari deterjen 11,28,” tambahnya.

Untuk kadar deterjennya, yang dari mengkudu 0,0000, yang dari deterjen 0,0032. Kadar abu 1,89 (mengkudu), 2,21 (deterjen).

Karenanya, dari hasil penelitian ini, mereka merekomendasikan agar perajin gula jawa lebih memilih menggunakan laru dari mengkudu dibanding laru dari deterjen.

“Pakai mengkudu lebih sehat, lebih aman untuk dikonsumsi. Kami berharap perajin gula yang masih menggunakan laru dari deterjen bisa beralih ke mengkudu,” tandasnya.

Apa Tanggapan Anda ?