Tokoh

Luar Biasa, Kurang dari Setahun Dosen Unsyiah Ini Rilis 44 Buku

Siedoo, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr. Sulaiman Tripa, SH., MH merilis 44 buku secara serentak dalam berbagai judul buku dan genre. Ke-44 buku tersebut diluncurkan oleh Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng dalam acara khusus ‘Khanduri 44 Buku Baru Sulaiman Tripa’ di Balai Senat Unsyiah, Banda Aceh awal bulan ini.

Sulaiman mengatakan ke-44 buku yang diterbitkan bertepatan dengan miladnya ke-43. Sulaiman mempersiapkan naskah dari 44 buku tersebut kurang dari setahun sejak salah satu penerbit di Banda Aceh memintanya menyiapkan 43 naskah buku, tahun lalu.

Selain 44 buku tersebut, Sulaiman juga sudah menulis 33 buku sebelumnya, serta 37 buku bersama. Selebihnya ada 29 buku sebagai editor, 4 buku pendampingan, dan ada juga 37 buku antologi. Selain menulis, ia juga menjadi menyunting sekitar 29 buku dan mendampingi proses penulisan empat buku penulis pemula.

Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal mengungkapkan merasa bangga salah satu dosen Unsyiah menghasilkan 44 buku beragam tema hanya dalam waktu setahun.

“Ini sejarah luar biasa bagi Unsyiah. Salah satu akademisi kita, Sulaiman Tripa, mampu menulis 44 buku dalam satu tahun. Kalau kita mungkin perlu waktu satu tahun untuk membaca buku sebanyak itu,” kata Prof. Samsul Rizal dikutip laman unsyiah.ac.id.

Rektor berharap selain dapat menambah ilmu pembaca, kehadiran 44 buku secara serentak ini juga dapat menginspirasi para akademisi Unsyiah. Juga generasi muda Aceh untuk meningkatkan minat menulisnya.

“Menulis adalah salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi manusia, sehingga sesorang akan selalu diingat karena tulisannya,” ujarnya.

Prof. Samsul Rizal mengimbau para akademisi Unsyiah untuk aktif menulis buku, minimal satu buku satu tahun, di samping terus bergiat menulis jurnal internasional. Prof. Samsul Rizal berkomitmen akan memfasilitasi jika ada akademisi Unsyiah yang serius menulis, terutama menulis atau meneliti tentang Aceh.

“Hanya sedikit penulis dari Aceh yang menulis tentang Aceh. Bahkan, literatur Aceh banyak kita temukan di negara lain,” pungkasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?