Setelah melalui berbagai proses, mahasiswa akhirnya mampu menghasilkan mesin pengering padi berbasis elektrik otomasi dengan metode momen putar. Kreatifitas ini ditujukan khusus kepada para petani.

Daerah Featured

Kreatifitas Mahasiswa, Langkah Efektif Keringkan Padi


MAGELANG – Mahasiswa di Magelang, Jawa Tengah kembali menelurkan ide-ide kreatifitasnya. Kali ini, hasil kreatifitas mahasiswa ditujukan khusus kepada para petani. Mereka selama ini melepas hasil panen dan penghasilannya dinilai kurang maksimal.

Dengan demikian, kondisi ini mendorong mahasiswa untuk ikut memikirkannya. Setelah melalui perjalanan dan proses yang cukup panjang, akhirnya mampu menghasilkan Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (SIPEDI GEOGEMPAR). SIPEDI GEOGEMPAR merupakan alat pengering padi berdimensi panjang 160 cm, lebar 80 cm dan tinggi 130 cm yang memanfaatkan energi listrik dan kompor sebagai sumber pemanasan.

 

 

Mesin tersebut juga dilengkapi beberapa komponen yang dapat memberikan berbagai kemudahan pekerjaan. Antara lain, pengendalian suhu pengeringan secara otomatis melalui perangkat thermocontrol. Ada juga pemerataan pengeringan secara continue dan otomatis melalui blower dan sistem mekanik. Serta, drum silinder padi sebagai tempat pengeringan padi dengan kapasitas 100 kg. Pengeringan padi dengan alat ini mampu meningkatkan penghasilan para petani.

“Harga padi kering yang dihasilkan bisa dijual seharga Rp 8.000/kg, walaupun ada pengurangan berat pada saat proses penggilingan, penghasilan para petani tetap meningkat 35%,” kata Suranto Heri Prasetyo, salah satu mahasiswa yang mampu menghasilkan kreatifitas itu.

Heri tidak berjuang sendirian. Ia bersama Agus Musafa, Rizal Martovani Vauzi, Miftahul Rhama Yudha mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Tidar Magelang. Mereka mampu menciptakan SIPEDI GEOGEMPAR.

Karya ini berawal dari, pasca panen sebagian besar para petani dari Kelompok Tani Dumpoh, Kelurahan Potrobangsan, Kota Magelang, Jawa Tengah langsung menjual padi dalam keadaan basah. Kondisi ini menyebabkan penghasilan yang diperoleh tidak maksimal. Cuaca yang kurang menentu dan tenaga yang terbatas memaksa para petani melepas hasil panen padi dalam keadaan basah dengan kisaran harga Rp 4.000/kg.

Proses pengeringan metode konvensional memerlukan waktu 5 hari untuk 10 ton padi. Sedangkan menggunakan SIPEDI GEOGEMPAR, padi 10 ton bisa dikeringkan dalam waktu 1 hari. Penggunaan motor listrik dengan daya rendah, ukuran alat yang tidak terlalu besar, adanya gir pemutar dan pengatur suhu, menjadi keunggulan alat ini.

Hari menyampaikan, pengeringan bisa dilakukan sewaktu-waktu. Hasil pengeringannya pun dinilai memiliki kualitas yang lebih baik.

“Kadar air terkontrol dengan baik, yaitu 14-15% dengan warna kulit padi yang lebih cerah. Kondisi ini meminimalisir adanya padi yang busuk saat penyimpanan setelah dikeringkan,” jelas Heri.

Produk Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (SIPEDI GEOGEMPAR) merupakan Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Untidar. Karya ini lolos dan didanai Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) tahun 2017.

Apa Tanggapan Anda ?