Mahasiswa mempertahankan permainan tradisional. Anak-anak di Lereng Merapi tengah bermain dolanan ndeso.

Daerah

Mahasiswa Canangkan Kampung Dolanan di Lereng Merapi


MAGELANG – Anak-anak Lereng Merapi Dusun Tempel, Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang lebih mudah untuk menjalankan permainan tradisional alias dolanan ndeso. Ini setelah mahasiswa Kelompok 29 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang menggagas Kampung Dolanan di dusun tersebut.

Upaya mewujudkan Kampung Dolanan ini tidak lepas dari perkembangan teknologi yang begitu pesat. Hal itu dinilai mengancam eksistensi keneradaan dolanan ndeso. Anak-anak bisa saja lebih sering bermain dengan teknologi daripada dengan permainan tradisional.

Salah satu mahasiswa KKN Faridhotul Mafruroh menyatakan, Kampung Dolanan bisa terealisasi berkat dukungan masyarakat setempat. Ia pun berterima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan semua pihak yang sudah membantu mendukung demi terwujudnya Kampung Dolanan.

Adapun permainan yang ada di Kampung Dolanan terdiri dari berbagai jenis. Mulai dari permainan eggrang, boi-boian, bentengan, kelereng, dakon dan lainnya. Secara keseluruhan ada 18 jenis permainan.

“Anak-anak diarahkan untuk mencoba bermain dolanan ndeso. Hingga mengarahkan pemanfaatan teknologi informasi untuk hal positif,” katanya.

Pelouncingan dihadiri perwakilan dari pihak kecamatan, dengan disaksikan warga, pengurus dan anggota karang taruna, anak-anak, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan juga perwakilan dosen pembimbing. Ketua Kelompok 29 KKN Adib Ircham menilai, hanya gara-gara teknologi, seperti perkembangan internet, smartphone, game modern ia tak ingin dolanan ndeso punah.

Game modern lebih membentuk kepripadian anak yang cenderung tertutup. Sedangkan dolanan ndeso bisa mengasah kepribadian yang terbuka, lebih sosial. Karena ndolanan ndeso melibatkan anak-anak banyak, kalau game modern paling satu, dua anak,” jelas dia.

Mahasiswa yang mengikuti KKN di kelompok 29 yaitu Adib Ircham, Villa Novitasari, Retno Wulidal Fitri, Faridhotul Mafruroh, Audina Bella Laksmans, Isna Ibniawatk, Hasyim Anshari, Muhammad Fajrin Haqiqi, Evie Arum Retnaningtyas. Selain mencanangkan Kampung Dolanan, program yang dilakukan diantaranya pelatihan komputer, pembuatan tanaman hidropinik, pembuatan peta desa, bimbingan belajar.

Sementara itu, Kepala Dusun Tempel, Harto menyambut baik atas program dan bisa diwujudkannya kampung tersebut. Ia berharap, dengan adanya Kampung Dolanan, anak-anaknya bisa tercegah dari hal-hal yang berbau negatif.

“Kita berharap dolanan bisa mempererat rasa pertemanan dan kekeluargaan,” jelasnya.

Apa Tanggapan Anda ?