Daerah Inovasi

Mahasiswa Bantu Petani Sulap Sayur Jadi Barang Lebih Berharga

BOYOLALI –Hasil panen sayuran di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kecamatan/Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah kurang dimanfaatkan maksimal oleh petani setempat. Padahal jika dikembangkan secara lebih, bisa menjadi aneka variasi dari olahan sayur dan menjadi sesuatu yang berharga.

Hal ini mendorong enam mahasiswa Teknik Kimia Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta untuk mengolah hasil bumi di lereng Gunung Merapi tersebut. Mereka menyulap wortel, brokoli, sawi sendok, buncis, kubis, labu siam. Anekas sayuran ini diubah menjadi bahan baku utama makanan olahan berupa nugget sayur.

Keenam mahasiswa tersebut merupakan angkatan tahun 2015. Mereka adalah Annisa Alvi Ramadhani, Indri Cintya, Avincenna Mustika, Nafisah Istiqomah, Rafika Erniza Putri, dan Hana Safira. Mereka menjalani Progam Kerja saat Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Menurut Indri, pengolahan sayur menjadi nugget sayur untuk meningkatkan nilai jual hasil panen Desa Tlogolele. Mereka memberi sosialisasi di delapan dusun di desa yang jaraknya 3 kilometer dari puncak Merapi.

“Masyarakat di sini biasanya langsung menjual hasil panen sayur mereka,” katanya dilansir dari uii.ac.id.

Dari hal itu, pihaknya lalu menemukan ide untuk menjadikan hasil panen mereka memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Dengan mengolah sayur tersebut nantinya bisa dijual.

“Sehingga keuntungan yang diperoleh masyakarat menjadi lebih tinggi,” tambahnya.

Bahan-bahan pembuatan sama seperti nugget yang dijual di pasaran. Hanya saja, mereka tidak menggunakan bahan pengawet pada makanan olahan karena tidak baik untuk kesehatan. Selain itu, pembuatan nugget sayur ini terbilang sangat mudah karena hanya membutuhkan waktu 2 jam saja.

Selain dapat dijual kepasaran, nugget sayur dapat dijadikan lauk pauk rumahan. Karena itu, mereka mengadakan penyuluhan akan pentingnya mengonsumsi makanan yang berbahan baku sayur kepada anak-anak TPA.

“Sasaran program nugget sayur ini bukan hanya ke ibu-ibu PKK saja, namun juga ke anak-anak. Jadi, ibu-ibu pendapat pengetahuan tentang pengolahan sayurnya dan anak-anak mendapat pengetahuan tentang pentingnya mengonsumsi sayur,” paparnya.

Ke depannya, mereka berharap pembuatan nugget sayur dapat terus dilanjutkan ibu-ibu PKK. Dengan demikian, nantinya bisa jadikan peluang usaha.

“Kami berharap, nugget sayur menjadi peluang usaha. Karena pembuatannya yang sebentar dan mampu menghasilkan keuntungan yang banyak. Nugget sayur ini nanti bisa dijual di sekolah atau di pasar,” jelasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?