Tokoh

Simulasikan Konferensi PBB, Dua Mahasiswa ITS Raih Honorable Mention

SURABAYA - Beberapa perguruan tinggi mengikuti acara United Nations Security Council (UNSC) yang digelar di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Dalam kegiatan UNSC ini, setiap delegasi peserta ditantang untuk menyimulasikan konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pada kesempatan itu, perwakilan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur berhasil meraih gelar kehormatan (Honorable Mention).

Delegasi ITS diwakili Fadilah Muhammad Abdurrahman dan Zhafir Tri Setiabudi. Dalam helatan ini, tiap peserta ditantang untuk memerankan diri sebagai perwakilan suatu negara untuk bernegosiasi dan berdiskusi mengenai suatu topik.

“Topik yang disepakati saat itu adalah konflik antara Palestina dan Israel, dan tim kami berperan sebagai delegasi AS (Amerika Serikat),” kata Fadilah Muhammad Abdurrahman atau yang akrab disapa Rohman.

Untuk persiapan lomba, Rohman dan Zhafir mengaku membutuhkan waktu sekitar tiga minggu. Selain mempelajari kebijakan Amerika Serikat dan PBB, mereka juga perlu melakukan persiapan mental.

“Misalnya dengan latihan berbicara di depan umum,” jelas Rohman.

Bagi keduanya, berperan sebagai delegasi AS merupakan sebuah keuntungan. Sebagai anggota permanen UNSC, AS memiliki kekuatan lebih seperti hak veto. Namun, mereka juga menemukan beberapa kesulitan.

Hal terpenting dalam kompetisi ini, yaitu peserta harus berperan sebagai perwakilan negara, bukan sebagai diri sendiri. Sehingga, Rohman dan Zhafir tentunya harus mengesampingkan pandangan dan ego pribadi dan fokus menjadi delegasi Amerika.

“Kesulitannya, Amerika (AS, red) seringkali melakukan banyak hal yang tidak disenangi oleh hampir semua Negara. Misalnya memindahkan kedutaannya yang di Israel ke Yerussalem,” tutur Rohman.

Hal tersebut membuat hampir semua delegasi menentang setiap opini yang mereka kemukakan sebagai perwakilan Amerika Serikat. Alhasil, Rohman dan Zhafir harus memberikan effort lebih dalam melakukan negosiasi.

“Kami dituntut untuk kreatif dalam menyalurkan ide-ide yang disesuaikan dengan situasi dan kompromi peserta lainnya,” imbuh mahasiswa Departemen Teknik Kimia tersebut.

Ketika ditanya soal saingan terberatnya, dengan lantang Rohman menunjuk delegasi Kuwait. Kuwait berperan sebagai musuh bebuyutan Amerika dan Israel pada saat konferensi itu.

Sementara itu, menurut Zhafir kegiatan UNSC yang merupakan bagian dari MUN merupakan wadah untuk melatih softskill. Seperti berbicara di depan umum, negosiasi, dan juga etika berdiskusi.

“Sebuah keuntungan yang berguna tidak hanya di bangku perkuliahan, namun juga di dunia kerja kelak,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa seorang mahasiswa wajib melakukan pergerakan. Berprestasi dalam MUN (Model United Nation, red) merupakan bentuk pergerakan dari mahasiswa dengan mengaji ide-ide yang ada di PBB.

"Sehingga kami terdorong untuk menciptakan ide-ide baru yang lebih optimal dalam menyelesaikan permasalahan dunia,” urai mahasiswa Departemen Teknik Perkapalan ini.

Apa Tanggapan Anda ?