Ilustrasi. foto: dakwahtuna.com

Opini

Membumikan Pendidikan Tanpa Mengenal Status


Siedoo, Pendidikan adalah pintu gerbang untuk melihat dunia yang luas. Dengan mendidik bisa membawa seseorang untuk melangkah jauh dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berjalan.

Hal tersebut ditegaskan, Sarindan Harry Salomon Sinaga, Sekretaris Cabang GMKI Bogor masa bakti 2017-2018 sebagaimana ditulis serujambi.com.

“Pendidikan memberikan pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang berkekurangan menjadi mutiara yang terus bersinar,” tulisnya.

Ditandaskan, pendidikan tak mengenal batas. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa sampai tua bahkan harus terus dididik. Dalam arti keseluruhan pendidikan sangat penting bagi setiap manusia.

Dalam Negara Indonesia, pendidikan tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang bunyinya “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Fakta sejarah telah menunjukkan bahwa pendidikan begitu penting di Indonesia. Para bapak dan ibu pendiri bangsa melihat pendidikan adalah syarat menuju Indonesia yang makmur, adil, dan sejahtera.

“Indonesia yang memiliki keanekaragaman suku, ras, budaya yang sangat banyak. Perlu mengemas pendidikan dalam bingkai kebudayaan. Hal tersebut untuk memperkuat identitas bangsa, menunjukkan kekayaan budayanya,” jelasnya.

Namun sayang, belakangan ini paham-paham intoleransi dan radikalisme mulai masuk dalam kehidupan bermasyarakat, budaya-budaya lokal sudah mulai hilang, moral dan etika masyarakat mulai berkurang. Intoleransi yang terus dibina akan mengarah ke terorisme.

“Dalam lingkup sekolah, sudah jarang dilihat murid yang menggunakan bahasa daerah serta menunjukkan kebanggaan terhadap daerahnya. Terjadi kecenderungan budaya digunakan hanya pada kontes-kontes, pesta yang sifatnya seremonial,” tambahnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, maka sebagai orang Indonesia harus tahu akan tanggung jawabnya sebagai Warga Negara Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda harus memberikan ide dan gagasan baru dengan inovasi dan kreatif.

Sejarah telah menunjukkan bahwa pemuda sangat berperan dalam rangkaian merebut, memerdekakan, dan mempertahankan Negara.

“Itulah sebabnya generasi pemuda harus ditempatkan di garda terdepan sebagai pengawal dinamika kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, dan bermasyarakat,” tulisnya lebih lanjut.

Pemuda, dipaparkannya, memiliki semangat serta jaringan yang kuat. Sehingga, mampu untuk melakukan kunjungan-kunjungan dalam kampung, melihat kondisi sosial bermasyarakat. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan dengan membuat taman bacaan di setiap kelurahan, dengan mengendarai kendaraan membuat perpustakaan keliling.

Disinilah sebenarnya rasa bela berkorban (pengabdian) diterapkan. Mengabdi memberikan pemaknaan yang orang Ambon sering ucapkan “Ale Rasa Beta Rasa”.

“Ucapan tersebut menyiratkan bahwa pendidikan harus diberikan ke semua orang. Saya sudah mendapatkan pendidikan, maka kamu juga,” ucapnya.

Dalam budaya Maluku ada istilah Pela Gandong yang merupakan sebutan suatu ikatan persatuan dengan saling mengangkat saudara.

Memaknai “Pela Gandong” dalam dunia pendidikan yaitu dengan melihat bahwa pendidikan mampu mengangkat derajat orang. Dari yang tidak mampu menjadi mampu, kemudian dalam mendidik tak melulu hanya satu sumber ilmu. Semua unsur memiliki perannya masing-masing dalam mendidik (tolong-menolong) serta pendidikan mampu menjadi pemersatu dalam dunia yang beragam. Pela Gandong hanya salah satu budaya yang dapat dijadikan bahasa pemersatu pendidikan.

Dalam Batak ada “Dalihan Na Tolu”, Sunda dengan “Silih Asah Silih Asih, Silih Asuh”, Papua dengan budaya “Bakar Batu”. Itulah beberapa budaya yang bisa memperkuat dunia pendidikan di Indonesia.

Budaya dan pendidikan adalah dua bagian yang saling melengkapi. Mereka dapat berjalan berdampingan, namun bisa saling memperbaiki. Misalnya, dalam budaya Batak dahulu ada cerita rakyat mengenai Patung Sigale-Gale.

“Konon patung mampu bergerak dengan memanggil roh atau arwah Si Raja Manggale. Seiring berjalannya waktu, dengan masuknya pendidikan dan agama dalam kegiatan pesta atau upacara di Samosir, Patung Sigale-Gale di gerakkan dengan menggunakan tali. Dalam sekolah-sekolah sering melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih, hal tersebut apabila terus-menerus dilakukan akan melahirkan budaya sekolah yang mengajak murid dan mahasiswa untuk mencintai Negara Indonesia,” jelasnya.

Ditegaskan, membumikan pendidikan berarti menempatkan pendidikan harus diterima (hak) oleh setiap orang. Semua orang dapat menerima tanpa mengenal status sosial, umur, gender.

Pendidikan lingkup terkecil dilakukan dalam keluarga. Sosok ayah dan ibu harus berperan aktif dalam mengajarkan norma-norma kesopanan, nilai-nilai keagamaan, rasa saling tolong-menolong serta mengajarkan budaya.

“Keluarga menjadi pintu gerbang pertama memperkenalkan dunia dengan cara yang kreatif. Komunikasi dan interaksi harus terus-menerus diasah agar melatih anak untuk berbicara lancer terhadap sesame,” terangnya.

Pendidikan dalam konteks zaman now dapat dilaksanakan dengan mengedukasi masyarakat menggunakan internet. Menghubungkan yang jauh menjadi dekat. Melewati batasan-batasan yang menyekatkan pikiran. Saat ini sudah banyak buku-buku yang tidak di cetak dalam bentuk tumpukan kertas tetapi online (e-book).

Semakin memudahkan orang membaca dalam genggaman. Budaya dan pendidikan dalam penggunaan internet misalnya dengan membuat game online dengan mengangkat budaya lokal, lagu-lagu daerah hadir di Play Store / Apple Store. Namun penggunaan internet perlu juga diawasi, saat ini marak dengan situs-situs porno, cyber crime, hacking, menyadap transmisi data orang lain.

“Ditambah rasa ingin tahu manusia sangat tinggi dan cenderung apabila sudah terkena akibat baru bisa menolaknya,” tulisnya mengakhiri.

Apa Tanggapan Anda ?