Opini

Makna Pendidikan Karakter dalam Matematika

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

SiedooTUJUAN pembelajaran dalam paradigma baru pendidikan di Indonesia, bukan hanya untuk merubah perilaku siswa. Namun, salah satunya untuk membentuk karakter siswa. Fokus pembelajarannya adalah pada “mempelajari cara belajar” (learning how to learn), bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran.

Demikian dikatakan Guru Matematika SMA Negeri 1 Sungailiat Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ati Lasmanawati, M.Pd, sebagaimana ditulis Bangka Pos.

Karakter yang dimaksud adalah kemampuan siswa dalam berpikir untuk membedakan yang baik dan benar, mengalami emosi-emosi moral (bersalah, empati, sadar diri), melibatkan diri dalam tindakan-tindakan (berbagi, berderma, berbuat jujur).

“Termasuk, menyakini moralitas yang beradab dan bermartabat, dan menunjukkan kejujuran, kebaikan hati, dan tanggung jawab,” jelasnya.

Dijelaskan, matematika merupakan suatu ilmu yang membutuhkan pemikiran logis, rasional, kritis, jujur, efektif dan efisien. Proses pembelajaran matematika tidak akan pernah terlepas dari pengembangan nilai-nilai karakter siswa.

“Pembelajaran matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan nilai-nilai karakter. Bahkan, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran matematika memiliki peran yang besar dalam mewujudkan karakter siswa,” tandasnya.

Nilai karakter yang ada pada pembelajaran matematika, adalah jujur, disiplin, kreatif, komunikatif, tanggung jawab, rasa ingin tahu, mandiri dan kerja keras. Apabila siswa mampu menerapkan nilai-nilai karakter tersebut, maka matematika akan menjadi suatu pelajaran yang bermakna bagi kehidupannya.

“Karena itulah, pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya dimaksudkan untuk membekali siswa agar menguasai matematika dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, lebih dari itu, pembelajaran matematika juga dimaksudkan untuk menata nalar siswa dan membentuk kepribadiannya yang sesuai dengan nilai-nilai karakter mulia,” tegasnya.

Pembelajaran matematika hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak hanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dalam ranah pengetahuan. Tetapi, juga untuk mencapai tujuan dalam ranah sikap dan keterampilan.

“Pembelajaran matematika yang baik tidak hanya dimaksudkan untuk mencerdaskan siswa. Tetapi, juga dimaksudkan untuk menghasilkan siswa yang berkepribadian baik,” tuturnya.

Diharapkan, seorang guru matematika dapat merancang pembelajaran matematika sedemikian rupa. Sehingga, dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap dan kemampuan intelektualnya, dan produk dari pembelajaran matematika tampak pada pola pikir yang sistematis, kritis, kreatif, disiplin diri, dan pribadi yang konsisten.

“Pengaruh pembelajaran matematika yang dilakukan sebagian guru selama ini ternyata masih didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal. Tanpa ada dorongan untuk mengoptimalkan potensi diri siswa, mengembangkan penalaran maupun kreativitasnya. Lebih parahnya adalah adanya anggapan bahwa seolah-olah pembelajaran matematika lepas dari pengembangan kepribadian siswa,” lanjutnya.

Pembelajaran matematika dianggap hanya menekankan faktor pengetahuan saja. Padahal, kata dia, pengembangan kepribadian sebagai bagian dari kecakapan hidup merupakan tugas semua mata pelajaran di sekolah. Pembelajaran yang demikian menjauhkan siswa dari sifat kemanusiaannya.

“Siswa seolah-olah dipandang sebagai robot atau benda/alat yang dipersiapkan untuk mengerjakan atau menghasilkan sesuatu. Tidak peduli bentuk kepribadian apa yang berkembang dari diri seorang siswa,” tuturnya.

Ia berpendapat, proses pembelajaran matematika yang sebaiknya selalu dikembangkan seorang guru adalah dengan mengajak siswa aktif mencari, menyelidiki, merumuskan, membuktikan, mengaplikasikan apa yang dipelajari. Siswa juga mungkin melakukan kesalahan dan dapat belajar dari kesalahan tanpa takut untuk berbuat salah dengan melakukan ujicoba atau eksperimen.

“Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Guru menumbuhkan motivasi dalam diri siswa untuk mempelajari dan memahami matematika secara bermakna. Serta, memberikan dorongan dan fasilitas untuk belajar mandiri maupun kelompok,” tandasnya.

Dikatakan, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek pengetahuan saja. Tetapi, juga perlu adanya pengembangan nilai intuisi dan kreativitas siswa. Pembelajaran matematika yang dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi, akan membentuk nilai-nilai kemanusiaan dalam diri siswa.

“Selain memahami dan menguasai konsep matematika, siswa akan terlatih bekerja mandiri maupun bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, konsisten, berpikir logis, sistematis, menghargai pendapat, jujur, percaya diri, dan bertanggung jawab,” tambahnya.

Dijelaskan bahwa, model-model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar, tanpa disadari atau tidak menjadi saran untuk mengembangkan nilai-nilai karakter siswa. Melalui penggunaan model-model pembelajaranlah, seorang guru dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membantu dalam menyelesaikan masalah, membantu siswa melihat matematika sebagai studi terhadap pola-pola, termasuk aspek keindahan dan kreativitas.

“Dan membantu siswa mengembangkan sikap-sikap percaya diri, mandiri, penasaran (curiosity), rasa ingin tahu, suka menolong, pemecah masalah, kerja keras, tertantang, dan apresiatif,” lanjutnya.

Saat seorang guru memberikan tugas untuk diselesaikan di rumah (PR). Lalu siswa berusaha untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan tepat waktu dan benar-benar dikerjakan oleh siswa sendiri. Itu karena mereka memiliki rasa tanggung jawab, jujur, peduli dengan prestasi diri, menghargai gurunya serta komitmen terhadap kewajiban yang harus diselesaikan, merupakan salah satu bagian kecil yang ternyata bernilai sangat besar untuk membiasakan siswa memiliki karakter mulia.

“Melalui pengembangan nilai-nilai karakter dalam diri siswa khususnya melalui pelajaran matematika, diharapkan akan membuat siswa akan selalu berusaha untuk menghargai apapun yang mereka lakukan. Dan, selalu melakukan hal baik sebagai seorang siswa yang seharusnya mereka lakukan,” jelasnya.

Apa Tanggapan Anda ?