Opini

Berikut Kiat Mengajarkan Sikap Tenggang Rasa kepada Anak Sejak Dini

Siedoo, Ada sebuah kalimat bijak yang diucapkan Albert Einstein sebagai sebuah kata-kata Mutiara. Yaitu: “Peace cannot be kept by force. It can only be achieved by understanding.” Dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya: “Kedamaian tidak bisa dijaga dengan paksa. Itu hanya bisa dicapai dengan pemahaman.”

Semua orang berkeinginan hidup dalam kedamaian. Baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan dalam berbangsa dan bernegara. Pun demikian dengan anak-anak kita, mereka ingin hidup dengan penuh damai, suka cita, dan menikmati masa anak-anak yang penuh keceriaan dan pendidikan.

Kedamaian memang harus dicapai dengan pemahaman. Maka ada baiknya menanamkan sikap toleran atau tenggang rasa kepada anak-anak sejak dini. Dengan menumbuhkan sikap toleran, niscaya mereka akan dapat memahami arti kedamaian dan kelak mereka akan menjaga kedamaian di mana pun mereka berada.

Dalam mencapai kedamaian setiap individu harus memiliki sikap tenggang rasa. Sedangkan sikap tenggang rasa tidak bisa dimunculkan secara serta merta, harus ditumbuhkan kepada individu tersebut sejak masih usia dini.
Ada beberapa kiat untuk menumbuhkan sikap tenggang rasa pada anak usia dini. Kiat-kiat berikut dapat dicoba namun juga dikembangkan menurut kondisi keluarga dan lingkungan anak.

1. Anak Diajarkan Menyayangi Orang Lain

Sebagai orang tua, harus memahami bahwa pendidikan utama adalah keluarga. Kemudian diteruskan pendidikan formal di sekolah. Baru dikembangkan dengan pendidikan di lingkungan masyarakat.

Di lingkungan masyarakat inilah orang tua dapat mengajarkan anak untuk menyayangi orang lain. Hal ini penting, karena berbaur dengan orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita, tentu sangat mudah dilakukan. Tetapi, menerima orang lain yang 'berbeda' mungkin menjadi suatu tantangan tersendiri.

Padahal, memahami perbedaan merupakan kunci utama untuk menumbuhkan sikap toleransi pada anak. Banyak ‘perbedaan’ yang ada di lingkungan masyarakat sekitar kita yang harus dipahami anak. Orang tua dapat menanamkan sikap tenggang rasa atau toleransi dengan beberapa contoh teladan.

Misalnya menolong orang lain yang memerlukan. Sesekali ajaklah anak bersedekah ke panti-panti asuhan anak yatim-piatu, bersedekah kepada fakir miskin, atau dipahamkan untuk berteman dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

2. Mengajarkan Anak Memahami Diri Sendiri

Kita tahu bahwa tidak ada seorang pun yang tidak memiliki batasan bagi dirinya sendiri. Maka penting bagi orang tua untuk memahami sejauh mana batasan dan perbedaan yang sulit ditoleransi anak-anak kita.

Orang tua dapat membantu anak memahami kondisi tersebut. Agar mereka mampu menoleransinya. Ajarkan anak untuk tidak menolak suatu keterbatasan. Misalnya anak mudah menyerah ketika sulit membetulkan mainannya. Atau mereka merasa sulit membuang sampah dengan kedua tangannya, ajari dengan memakai wadah atau alat.

3. Ajarkan Anak Mengubah Pandangan Negatif

Kita memang tidak hidup di dunia dengan sikap toleransi yang sempurna. Banyak stereotip dan 'penghakiman' yang terbentuk di masyarakat. Untuk itu, orang tua harus berusaha keras untuk tidak berpartisipasi dalam lelucon yang menyudutkan orang lain karena perbedaan.

Orang tua harus membiasakan diri mengubah pandangan negatif terhadap keterbatasan atau kekurangan orang lain. Hal itu akan dicontoh oleh anak-anak kita. Sehingga perlu mengajarkan kepada anak bahwa kekurangan orang lain bukanlah hal yang buruk, namun harus ditanamkan bahwa setiap kekurangan, pasti ada kelebihan yang dimiliki.

Tanamkan kepada anak bahwa Tuhan menciptakan makhluk dengan kelebihan dan kekurangan, serta tidak ada manusia diciptakan dengan kesempurnaan.

4. Ajaklah Anak Mendekati Suatu ‘Perbedaan’

Mengajak anak mendekati suatu ’perbedaan’ dapat dengan berbagai cara. Cara paling mudah untuk mengajarkan kepada anak-anak mengenai perbedaan adalah mengajaknya melihat langsung di lingkungan sekitar. Dapat juga dengan mengunjungi perpustakaan atau toko buku.

Melalui buku, anak-anak dapat diajak menjelajah dunia dan mengenal beragam suku, ras, kebudayaan, serta lainnya. Hal ini akan membuatnya belajar untuk mengapresiasi dan respek terhadap perbedaan tersebut.

5. Tumbuhkan Kepercayaan Diri

Dengan semakin banyak mencontoh yang dilakukan orang tua dalam menyikapi dan memahami perbedaan, anak pun akan menjadi terbiasa. Sehingga tumbuh rasa percaya diri pada mereka. Jika anak memiliki kepercayaan diri yang baik, ia tidak akan 'terganggu' dengan perbedaan yang dimiliki orang lain.

Para ahli mengatakan, seorang anak yang merasa aman dengan diri sendiri, lebih nyaman untuk mengeksplorasi dan menerima perbedaan yang ada di sekitarnya.

Itulah beberapa kiat dalam mengembangkan toleransi atau tenggang rasa kepada anak untuk mencapai sebuah kedamaian. Ingat, memiliki rasa tenggang rasa yang kuat anak akan terbiasa mengamalkan Pancasila. Tepatnya sila ke-2 butir ke-4: ‘Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.’ (*)

Narwan Siedoo

Apa Tanggapan Anda ?