Opini

Penting, Memahami Perbedaan antara Pendidikan dan Pengajaran

Siedoo, Di awal pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), muncul beberapa pendapat dari beberapa pihak yang berkecimpung di dunia pendidikan. Mulai dari pemerhati, pengamat, praktisi, juga para ahli pendidikan.

Penulis tidak akan membahas siapa Mendikbudnya, namun hanya mengajak kepada semua, terutama para guru atau pembaca, yang sangat peduli dengan pendidikan di Indonesia. Di saat yang lain berkomentar dan berpendapat tentang Mendikbud yang baru, ada baiknya kita melakukan hal lain. Salah satunya mengingat kembali akan tujuan pendidikan nasional.

Tujuan Pendidikan Nasional Menurut UU dan Ahli Pendidikan

Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Sementara menurut Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara bahwa “Tujuan pendidikan adalah untuk mendidik anak agar menjadi manusia yang sempurna hidupnya, yaitu kehidupan dan penghidupan manusia yang selaras dengan alamnya (kodratnya) dan masyarakatnya.”

Melihat tujuan pendidikan di atas, jelas bahwa pendidikan lebih komprehensif dibanding dengan pengajaran. Sehingga para guru dapat memahami dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pendidikan dan pengajaran. Harus ditegaskan bahwa keduanya memiliki perbedaan.

Perbedaan antara Pengajaran dan Pendidikan

Pengajaran dan pendidikan merupakan dua perkara penting di dalam membina manusia. Keduanya memiliki perbedaan, namun banyak orang yang belum paham tentang kedua perkara ini.

Pengajaran, yang dalam bahasa Arab adalah ta’lim adalah khusus ditujukan pada akal. Karena itu, mudah dan lurus ke depan. Sedangkan pendidikan (tarbiah) adalah pembinaan manusia yang tidak saja melibatkan perkara fisik dan mental tetapi juga hati dan nafsu. Karena sesungguhnya yang dididik adalah hati dan nafsu.

Karena itu pendidikan lebih rumit dan susah. Maka sebaiknya kedua hal tersebut harus kita pahami benar dalam membina generasi muda. Keduanya diperlukan dalam pembinaan pribadi agar pandai, berbakti kepada Tuhan, dan menghormati sesama manusia.

Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Pengajaran bisa dilakukan oleh dosen, guru, ustadz yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada murid yang belajar. Hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan.

Sedangkan pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh dipahami dan dihayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak.

Mendidik Pastilah Mengajar

Pendidikan antara lain adalah memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Membersihkan hati manusia dari sifat-sifat keji (mazmumah) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah).

Pendidikan juga adalah mengembalikan hati nurani manusia kepada keadaan fitrah manusia yang suci dan bersih. Nafsu perlu dikendalikan supaya tidak cenderung melakukan tindak kejahatan dan maksiat, tetapi cenderung kepada kebaikan dan ibadah.

Pengajaran tanpa pendidikan akan menghasilkan masyarakat yang pandai tetapi rusak akhlaknya atau moralnya. Masyarakat akan maju di berbagai bidang, tetapi akan timbul hasrat dengki di mana-mana karena jiwa manusianya tidak hidup.

Hanya memiliki kepandaian saja, manusia akan menjadi individual, egois, tidak berkasih sayang, dan kemanusiaannya musnah.

Nah, guru itu melakukan pendidikan dan sekaligus pengajaran. Sehingga diharapkan mampu menghasilkan generasi muda yang pandai, cerdas, terampil, namun tetap bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.

Semoga ke depan, Indonesia tidak hanya mengedepankan pengajaran yang menghasilkan kecerdasan otak saja. Namun diiringi dengan kemajuan pendidikan yang di dalamnya mencakup proses pendidikan dan proses pengajaran. Sehingga ‘karakter Indonesia’ yang terkikis mampu tumbuh subur dan menjadi ciri bangsa Indonesia di mata dunia. (*)

Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Tempuran,

Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?