Opini

Memahami Peran Orang Tua dalam Pendidikan Karakter Anak, Berikut 6 Pointnya

Siedoo, Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak. Sehingga dalam lingkungan keluargalah watak dan kepribadian anak akan dibentuk yang sekaligus akan mempengaruhi perkembangannya di masa depan.

Bagi anak, orang tua merupakan figur atau contoh yang akan selalu ditiru oleh anak. Untuk itu, orang tua harus mampu memberi contoh yang baik pada anak-anaknya, memberi pengasuhan yang benar serta mencukupi kebutuhan-kebutuhannya dalam batasan yang wajar.

Anak-anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal apabila orang tua memainkan peranan yang benar dalam mendidik dan mengasuh anak. Demikian pula dengan karakter anak akan tumbuh dengan baik dengan campur tangan orang tua.

Anak-anak yang berkarakter tidak mudah larut oleh budaya buruk dari luar. Juga akan menjadi anak yang berkepribadian baik, dan mereka sebagai aset generasi penerus bangsa di masa depan.

Perhatian Lebih

Era globalisasi memang telah mengubah segalanya. Beratnya persaingan hidup telah menyebabkan orang lupa memperhatikan kebutuhan anak karena sibuk mencari nafkah. Sementara perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan budaya luar baik atau buruk mengalir bagitu derasnya.

Majunya informasi dan komunikasi beriringan denga kemajuan teknologi tentu membawa dampak signifikas dalam sendi-sendi kehidupan. Hal itu membawa dampak pula dalam pengawasan dan bimbingan kepada anak-anak. Oleh karena itu anak-anak harus mendapat perhatian lebih dari orang tua.

Sejak dini pada anak perlu ditanamkan nilai-nilai moral. Di mana nilai-nilai moral sebagai pengatur sikap dan perilaku individu dalam melakukan interaksi sosial di lingkungan keluarga, masyarakat maupun bangsa.

Pahami Tiga Teori Perkembangan

Orang tua harus memahami berbagai teori perkembangan dalam mendidik anak-anaknya. Paling tidak memahami tiga teori perkembangan yang diyakini menentukan hasil akhir pendidikan seorang anak.

Pertama, teori tabula rasa. Teori ini menyatakan bahwa hasil jadi seorang anak sangat ditentukan seperti apa dia dididik. Teori ini mengibaratkan anak sebagai kertas putih yang kosong, tergantung siapa yang menulis dan melukisnya.

Menulis dengan rapi atau dengan mencoret-coret bahkan diremas hingga kumal. Semua tergantung yang memegang kandali atas kertas putih tersebut.

Kedua, teori genotype. Teori tersebut menyatakan bahwa hasil akhir seorang anak sangat ditentukan oleh gen (sifat, karakter, biologis) orang tuanya. Teori ini menegaskan bahwa sifat dan karakter anak tidak akan jauh berbeda dengan orang tuanya.

Ketiga, teori gabungan yang menggabungkan dua teori terdahulu di atas ditambah dengan faktor mileu atau lingkungan. Teori ini disebut teori konvergen, dan banyak dipakai oleh para psikolog maupun pengembang pendidikan.

Teori ketiga ini meyakini bahwa hasil akhir seorang anak ditentukan oleh tiga hal: faktor orang tua, faktor pendidkan dan faktor lingkungan. Banyak faktor lingkungan yakni dengan siapa dia bergaul, bergaul, pengaruh orang-orang dekat, paling diyakini sangat efektif mempengaruhi perkembangan anak.

Anak adalah Pribadi Unik

Dalam membangun karakter anak dengan demikian dibutuhkan upaya serius dari berbagai pihak terutama keluarga untuk mengkondidikan ketiga faktor di atas agar kondusif untuk tumbuh kembang anak.

Pendidikan karakter pada anak harus siarahkan agar anak memiliki jiwa mandiri, bertanggung jawab dan mengenal sejak dini untuk dapat membedakan hal yang baik dan buruk, benar-salah, hak-batil, angkara murka-bijaksana, perilaku hewani dan manusiawi.

Anak adalah individu yang unik. Banyak yang mengatakan bahwa anak adalah miniatur dari orang dewasa. Padahal itu kurang tepat, sebab anak-anak itu betul-betul unik. Mereka belum banyak memiliki sejarah masa lalu, pengalaman mereka sangat terbatas.

Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya.

Harus disadari, tugas dan tanggung jawab orang tua antara lain:

1) sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang;

2) memelihara kesehatan anak ;

3) memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain;

4) menyekolahkan anak sesuai dengan keinginan anak;

5) memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar;

6) memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan usia anak. (*)

Narwan Siedoo

Apa Tanggapan Anda ?