Relief kisah burung pelatuk dan singa. (foto: kisahspiritualtaklekang zaman.wordpress.com)

Opini

Belajar Budi Pekerti dari Relief Candi Borobudur


Siedoo, Hingga hari ini Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah masih menjadi favorit tujuan wisata Indonesia maupun dunia. Bahkan sekolah-sekolah pun banyak mengagendakan program wisata ke candi terbesar di dunia ini.

Pada dinding Candi Borobudur terdapat relief yang bisa dilihat pada langkan (dinding pagar) tingkatan III dan IV bagian kedua candi (Rupadhatu). Relief ini disebut relief Jataka dan Avadana.

Jumlah relief Jataka-Avadana pada pagar langkan tingkat III bagian dalam sejumlah 500 panel dan 120 panel pada dinding tingkat III. Kemudian 100 panel lanjutan Jataka-Avadana terletak pada tingkat IV, sehingga total relief Jataka-Avadana adalah 720 panel.

Secara umum para pengunjung hanya takjub dengan mahakarya nenek moyang kita tersebut. Padahal banyak dipetik pelajaran dari karya seni berupa relief-relief candi yang terukir di sana.

Relief pada candi menjadi salah satu media yang digunakan seniman zaman dahulu untuk menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat. Antara lain berupa cerita yang mengandung nilai-nilai keagamaan, kepahlawanan, dan kasih sayang.

Salah satu relief cerita yang banyak mengandung pendidikan karakter adalah relief Jataka dan Avadana yang terpahat di Candi Borobudur itu. Karena karakter akan menjadikan manusia hidup dengan baik sesuai tugasnya di dunia ini. (Kusen, 1985)  

Relief Jataka yang terpahat di Candi Borobudur mengajarkan pada manusia untuk selalu berbuat baik pada semua makhluk, baik itu manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Ratusan  relief terpahat mengajarkan budi pekerti untuk generasi masa kini dan masa datang.

Salah satunya adalah relief yang mengisahkan tentang burung pelatuk dan seekor singa. Relief ini terletak di sisi selatan Candi Borobudur, pada tingkat I pagar langkan.

Kisah Burung Pelatuk Baik Hati

Relief menceritakan kisah seekor burung pelatuk yang baik hati, yang hidup di sebuah hutan. Burung pelatuk tersebut berbulu indah dan tidak mau menyakiti makhluk lainnya. Ia pun merasa cukup hanya makan bunga, daun, dan buah-buahan.

Pada suatu hari, burung pelatuk melihat seekor singa yang kesakitan karena sebatang tulang menyangkut di tenggorokannya. Burung pelatuk memerintahkan singa untuk membuka mulutnya lebar-lebar, dan dengan sebatang kayu yang diletakkan berdiri tegak di antara rahangnya.

Maka mulut singa dapat terbuka. Dengan paruhnya, burung pelatuk akhirnya dapat mengeluarkan tulang dari tenggorokan singa.

Suatu saat, burung pelatuk kelaparan dan kebetulan melihat singa yang dulu pernah ditolongnya sedang memakan daging rusa. Burung pelatuk memohon kepada singa agar diberi sekerat daging, tetapi singa tidak memberinya dan bahkan mengusir burung pelatuk.

Burung pelatuk pergi meninggalkan singa tersebut dan tidak menaruh dendam padanya. Konon, dikisahkan Dewa  menyarankan agar burung pelatuk mematuk mata singa tersebut agar menjadi buta, tetapi burung pelatuk tidak mau melakukannya. (Munandar, 2009).

Pendidikan budi pekerti yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahwa hendaklah menolong orang lain dilakukan dengan ikhlas, tanpa pamrih, dan tanpa mengharapkan balasan. Hal ini perlu ditanamkan di hati para generasi muda saat ini.

Seiring dengan perkembangan zaman, kehidupan kaum muda (remaja) saat ini sudah berbeda dengan remaja pada masa lalu. Pada saat ini, remaja banyak dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan iptek, sehingga terdapat perbedaan dalam perilaku yang timbul dari remaja tersebut.

Perubahan perilaku tersebut sangat memperihatinkan apabila dibiarkan akan tumbuh manusia yang memiliki sifat  yang tidak baik. Kondisi seperti itu sangat membahayakan bagi kelanjutan bangsa Indonesia di masa mendatang.

Oleh karena itu, pentingnya pendidikan karakter atau budi pekerti, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Agar menghasilkan generasi muda yang memiliki budi pekerti mulia dan berkarakter yang baik. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang