Opini

Pentingnya Ajarkan Toleransi Pada Anak di Tengah Pandemi

Siedoo, Pandemi Covid-19 ikut dirasakan negeri kita tercinta Indonesia ini. Seluruh lapisan masyarakat termasuk dunia pendidikan juga ikut merasakan dampak pandemi ini. Data yang ditunjukkan tempo.com (6/3/2020) bahwa “Pada 4 Maret, 22 negara di tiga benua yang berbeda telah mengumumkan atau menerapkan penutupan sekolah”.

Sekolah di Indonesia bahkan belum tahu akan dibuka kapan. Anak-anak disarankan untuk melaksanakan program Belajar di Rumah. Menjadi tugas bagi orang tua yang biasanya menitipkan anaknya di sekolah harus melakukan home schooling.

Meski dalam situasi demikian, toleransi penting diajarkan pada anak sejak usia dini. Banyak kasus intoleran mengatasnamakan suku, agama, ras dan antargolongan. Muqoyyidin mengungkapkan banyaknya konflik yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa bangsa ini belum memahami arti keragaman dan perbedaan (Andik Muqoyyidin, 2013).

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata toleran berarti bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya). Menjadi sederhana bila kita hanya melihat dari makna kata, namun akan menjadi hal yang penuh makna dan manfaat apabila direalisasikan dalam bentuk perbuatan.

Toleransi penting diajarkan pada anak karena anak kita kelak akan terjun ke masyarakat, dan sikap toleransi wajib hukumnya dalam hidup sebagai makhluk sosial.

Hal ini dikuatkan oleh  Erlewin (2010) yang menggarisbawahi toleransi sebagai sebuah prinsip untuk berperilaku lebih baik di masyarakat sosial. Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan kepercayaan, selama pihak lain tidak secara langsung menghalangi kesejahteraan diri sendiri atau orang lain. Dengan memiliki sikap toleransi masyarakat yang rukun dan tentram akan tercipta.

Faktor yang Mempengaruhi Toleransi

Ada sedikitnya empat faktor yang mempengaruhi toleransi, di antaranya adalah kepribadian, lingkunngan pendidikan, kontak antarkelompok dan prasangka sosial (Baron and Byrne, 2012). Dari keempat faktor tersebut menurut analisis penulis yang paling berpengaruh adalah faktor kepribadian dan lingkungan pendidikan.

Salah satu tipe kepribadian yang berpengaruh terhadap toleransi adalah tipe kepribadian extrovert; bersifat sosial, santai, aktif, dan cenderung optimis. Lingkungan pendidikan juga berpengaruh, Menurut teori belajar sosial, toleransi diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi (Bukhori, 2010), dan lingkungan tersebut adalah lingkungan dalam pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ajarkan Toleransi Melalui Model Inteligensi Kewarganegaraan

Model inteligensi kewarganegaraan adalah model pembelajaran baru yang penulis kembangkan. Model ini menekankan pada empat aspek kecerdaasan, yaitu kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan moral. Model ini menggunakan penilaian otentik dengan good citizen diary activity.

Model pembelajaran ini dapat dilakukan dari tingkat pra sekolah, sekolah dasar bahkan sampai tingkat SMA. Cara mengajarkanya dapat melalui contoh langsung yang dituangkan melalui buku harian (diary). Misalnya saat pandemi Corona ini ada sebuah kasus tentang penjaga portal desa yang kurang mampu bersimpati dan empati terhadap warga. Orang tua, atau pun guru dan masyarakat bisa mengambil foto dan menjelaskannya pada anak.

Kenapa penjaga itu tidak mampu bertoleransi? Oh, ternyata karena membiarkan warga sipil membuka terpal dan portal sendiri. Sedangkan penjaga portal hanya bercengkerama saja padahal tugas dia menjaga portal.

Orang tua atau pun guru bisa menjelaskan dengan contoh-contoh nyata yang ada di sekitar kita. Setelah itu orang tua dan guru mengajak anak menemukan solusi dan sikap toleransi dan perbuatan apa yang akan dilakukan. Setelah ketemu dicatat dan dilakukan. Protokol selama pandemi ini juga bisa diajarkan pada anak dengan metode ini. Anak akan melihat, mengamati dan mempraktikkan sikap toleransi terbaik yang bisa dilakukan.

Lingkungan pendidikan terbaik untuk mengajarkan toleransi adalah lingkungan pendidikan melalui keluarga dan sekolah. Ketika anak sudah terbiasa toleran dalam kehidupan sehari-hari, maka bukan hal mustahil kelak mereka akan menjadi warga negara yang baik dan bijak. Semoga! (*)

 

Rhindra Puspitasari, M.Pd
Dosen Pendidikan Pancasila Prodi PIAUD STAINU Temanggung
Mahasiswa S3 PPKn Universitas Pendidikan Indonesia
Apa Tanggapan Anda ?