Opini

Tanamkan Sifat Rasulullah dalam Membentuk Karakter Anak

Siedoo, Barbagai cara dalam membentuk karakter anak dapat dilakukan agar menjadi pribadi yang tangguh dan manusia berakhlakul karimah. Salah satunya dengan meneladani sifat-sifat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Orangtua dapat menanamkan sifat-sifat itu dengan diajarkan mencontoh perilaku Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam kehidupan sehari-hari. Meneladani perilaku Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berarti mencintai dan menghormatinya sebagai kekasih Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menanamkan keteladanan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepada anak mulai sejak usia dini supaya perilaku tersebut terbawa hingga usia remaja dan sampai tua. Sehingga perlu pembelajaran yang terus menerus dari orangtua kepada anaknya.

Sikap terpuji Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sangat banyak. Bahkan setiap perilakunya sehari-sehari memiliki suri tauladan yang mesti dicontoh. Perkataan dan perbuatan Rasulullah merupakan budi pekerti yang baik.

Di antara sifat terpuji Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang mesti kita ajarkan kepada anak-anak kita sejak dini yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fatonah.

  1. Shiddiq (Jujur)

Jujur adalah sikap menyatakan sesuatu sesuai dengan fakta. Kejujuran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sangat terkenal, tidak hanya diakui oleh para sahabatnya, bahkan diakui oleh musuhnya.

Beliau selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan benar. Anak-anak kita tanamkan juga seperti itu. Dalam situasi apapun, sifat kejujuran harus dimiliki, karena tanda anak hebat adalah jujur.

Jadi kita tidak boleh berbohong, karena berbohong sekali pun dapat menimbulkan kebohongan-kebohongan yang lain dan menyebabkan kita mendapatkan banyak dosa.

  1. Tabligh (Menyampaikan)

Sifat tabligh artinya menyampaikan, yaitu sifat wajib Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan seluruh ajaran yang diterima dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yaitu berupa wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia agar menjadi pedoman hidup.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan seluruh ajaran yang diterimanya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahkan sampai hal yang terkecil sekalipun. Sehingga umat manusia mempunyai pedoman dalam kehidupannya.

Salah satu contoh menerapkan sifat tabligh yaitu anak menyampaikan pesan yang ia dapat kepada orang yang berhak menerima dan tidak satupun, tidak tersampaikan ke si alamat.

  1. Amanah (Dapat Dipercaya)

Amanah merupakan sikap yang dapat dipercaya. Kita ajarkan kepada anak, apabila suatu urusan dipercayakan kepadanya, maka dia harus melaksanakan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Ketika kita berjanji kepada teman, orangtua, saudara, bahkan kepada musuh sekalipun, kita harus tetap menepati janji. Jika kita mengingkarinya berarti tidak dapat dipercaya. Sebagaimana meneladani Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang diberi amanah untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia.

Beliau melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya, mesti taruhan nyawa, jiwa, dan raga. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak gentar untuk menjalankan amanah itu.

  1. Fathonah (Cerdas)

Kita pahami betapa berat tugas yang diemban Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, sehingga beliau wajib memiliki sifat cerdas. Selain terkenal sebagai seorang yang cerdas dan pandai, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga terkenal sangat arif dan bijaksana. Dalam mengambil keputusan didasari dengan pertimbangan dan pemikiran matang.

Tugas orangtua sebagai pendidik harus mengondisikan agar anak rajin belajar, menjadi anak cerdas dan pandai. Termasuk di dalamnya mendampingi dan memfasilitasi berbagai kebutuhan penunjang belajar. Sehingga dengan meneladani sifat cerdas Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, nantinya anak dapat melewati berbagai rintangan dalam kehidapan sehari-harinya.

Keempat sifat dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang dipaparkan di atas, merupakan akhlak yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini, dalam membentuk karakternya. Hal itu sangat dibutuhkan, terlebih dalam situasi zaman sekarang, di mana pergaulan anak dan remaja sudah melewati batas kewajaran. (*)

 

 

*Redaksi Siedoo 

Apa Tanggapan Anda ?