Advertorial Daerah

Kepala SMPN 7 Kota Magelang Racik Brandmasnar untuk Pengembangan PPK

MAGELANG  - Pihak Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 7 Kota Magelang, Jawa Tengah berupaya menemukan suatu metode atau cara untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satunya membuat Strategi Brandmasnar yang terdiri branding, master dan kemitraan dengan mendatangkan narasumber.

“Lima karakter yang meliputi religius, nasionalisme, gotong royong, kemandirian dan integritas. Lima karakter itu harus tertanam di anak – anak, melalui tiga basis diantaranya basis kelas, basis budaya sekolah, dan basis kemitraan, dalam rangka menerapkan itu saya pakai strategi brandmasnar, ini ramuan saya sendiri,” kata Kepala SMP N 7 Magelang, Drs. Parjopo.

Dijelaskan, Strategi Brandmasnar yang merupakan hasil kerja kerasnya bisa menjadi model pengembangan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Hal tersebut dilakukan agar PPK membudaya, menancap dan terimplementasi di sekolah melalui tiga tahap.

Metode tersebut merupakan modifikasi dari regulasi yang sudah ada dan wujud Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari pelatihan PPK di Semarang (September). Pertama harus membuat branding sekolah, sebuah institusi kalau branding­-nya kuat akan membuat kebanggaan sendiri secara internal dan menjadi kebanggan pelanggan publik.

“Saya juga ingin internal kita juga bangga dengan sekolah kita melalui branding. Publik mengenal kita dengan branding tertentu dan akhirnya publik itu mempercayai kita, itu nomor satu,” tandasnya.

Pihak internal percaya dengan branding-nya dan orang luar mengenal, lalu dilanjutkan dengan master kegiatan.

Setiap kegiatan dirinya mengusahakan untuk membuat master, seperti ketika akan menerapkan PPK berbasis kelas, dirinya membuat perencanaan di kelas tersebut yang disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

“RPP-nya harus kita sisipi integrasikan dengan PPK dan setiap guru harus membuat master RPP itu di setiap mata pelajaran. Ketika guru membuat RPP berikutnya ya mengacu dengan master itu. Master ini nanti kedepan, baik itu perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi kegiatan, kita usahakan membuat master semua,” terangnya.

Sehingga nantinya akan ada master RPP ketika merencanakan pembelajaran, ketika ingin mengembangkan  gedung membuat master plan gedung dan ketika akan melakukan kegiatan apapun diusahakan membuat ada master yang bisa dicontoh.

“Karena kalau master ini sudah kita buat, kita hanya mengikuti master itu. Ketika master ini kita tinggalkan, penerus kita bisa pakai master itu lagi untuk kegiatan selanjutnya. Syukur master itu akan dibuat master yang lebih master lagi, tidak hanya contoh,” tuturnya.

Selama semester saat ini, dirinya mengaku mempunyai dua master diantaranya master RPP yang terintegrasi PPK dan master plan sekolah.

“Nanti kalau sudah kegiatan kita laksanakan syukur ada masternya, misalnya ketika pembelajaran sudah dilakukan diharapkan nantinya ada kumpulan best practice PPK setiap mata pelajaran kita dokumentasikan,” imbuhnya.

Selanjutnya dalam langkah kemitraan dengan narasumber inspiratif, mendatangkan orang – orang yang bisa menginspirasi religius, nasionalisme, gotong royong, kemandirian dan integritas.

Menurutnya, pendidikan karakter yang paling gampang bagi anak adalah meniru. Kalau anak – anak mempunyai tokoh atau figur yang bisa ditiru, hal inilah yang diharapkan ketika mendatangkan narasumber insipiratif.

Strategi tersebut sudah dipresentasikannya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang yang disaksikan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?