Ilustrasi. Beberapa siswa dari Kuala Lumpur International School, Malaysia, bermain Gobak Sodor bersama para siswa SD Negeri Mertoyudan 1 Kabupaten Magelang saat berkunjung ke sekolah itu beberapa waktu lalu.

Opini

Nilai-nilai Karakter dalam Permainan Gobak Sodor


Siedoo, BERBICARA tentang pendidikan karakter, perangkat hukum yang ada di Indonesia jelas menginginkan adanya hasil pendidikan yang berkarakter. Berbagai terobosan dan inovasi pendidikan digali, agar menemukan metode pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Hal itu dikuatkan dengan perangkat hukumnya. Mulai dari UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP Nomor 19 Tahun 2005  tentang Standar Pendidikan Nasional, Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan,  Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, Permendiknas  Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan, Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional 2010-2014, Renstra Kemendiknas Tahun 2010-2014, Renstra Direktorat Pembinaan SMP Tahun 2010-2014.

Lalu apa yang salah dalam sistem pendidikan kita. Sehingga begitu banyak nilai-nilai karakter luhur bangsa ini yang sudah dilupakan? Berbagai perilaku siswa, seperti: mencontek, tawuran atau pergaulan bebas terjadi di berbagi kalangan di Indonesia. Belum lagi data mengenai kekerasan di lingkungan sekolah yang menduduki peringkat kedua dalam penanganan kasus kekerasan pada anak.

Nenek moyang kita serius menciptakan permainan tradisional. Begitu banyak nilai karakter yang ada dalam permainan tradisonal Indonesia. Misalnya permainan Gobak Sodor.

Beberapa nilai karakter yang didapat dalam permainan gobak sodor antara lain:

Pertama, nilai yang berhubungan dengan diri sendiri. Dalam permainan ini melatih anak untuk berbuat jujur, yaitu jika berada dalam kelompok yang melintas mengakui jika tersentuh lawan atau melewati batas mati.

Kemudian jika berada dalam kelompok jaga garis, tidak berbuat curang dengan keluar dari garis penjagaan

Kedua, bertanggungjawab. Dengan melakukan tugas jaga garis dengan baik sesuai perannya masing-masing, sebagai anggota kelompok yang menjaga garis horizontal atau pun jaga garis vertikal.

Ketiga, disiplin. Anak-anak mematuhi ketentuan dan peraturan dalam permainan gobak sodor. Kedisiplinan dalam permainan ini melatih anak kelak akan selalu disiplin dan mantaati peraturan.

Keempat, kerja keras. Anak-anak berusaha keras menerobos garis-garis yang dijaga lawan untuk mendapatkan nilai dan kemenangan. Kerja keras ditunjukkan kelompok yang sedang jaga garis dengan berusaha mengejar anggota kelompok yang sedang melintas untuk menyentuhnya agar keadaan menjadi berbalik.

Kelima, bergaya hidup sehat. Sebagai anggota tim yang menjaga garis berlari mengejar lawan dan sebagai anggota kelompok yang melintas, harus menghindari sentuhan lawan merupakan kegiatan yang memerlukan tenaga sama seperti kegiatan berolahraga

Keenam, percaya diri. Ketika mulai bermain, anak-anak tidak pernah berpikir untuk kalah duluan. Mereka yakin terhadap kemampuannya untuk menang dan dengan berani menghadapi lawan dalam permainan Gobak Sodor itu.

Ketujuh, berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif. Gobak Sodor merangsang aktivitas berpikir, menentukan strategi untuk menerobos garis penjagaan lawan. Melihat situasi dan kondisi, mengambil kesempatan, mengecoh lawan dan memikirkan bagaimana cara memperoleh kemenangan tanpa tersentuh penjaga garis saat melintas.

Masih banyak lagi nilai karakter yang dapat digali dari permainan tradisional Gobak Sodor maupun permainan tradisional di seluruh Indonesia. Beragam bentuk permainan tradisional tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Baik yang dimainkan dengan kelompok kecil atau besar.

Sebagai generasi bangsa yang kaya budaya dan tradisi, sudah seharusnya kita  melestarikan permainan tradisional. Sebagai langkah awal membentuk karakter anak Indonesia yang takwa, cerdas, bertatakrama, dan bermartabat.

 

*Narwan, S.Pd Guru SD Negeri Jogomulyo, Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang, Jateng. 

Apa Tanggapan Anda ?