Pendidikan karakter. l foto : blogspot.com

Opini

Budaya Sekolah Mendukung Pendidikan Karakter Peserta Didik


Siedoo, Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah telah menjadi amanat konstitusi sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Tertuang dalam pasal 3 yang menyebutkan, Pendidikan Nasional berfungsi: “Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Pendidikan mempunyai tugas menumbuhkembangkan eksistensi manusia sebagai suatu keberadaan yang interaktif. Interaksi di sini bukan hanya interaksi dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam dan dunia, termasuk dengan Sang Pencipta alam semesta Allah SWT.

Kita memahami bahwa pendidikan tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan dari kebudayaan. Proses pendidikan adalah proses pembudayaan, dan proses pembudayaan adalah proses pendidikan.

Menafikan pendidikan dari proses pembudayaan merupakan proses alienasi dari hakekat manusia dan dengan demikian alienasi dari proses humanisasi. Alienasi proses pendidikan dari kebudayaan berarti menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam kehidupan manusia.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan diartikan sebagai daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran  intelektual) dan tubuh (fisik) anak. Ketiga hal tersebut, yaitu tumbuhnya budi pekerti, intelektual dan fisik anak tidak dapat dipisah-pisahkan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup. Yaitu kehidupan dan penghidupan anak-anak yang selaras dengan dunianya (Dewantara, 1977: 14-15)

Dengan demikian tujuan pendidikan sebenarnya bukan semata penguasaan pengetahuan, keterampilan teknikal saja, karena ini sekedar alat, atau perkakas. Tetapi tujuan pendidikan adalah bertumpu pada anak itu sendiri yang dapat berkembang mencapai sempurnanya hidup manusia, sehingga bisa memenuhi segala bentuk keperluan hidup lahir dan batin.

Ibarat suatu tanaman tujuan yang akan dicapai adalah bunganya, yang kelak akan menghasilkan buah. Demikian pula dalam pendidikan, bahwa buahnya pendidikan adalah matangnya jiwa, yang akan dapat mewujudkan hidup dan penghidupan yang sempurna dan memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungannya.

Budaya Berhadapan dengan Mainstream Global

Namun demikian, dalam prakteknya proses pendidikan harus berhadapan dengan mainstream global yang tidak bisa kita hindari, yaitu arus globalisasi. Globalisasi adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihadang oleh kekuatan apapun.

Demikian pula budaya yang dikembangkan di setiap sekolah pun menghadapi situasi yang sama. Sehingga perlu kearifan dalam menyikapi arus globalisasi. Peserta didik harus diarahkan dengan bijak tanpa meninggalkan teknologi informasi dengan segala kemajuannya.

Pada dasarnya globalisasi merupakan proses kemajuan yang melahirkan ketergantungan antarbangsa dan negara, yang ditandai oleh derasnya arus informasi, komunikasi, lalu lintas barang, jasa dan modal, bahkan tenaga kerja, secara bebas antarnegara. Globalisasi merupakan fenomena bagaikan pisau bermata dua; satu sisi memberi dampak positif, sedangkan sisi yang lain memberi dampak negatif.

Pada sisi positif, globalisasi menyebabkan terjadinya perluasan pasar yang berdampak terhadap kenaikan pendapatan suatu bangsa. Dalam bidang sosial politik, globalisasi membawa angin segar pada sistem dan tata pemerintahan yang cenderung memberi kebebasan dan kedaulatan kepada rakyat. Dalam bidang budaya, globalisasi menyebabkan interaksi antarbangsa yang semakin massif dan intens, sehingga arus pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan semakin terbuka.

Sementara sisi negatif dari globalisasi juga tidak kalah banyaknya. Di bidang ekonomi menyebabkan semakin menganga jurang antara kelompok kaya dan miskin. Dalam bidang sosial politik demokrasi cenderung mengarah pada demokrasi tanpa batas. Dalam bidang budaya, adanya globalisasi membawa dampak pada mudahnya warga masyarakat di negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia.

Mereka akan meniru budaya negara luar, dalam berbagai bentuk. Seperti, pola pergaulan, pola berpakaian, pola makan, dan berbagai pola perilaku lain yang pada gilirannya justru dapat merusak harkat, martabat dan jati diri bangsa itu sendiri.

Waspadai Persoalan Laten Internal

Selain ekses globalisasi di atas, masyarakat dan bangsa Indonesia juga dihadapkan pada persoalan laten internal. Di antaranya budaya korupsi pada semua lapisan mulai dari tukang parkir hingga bankir, dari rakyat hingga pejabat baik yang berpendidikan rendah sampai berpendidikan tinggi.

Persoalan laten lainnya adalah pemakaian kekerasan dalam memecahkan masalah, rendahnya disiplin, pengrusakan lingkungan, rasa permusuhan antarkelompok, antargolongan juga masih membayangi kelabunya wajah negeri tercinta ini.

Oleh karena itu, salah satu tawaran solusinya adalah melalui budaya sekolah yang mendukung pendidikan karakter di sekolah. Sehingga melestarikan kebudayaan di setiap sekolah sangat penting. Karena melalui budaya sekolah, peserta didik akan terbiasa dengan budaya sopan santun, toleransi, gotong-royong, jujur, disiplin, antikorupsi, dan sebaginya. Juga selalu meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (*)

Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Tempuran, Magelang

Apa Tanggapan Anda ?