Ilustrasi. Siswa sekolah dasar tengah berdiri memegang bendera Merah Putih di kawasan Gunung Sumbing.

Opini

Pendidikan Karakter Ala Pondok Pesantren


Siedoo.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyuarakan dengan kencang program penerapan Pendidikan Karakter di sekolah-sekolah. Tahun ini, ditargetkan 15.000 sekolah di Indonesia bisa menerapkan program pendidikan karakter, mulai dari siswa sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP). Mendikbud membuka pintu lebar-lebar, bagi sekolah yang ingin mengajukan diri menjadi model sekolah dengan pendidikan karakter.

Setidaknya, terdapat 18 nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Ke 18 nilai dalam pendidikan karakter yaitu,

1. Religius. Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras. Tindakan yang menunjukkan perilaku yang dikerjakan secara sungguh-sungguh.

6. Kreatif. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air. Mampu menghargai para jasa pahlawan nasional terdahulu yang sudah gugur. Sehingga dapat memahami apa yang dicita-citakan para pahlawan demi bangsa Indonesia.

12. Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif. Tindakan yang mendorong dirinya untuk berbuat nyaman untuk orang lain. Bisa menjalin komunikasi dengan baik dan secara berkelanjutan tanpa merugikan lawan bicara.

14. Cinta Damai. Berupaya untuk bersikap dengan mengedepankan rasa kenyamanan bagi dirinya dan orang lain.

15. Gemar Membaca. Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Mendikbud, program ini sebenarnya sama dengan model Full Day School. Namun, bagi sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013, akan diberi tambahan bobot yang lebih tinggi, yaitu 70 persen dalam aspek pendidikan karakter. Siswa akan pulang sekitar pukul 16.00 WIB, dan program ini sejalan dengan program guru wajib berada di sekolah selama delapan jam per hari.

“Jadi nanti K13 itu akan diberikan tambahan, diberi bobot yang lebih tinggi yaitu 70 persen dalam aspek pendidikan karakter,” kata Muhadjir Effendy saat berkunjung di Kompleks SMK Muhammadiyah 1 Salam, Kabupaten Magelang, awal Februari silam.

Muhadjir menyebutkan ada beberapa kabupaten / kota di Indonesia yang secara sukarela mengajukan untuk melaksanakan program tersebut. Bagi yang melaksanakan program tersebut, ada yang dijadikan pilot project dari Pemerintah Pusat. Tetapi, nanti juga inisiatif dari masing-masing daerah.

“Untuk pembenahan, sekolah-sekolah mengacu pada sistem penggunaan sekolah yang berbasis karakter tersebut. Sementara, bagi sekolah yang akan melaksanakan program tersebut, terdapat penilaian kelayakan sekolah,” katanya.

Namun demikian, nilai-nilai pendidikan karakter berdasarkan uraian penulis diatas, sebenarnya sudah diterapkan lembaga pendidikan pondok pesantren sejak berpuluh-puluh tahun. Bayangkan, dari 18 nilai pendidikan karakter tersebut, sebagian besar sudah diterapkan para santriwan maupun santriwati. Sistem pendidikan di ponpes, secara tidak langsung mengajarkan santri menerapkan 18 nilai pendidikan karakter tersebut.

Sebut saja, nilai yang pertama yaitu terkait dengan religiusitas. Para santri hampir pasti selalu diajarkan bagaimana tentang pengertian pandangan-pandangan keagamaan di ponpesnya. Pengasuh ponpes mengajarkan bagaimana menyikapi persoalan yang muncul di kalangan santri, dengan sikap yang disesuaikan dengan ajaran agama, khususnya ajaran Islam. Jadi, nilai religiusitas ini sebenarnya sudah tertanam pada diri santri sejak awal ia mondok.

Kedua soal nilai kejujuran. Di ponpes, para santri sehari-hari hidup berdampingan dengan santri yang lain. Mereka datang dari berbagai tempat dan terdiri dari berbagai macam latar belakang. Bisa diyakini, awal mula menjadi santri, mereka tidak saling mengenal.

Dengan kondisi itu, bahkan para santri rela hidup satu kamar. Setiap kamar, bisa diisi 5-10 santri, tergantung luas kamar ponpes. Dari situlah, mereka belajar arti tentang kejujuran. Dari awal tidak saling mengenal, namun mereka percaya untuk menaruh barang berharga dalam satu kamar.

Meskipun ada rasa was-was ketika menaruh dalam satu ruangan yang isinya orang belum begitu kenal. Dari situlah muncul sikap jujur, tidak mengambil atau meminjam barang milik teman, tanpa seizin terlebih dahulu. Perlahan, dari sikap saling jujur antar santri ini, muncul rasa saling percaya.

Yang ketiga soal sikap toleransi. Bagaimanapun, antar santri belum tentu kenal semuanya. Ada santri yang lahir dari kalangan ekonomi menengah ke atas, ada juga dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Ada juga santri dari suku tertentu, dengan model bicara yang berbeda. Namun demikian, mereka diajarkan untuk saling menghargai dan menghormati.

Dari situlah, muncul sikap toleransi sederhana untuk saling memberikan penghormatan. Mulai dari perbedaan gaya bicara, perbedaan pendapat dan lainnya. Tidak terasa, sikap toleransi muncul diantara santri dari suku tertentu dan tidak mempedulikan santri yang sikapnya yang bagaimana. Seiring berjalannya waktu aktivitas bersama di lingkungan ponpes, mereka bisa hidup guyub rukun.

Berikutnya, nilai disiplin untuk membentuk pendidikan karakter pada siswa sekolah. Di kalangan santri, tindakan disiplin ini merupakan menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Pengasuh ponpes, mengajak para santri untuk selalu bangun pagi.

Mereka secara bersama-sama menunaikan kewajiban shalat subuh berjamaah. Tanpa unsur paksaan, para santri diajarkan untuk bangun pagi buta demi menunaikan ibadah fardlu. Rutinitas pagi ini menggiring kalangan santri untuk selalu bersikap disiplin. Tanpa sadar, setelah keluar dari ponpes pun, santri sudah terbiasa bangun pagi untuk menerapkan kedisiplinannya.

Tidak kalah pentingnya, nilai mandiri menuju pendidikan karakter yang berlaku di lingkungan ponpes. Para santri, yang notabene jauh dari anggota keluarganya, harus menyiapkan dirinya sendiri untuk beraktivitas sehari-hari. Mulai dari sebelum berangkat sekolah, hingga menyiapkan pakaian bersih yang dikenakan.

Para santri harus menyiapkan seragam sekolahnya sendiri. Mereka mencuci seragamnya sendiri dan mempersiapkannya secara sendiri. Kemandirian dalam bertindak ini lah, memunculkan sikap santri tidak bergantung penuh terhadap orang lain. Termasuk tergantung terhadap orang tua sekalipun. Mereka akan terbiasa hidup mandiri, tanpa bergantung ke santri lainnya.

Adapun nilai bersahabat atau komunikatif untuk pendidikan karakter, santri sudah menerapkannya setiap hari di ponpes. Sikap yang memunculkan rasa nyaman bagi santri lainnya. Termasuk bagi masyarakat sekitar di lingkungan ponpes. Pola komunikatif ini diterapkan ketika menjalin kontak dengan santri lain.

Obrolan ringan antar santri ini, kemudian memberikan dampak rasa nyaman diantara santri. Hingga kemudian ada rasa hangat, persahabatan yang dirasakan pada diri santri. Nilai-nilai pendidikan karakter itu lah, yang kemudian sudah diterapkan para santri di kalangan ponpes.

Maka dari itu, tidak berlebihan jika penulis menyarankan kepada generasi penerus bangsa ini, untuk mendukung penuh penerapan nilai-nilai pendidikan karakter yang digembor-gemborkan Mendikbud. Salah satu caranya dengan mengikuti sistem pendidikan di ponpes manapun. Karena nilai yang diajarkan di kalangan ponpes, linier dengan nilai-nilai untuk terealisasinya pendidikan karakter secara nasional.

*Tulisan ini juga sudah ditayangkan di Majalah Al Akhbar Al Imania edisi pertama. Penulis, Ketua Umum HMI Cabang Magelang, Badko Jateng – DIY periode 2015/2016 Adi DP.

Apa Tanggapan Anda ?