Ilustrasi. sumber: gunungmaskab.go.id

Nasional

Sejarah Singkat Hari Santri, Berikut Pesan Presiden hingga Panglima Santri


Siedoo, Mendengar kata santri, lantas pikiran kita tertuju pada seseorang yang menimba ilmu pengetahuan agama di pondok pesantren. Mereka biasanya berbaju koko dan sarungan.

Menilik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri memiliki arti orang yang mendalami agam Islam, atau orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh.

Lalu apa kaitannya 22 Oktober dengan Hari Santri Nasional (HSN)?

Begini, kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak lepas dari peran dan semangat yang ditunjukkan kaum santri.

Pada tanggal 22 Oktober 1945 ada peristiwa penting sejarah, peristiwah berdarah-darah ketika bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya.

Saat itu ada deklarasi Resolusi Jihad yang dilakukan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di Surabaya, Jawa Timur.

KH Hasyim Asy’ari menyerukan kepada para santrinya ikut berjuang untuk mencegah tentara Belanda kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Lantas ia menyerukan kepada santrinya bahwa perjuangan membela Tanah Air merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.

Seruan jihad yang dikobarkan KH Hasyim Asy'ari ini membakar semangat para santri di kawasan Surabaya dan sekitarnya. Mereka kemudian bergabung dengan tentara Indonesia untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Serangan ini terjadi selama tiga hari berturut-turut, yaitu dari tanggal 27 hingga 29 Oktober 1945. Jenderal Mallaby pun tewas keesokan harinya pada 30 Oktober 1945.

Saat itu mobil yang ditumpanginya terkena ledakan bom dari para pejuang Tanah Air di kawasan Jembatan Merah, Surabaya. Kematian Mallaby pun menyulut pertempuran berdarah lainnya di kota Surabaya, yakni Pertempuran 10 November 1945.

Penetapan Hari Santri Nasional

Guna menghargai Resolusi Jihad tersebut, kemudian Presiden RI, Joko Widodo pada tahun 2015 lalu melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015 menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai HSN di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis 21 Oktober 2015.

Jaga Kesatuan NKRI

Lalu apa kata Presiden di moment HSN tahun 2018? Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), melansir dari tempo.co, santri memiliki tradisi menghormati dan menghargai hubungan sesama manusia serta menjunjung hubungan dengan Tuhan.

Tradisi itu sangat dibutuhkan untuk menjaga persatuan di negara yang memiliki beragam perbedaan.

“Ini perlu saya ingatkan terus karena kita sering lupa kalau kita saudara sebangsa-setanah air,” ujarnya.

Jokowi berharap tradisi kesantrian membuat perbedaan yang ada tak menimbulkan perpecahan. Jokowi mengingatkan para santri bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah rumahnya sendiri. Ia menginginkan para santri menjaga rumah tersebut dengan baik.

“NKRI adalah rumah sendiri yang perlu terus dirawat dan dijaga. Siapa yang jaga, salah satunya adalah para santri,” kata Jokowi.

Santri Ditekan Berpartisipasi Aktif

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan perayaan Hari Santri bukan sekadar pengakuan terhadap para santri, tapi juga pengingat tujuan negara agar pesantren bertransformasi.

Menurut dia, pesantren perlu menjadi lembaga yang kredibel sebagai sumber pengetahuan agama dan berbangsa. “Hari Santri menjadi prasasti untuk menegakkan bernegara sama pentingnya dengan beragama,” tuturnya.

Lukman berharap para santri bisa menyebarkan ilmu dan perilaku dengan karakter yang bijak, moderat, toleran, dan cinta tanah air untuk menghadapi persoalan seperti hoaks, ujaran kebencian, dan terorisme.

“Para santri harus semakin kuat bersuara dan aktif memberikan perdamaian,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar para santri mau membantu menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan dan pandangan.

Harus Melek Teknologi

Panglima Santri, Muhaimin Iskandar berharap acara peringatan HSN bukan sekedar peringatan saja. Namun harus ditindaklanjuti dengan kesiapan kualitas agar bisa berkiprah dalam dunia profesional, memimpin masyarakat, negara, pemerintahan, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Kaum santri harus masuk di dalam dan berjuang mengisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Muhaimin yang juga wakil MPR RI ini.

Apa Tanggapan Anda ?