Tokoh

Kisah Haru Lilis Jebolan UM Magelang, Penerima Bidikmisi yang Kini Menyandang CPNS

Siedoo, Hidup dari keluarga yang kurang mampu tidaklah menjadi alasan utama untuk tidak menempuh dunia pendidikan tinggi. Justru semangat harus dibangkitkan guna memperbaiki hidup kearah yang lebih baik.

Setidaknya gambaran itulah yang selalu membuat Lilis Dyan Tika tak pernah patah arang untuk bisa mengenyam bangku perkuliahan. Simak penuturannya, yang penuh haru biru.

Keluarganya benar-benar tidak mendukung. Melihat kondisi kehidupan ekonominya. Secara logika tidak mungkin bisa melanjutkan kuliah. Sebab, Lilis terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Susanto, seorang buruh sopir angkutan. Ibunya, Hindun Zuliyati, hanyalah ibu rumah tangga.

“Jangankan untuk biaya kuliah, bisa hidup berkecukupan tiap hari saja, keluarga kami sudah sangat bersyukur,” ucap Lilis, mengawali ceritanya.

Meski kondisi demikian, Lilis tetap punya mimpi besar. Mimpi sebagai anak desa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernah suatu ketika, ayahnya marah besar, begitu mendengar keinginannya untuk kuliah.

“Saya ingat kata-katanya waktu itu, Lis, sadarlah! Cobalah memahami keadaan orang tuamu. Kamu harus paham bahwa kamu berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bagaimana bapakmu ini bisa membiayai kuliahmu? Katakan dengan cara apa? Kalau bapak jual semua harta yang kita punya sekalipun, tidak akan mampu membiayai kuliahmu sampai kamu jadi sarjana. Mengertilah!” kenang Lilis atas perkatan ayahnya yang menyayat hati itu.

Mendengar perkataan tersebut, Lilis hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, sedihnya bukan main. Terlebih menurut ayahnya, orang sukses itu, tidak semua berasal dari bangku perkuliahan.

Dalam hati Lilis tetap bergejolak. Lilis tetap bertekad untuk kuliah. Lilis berseberangan dengan pendapat ayahnya, melawan dalam hatinya. Berontak!

Lilis bahkan merasa seperti anak yang durhaka kepada orang tua. Semua penjelasan yang muncul dari mulutnya, tidak bisa melunturkan tekadnya untuk melanjutkan kuliah. Lilis lantas terus berdoa kepada Allah SWT, agar diberi jalan untuk bisa kuliah.

“Semakin banyak aku berdoa kepada Allah SWT, semakin kuat pula keinginanku untuk berkuliah. Hampir setiap hari di bulan Mei-Juli keluarga kami selalu berdebat mengenai hal yang sama, yaitu keinginanku untuk berkuliah,” lanjutnya.

Tekad sudah bulat, tanpa bekal apapun Lilis suatu hari memberanikan diri untuk masuk ke Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang, Jawa Tengah. Universitas yang memiliki dua kampus tersebut menawarkan solusi terbaik baginya.

Lilis datang memasuki gedung Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UM Magelang dengan diantar ibunya. Saat itu Lilis bertemu dengan seorang staf PMB yang ramah dan santun melayani. UM Magelang menawarkan beasiswa Bidikmisi kepadanya.

“Tanpa pikir panjang aku menerimanya,” aku perempuan berjilbab asal Candimulyo, Magelang.

Saat itu ada sepuluh program studi yang ditawarkan di UM Magelang, S-1 Akuntansi, S-1 Manajemen, S-1 Ilmu Hukum, S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), S-1 Pendidikan Guru PAUD, S-1 Bimbingan dan Konseling, S-1 Teknik Industri, S-1 Teknik Informatika, D3 Teknik Informatika, dan D3 Mesin Otomotif.

Lilis memilih jurusan S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), yang menurutnya memiliki peluang kerja bagus.

Beasiswa Bidikmisi merupakan beasiswa yang diberikan pemerintah kepada calon mahasiswa yang tidak mampu, namun memiliki kemampuan akademik bagus, dan berkeinginan yang tinggi untuk meneruskan kuliah.

Tahun 2014 adalah tahun pertama UM Magelang menerima Bidikmisi. Jumlah kuotanya saat itu hanya empat orang.

“Dan alhamdulillah aku adalah orang yang beruntung menjadi salah satu dari empat orang yang menerima beasiswa Bidikmisi,” cerita alumnus SMAN 1 Candimulyo ini.

Baginya, menjadi mahasiswa adalah saat-saat terindah yang pernah dijalaninya. Selama delapan semester menjadi mahasiswa, Lilis berusaha menikmati setiap saat momen itu. Menjalani perkuliahan, bertemu dosen, mengerjakan tugas dan bertemu dengan mahasiswa lainnya.

“Persis seperti angan-anganku tentang seorang mahasiswa. Dalam hati, aku selalu bersyukur kepada Allah SWT yang tiada henti-hentinya karena bisa menjadi seorang mahasiswa,” ucap syukurnya.

Di kampus, Lilis tergolong menjadi aktivis. Lilis mengikuti banyak sekali kegiatan, mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Hal ini dilakukan agar Lilis bisa menyerap ilmu semaksimal mungkin di UM Magelang.

“Berbagai kegiatan aku ikuti mulai dari membuat sebuah seminar, bedah buku, diskusi, buletin, bahkan majalah. Bahkan tak jarang aku juga mengikuti demo seperti layaknya mahasiswa,” kata Lilis yang pernah gabung di UKM Pers Tidar 21.

Kehidupan di kampus benar-benar ia rasakan. Walaupun sibuk sebagai aktivis, Lilis tetap aktif dalam bidang akademik. Hal tersebut kubuktikan dengan nilai IPK saat kelulusan yang mencapai 3,88. Selama kuliah ia juga tidak melewatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai perlombaan, seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lomba essay, dan lomba debat.

Selama menjadi mahasiswa Lilis mendapatkan uang saku dari Bidikmisi sebesar Rp 650.000/bulan. Biaya kuliahnya termasuk kunjungan lapangan ke Bali, Kuliah Kerja Nyata (KKN) sampai wisuda adalah nol rupiah. Menurutnya, biaya hidup di Magelang murah, nyaman dan dekat dengan tempat tinggal membuatnya mampu mengelola uang saku dengan baik.

Dengan sedikit trik hemat ala anak ekonomi, Lilis mampu menyisihkan uang saku Bidikmisi tiap bulan untuk membeli laptop dan berbagai keperluan kuliah lainnya. Untuk membantu kebutuhan keluarga dan mencukupi kebutuhan pribadi di luar kuliah. Lilis juga mengajar Baca Tulis Al-Quran (BTA) di SD Muhammadiyah 1 Alternatif (Mutual) Kota Magelang.

Semester enam, Lilis bergabung dengan Biro Marketing dan Kerjasama (BMKs) UM Magelang. Hal ini bisa membuatnya semakin mandiri, membiayai semua keperluan kuliah sendiri tanpa bantuan orang tua.

“Seperti kata filosofi terkenal, hidup ini seperti dua sisi mata uang, ada cerita bahagia, ada juga cerita sedihnya,” tandasnya.

Di kampus, Lilis juga merasakan suka duka selama kuliah, yang menurutnya bisa mendewasakan kehidupannya. Bahagia karena akhirnya mendapat kesempatan untuk berkuliah. Sedih karena banyak komentar negatif yang muncul di masyarakat.

Diakui Lilis, sering kali keluargaku direndahkan, dan ditertawakan karena keputusanku untuk berkuliah.

“Anak seorang buruh kok belagu,, palingan nanti kuliahnya putus di jalan, buat makan aja susah, mau sok-sokan kuliah?.”

“Cah wedok (anak perempuan) kok kuliah tinggi-tinggi, nantinya juga cuma mengasuh anak di rumah.”

“Kuliah kok hanya di swasta, di Magelang lagi, paling nanti lulus kuliah cuma jadi pengangguran.”

“Dan banyak lagi perkataan orang-orang yang menertawakanku saat melihat aku kuliah. Namun aku tak patah arang, hal itu justru menjadi cambuk semangat dalam diriku untuk bersemangat kuliah,” tekadnya kuat menjurus tinggi ke langit.

Diwisuda Predikat Cumlaude dan Menjadi CPNS

Hari Sabtu, 20 Oktober 2018 di Gedung Jendral AH Nasution Magelang, Lilis resmi diwisuda dan melepas status mahasiswa. Tepat empat tahun lamanya ia menyelesaikan kuliah dan mendapat predikat cumlaude dengan IPK 3,88.

Kebahagiannya semakin sempurna, ketika Minggu, 21 Oktober 2018 dia dinyatakan lolos administrasi pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018. Hal ini merupakan berkah luar biasa dari Allah SWT karena Lilis mendaftar CPNS hanya berbekal Surat Keterangan Lulus (SKL).

Awalnya Lilis sudah putus asa, karena ada pengumuman resmi dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) bahwa pendaftaran CPNS harus menggunakan ijazah, tidak boleh menggunakan SKL.

Namun keputusan itu berubah. Lilis menjadi semangat. Info yang beredar dari 600 instansi yang membuka formasi CPNS, ada satu instansi yang mengizinkan menggunakan SKL. Yaitu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Setelah melalui beberapa rangkaian tes seleksi CPNS akhirnya, Rabu 9 Januari 2019, Lilis dinyatakan lolos seleksi dari 8 juta jumlah pelamar CPNS. Lilis diterima sebagai Auditor Ahli Pertama di BPOM RI.

“Rasa syukurku semakin tak terhingga ketika tahu bahwa nilai seleksi ku yang cukup tinggi membuatku layak ditempatkan di instansi Pusat BPOM RI, yaitu Jakarta Pusat,” katanya dengan bangga.

Lilis membuktikan bahwa orang tidak mampu juga bisa mendapatkan pendidikan yang sama, dan bisa sukses meraih mimpinya. Terbukti, bahwa kuliah di UM Magelang mampu menghasilkan lulusan terbaik yang dapat bersaing dengan perguruan tinggi bergengsi lain di Indonesia.

“Terimakasihku kepada Allah SWT, terimakasih pemerintah RI, terimakasih Bidikmisi, dan terimakasih UM Magelang, berkatmu aku bisa menggapai mimpiku,” tutupnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?