Siswa SD sedang membaca buku di perpustakaan

Nasional

Safari Gerakan Membaca, Sikapi Minat Baca Rendah

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

Siedoo, KEINGINAN warga Indonesia untuk membeli buku masih tergolong rendah. Data dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) rata-rata orang di bumi Nusantara ini hanya membeli 2 judul buku setiap tahun.

Tentunya hal itu berkorelasi dengan minat baca warga dalam membaca buku. Terlebih, minat baca di Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara.

Unesco juga pernah mengungkapkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca.

“Keprihatinan terhadap minat baca yang rendah itulah yang melatarbelakangi kita melakukan kegiatan ‘Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca’,” kata Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando sebagaimana ditulis Republika.

Untuk mendongkrak tingkat baca, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan program 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum memulai pelajaran di sekolah melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015.

Tidak Dibentuk di Sekolah

Menurut Okky Madasari, penulis novel Entrok, rendahnya minat baca atau literasi di Indonesia disebabkan oleh keterbatasan akses pada buku. Banyak daerah tak memiliki perpustakaan dan toko buku.

“Serta kebiasaan membaca yang tak dibentuk di bangku sekolah,” ungkap dia sebagaimana ditulis CNN Indonesia.

Padahal, membaca membawa banyak manfaat. Diantaranya, membaca merupakan aktivitas politik paling sederhana yang bisa seseorang lakukan.

“Dengan membaca kita melawan kedangkalan pikiran. Dengan membaca kita menolak untuk sekadar hanyut pada pendapat kebanyakan orang. Dengan membaca kita berpikir kritis,” ujarnya.

Belum Menjadi Kebiasaan

Dra Sri Sularsih MSi, mantan Kepala Perpustkaan Nasional mengatakan faktor mendasar masih rendahnya minat baca masyarakat adalah karena belum adanya kebiasaan. Padahal membaca itu merupakan budaya. Sehingga, perlu memiliki rasa butuh terhadap membaca.

“Itu karena belum dibiasakan dari keluarga. Seperti orangtua yang taat beragaman pasti akan rajin beribadah. Kalau orangtuanya tidak mengajarkan, pasti anaknya tidak akan rajin,” ujarnya sebagaimana ditulis Okezone.

Ditandaskan, membaca juga merupakan sebuah kesadaran. Banyak pengetahuan bisa didapatkan karena suka membaca.

“Saya sudah bertemu dengan sejumlah elemen baik dari tokoh nasional maupun internasioal. Mereka adalah orang-orang yang berpengetahuan luas,” imbuhnya.

Kebiasaan membaca itu harus dimulai dari keluarga. Karena kehidupan masyarakat itu bermula dari keluarga. Sehingga semua dimulai dari keluarga.

“Kalau untuk menumbuhkan budaya itu kan dari keluarga harus mengenalkan buku-buku bacaan,” paparnya.

Menengok Budaya Baca di Jepang

Penduduk Jepang terkenal dengan aktivitasnya membaca. Kegiatan membaca di Jepang tak lepas dari kehidupan sehari-hari mereka. Tetap membaca meski berada di tempat umum. Di mana pun ada aktifitas membaca.

Di negeri sakura itu juga ada budaya Tachiyomi, yaitu membaca gratis sambil berdiri di toko buku. Buku baru yang dipajang di rak biasanya segelnya dibiarkan dibuka.

Bagi siswa di sana, ada budaya membaca buku 10 menit sebelum masuk kelas. Ini diberlakukan sejak sekolah dasar dengan reward dan punishment.

Di televisi ada acara Sekiguchi, yaitu promosi buku terbitan terbaru lewat layar TV, disertai review-nya. Orang yang melihatnya bisa pesan via online.

Apa Tanggapan Anda ?