Aishah Basar. foto medanbisnisdaily.com

Tokoh

Menelisik Kiat Menulis Sastrawati dari Sumut, Aishah Basar


Siedoo, Menulis merupakan hal yang bermanfaat, karena dengan menulis dapat menuangkan perasaan yang tidak dapat disebutkan dengan kata-kata. Menulis akan menjadi kebiasaan yang sangat baik, lewat menulis dapat menginspirasi banyak orang lain.

Adapun membiasakan diri membaca adalah kebiasaan yang sangat baik untuk perkembangan diri seseorang. Orang yang membiasakan diri untuk membaca dari semasa kecil akan menjadi orang yang cerdas ke depannya dan bermanfaat bagi orang lain.

Hal ini pula yang dilakukan sastrawati dari Sumatera Utara (Sumut), Aishah Basar yang sejak usia empat tahun sudah menyukai kegiatan membaca dan menulis. Saat masih Sekolah Dasar (SD), ia sudah menulis puisi, cerpen hanya untuk kebutuhan pribadi yang ia simpan dalam buku hariannya.

Setiap hari kemarahan, kesedihan, harapan, kekecewaannya, semua ditulis di buku. Proses menulis itu dimulai dengan menulis di buku harian. “Suka menulis karena saya suka membaca. Kalau saya tidak banyak membaca saya tidak akan bisa menulis,” ucap Aishah.

Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aishah sudah mulai menulis di majalah dinding sekolah. Ia juga berperan dalam mengelola majalah dinding sekolah. Seiring berjalannya waktu, ia pun semakin banyak menulis dan menghasilkan karya sastra.

Saat kuliah, puisi dan cerpen yang ditulis Aishah sudah mampu dimuat di koran. Karya sastra yang dihasilkan Aishah biasanya berupa rekaman peristiwa yang dia lihat maupun yang dialaminya.

“Sebagai seorang penulis, kita selalu punya cara sendiri yang mungkin berbeda dengan orang lain untuk mengungkapkan sesuatu yang dari pikiran dan perasaan kita,” ucap perempuan kelahiran Rantauprapat, 26 Januari 1971 ini.

Pengakuan karya

Menurut Aishah, perasaan senang dalam menulis itu kalau tulisannya dimuat di media massa, apalagi ada honornya. Juga, ketika ada lomba dan menang, luar biasa sukanya.

Bukan karena hadiah tapi lebih ke pengakuan dunia terhadap karya. Seiring berjalannya waktu, dia berpikir lomba itu bukan menjadi hal yang mutlak yang dilakukan demi pengakuan tulisan.

Baca Juga :  Kepala Perpusnas Beberkan 4 Aspek Literasi dan Budaya Baca di Eropa

“Karena ada banyak ajang yang bisa mengatur kualitas karya kita, jadi tidak harus ikut lomba,” jelasnya.

Dilansir beritasumut.com, tahun 2002, Aishah mampu menyelesaikan tulisan monolognya dengan judul ‘Perempuan’. Kemudian di tahun 2003, ia mementaskan monolog ini di Taman Budaya Sumut. Selanjutnya di tahun 2005, Aishah berangkat ke ibukota tepatnya di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta untuk kembali mementaskan karya monolognya tersebut.

Menurutnya, sukses itu bukan apa yang dilihat kasat mata karena sukses itu ketika bisa melewati tantangan, hambatan, rintangan. “Dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya dalam ruang lingkup tertentu,” tuturnya.

Tips sukses menulis

Menurut Aishah, tips sukses menulis adalah dengan selalu membaca. Bukan hanya membaca melalui gadget dan membuka lembaran buku-buku, tapi membaca secara luas dan mendalam termasuk membaca diri sendiri.

Kadang-kadang mengabaikan diri sendiri, tidak pernah membaca diri sendiri, sehingga sampai kepada kata sukses itu tadi. “Kita jadi memandang kata sukses itu secara kasat mata saja. Padahal arti sukses itu juga ke dalam diri kita, kita yang tahu kita itu sukses atau tidak,” ujarnya.

Dalam kegiatan membaca harus punya komitmen terhadap diri sendiri. “Hidup ini bagaimana dan mau dibawa kemana. Ada komitmen dengan bekerja keraslah. Saya percaya kerja keras itu membuahkan hasil yang lebih baik, ketimbang orang yang tidak bekerja keras,” jelas Aishah. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
SD Mutual Kota Magelang