(Dari kiri ke kanan) Direktur LKBN Antara Mediatama Suryodiningrat, Sejarawan Taufik Abdullah, Kepala Perpustakaan Nasional RI M Syarif Bando, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hilmar Farid, Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia Keiichi Ono, Direktur Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Triana Wulandari berfoto bersama dalam acara Pameran dan Seminar Kesejarahan "Hubungan Indonesia Jepang Dalam Lintasan Sejarah" di Perpusatakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (02/08/2018). Foto:ANTARA

Nasional

Peringati Hubungan Indonesia-Jepang Dengan Seminar dan Pameran Kesejarahan


JAKARTA – Peringatan 110 tahun Kebangkitan Nasional yang bersamaan dengan Peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional. Mereka menyelenggarakan pameran dan seminar kesejarahan.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menjelaskan, hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang telah terjalin sejak ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian Jepang-Indonesia oleh Menteri Luar Negeri Indonesia dan Jepang pada 20 Januari 1958. Sejak saat itu, Indonesia dan Jepang telah menjadi mitra strategis, hubungan keduanya terus menguat dalam berbagai aspek. Tidak hanya ekonomi dan politik, namun, juga sosial dan budaya.

Hilmar menyampaikan salah satu langkah strategis Direktorat Jenderal Kebudayaan dalam mengupayakan kerja sama dengan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia dalam bidang budaya adalah dengan merintis kerja sama pengarsipan warisan budaya untuk membangun sistem data kebudayaan terpadu.

Dia berharap, kerja sama Indonesia dan Jepang ke depan khususnya dalam konteks hubungan Indonesia-Jepang akan lebih diperkaya oleh dimensi kebudayaan. Menurutnya, kerja sama ini adalah upaya dalam menjalankan amanat Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan

”Diharapkan hubungan kedua negara semakin menguat dalam berbagai aspek, tidak hanya politik, ekonomi dan teknologi. Tapi juga dalam aspek kebudayaan yang sangat potensial untuk diperluas lagi,” jelas Hilmar di sela-sela pameran.

Kegiatan pameran kesejarahan yang dilaksanakan pada 2-10 Agustus 2018 akan ditampilkan berbagai sumber sejarah dalam berbagai bentuk. Seperti dokumen, poster, foto, lukisan dan lain sebagainya. Terselenggaranya kegiatan pameran dan seminar kesejarahan ini juga dalam semangat menguatkan kerja sama dalam bidang budaya dengan Jepang.

Sumber:Perpusnas/Antara/(NSK)

Apa Tanggapan Anda ?