GURU. Kemendikbudristek senantiasa melakukan berbagai upaya peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Salah satunya  adalah dengan menggelar PPGP Angkatan 11 Daerah Khusus di Tahun 2024. (foto: kemendikbudristek)
Siedoo.com - GURU. Kemendikbudristek senantiasa melakukan berbagai upaya peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Salah satunya  adalah dengan menggelar PPGP Angkatan 11 Daerah Khusus di Tahun 2024. (foto: kemendikbudristek)
Nasional

PPGP Angkatan 11 Daerah Khusus Sasar 30 Wilayah yang Kesulitasn Jaringan Intenet

JAKARTA, siedoo.com – Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) Angkatan 11 Daerah Khusus di Tahun 2024 digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Hal itu dilakukan sebagai upaya peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Program ini dikhususkan bagi daerah-daerah yang mengalami kesulitan jaringan internet dan kesulitan transportasi karena keadaan geografis.

Terdapat 30 Kabupaten/Kota di Indonesia yang menjadi sasaran dari program ini. Salah satunya adalah Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Program ini diawali dengan seleksi tahap 1 yang diselenggarakan di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sarmi tanggal 19 Februari 2024.

Pemerintah Kabupaten Sarmi yakni Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sangat mengapresiasi program tersebut. Sebab memberikan kesempatan yang luas bagi guru-guru di pelosok untuk meningkatkan kompetensi terkait kepemimpinan pembelajaran dan pedagogi.

Sehingga kedepannya guru tersebut mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar sekolah serta mengembangkan potensi mereka menjadi pemimpin pendidikan di lingkungan sekolahnya masing- masing.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sarmi, Fransina D. Padwa, M.Pd,menuturkan program ini memberikan peluang dan kesempatan kepada guru-guru di daerah terpencil khususnya mereka yang merupakan Orang Asli Papua (OAP) untuk terlibat secara secara aktif untuk mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak.

“Harapannya, kedepan tetap ada program-program khusus seperti ini karena tidak semua guru berada pada daerah-daerah yang terjangkau internet,” katanya.

Selain menjalin komunikasi dengan Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan (KSPSTK), Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) dan Balai Guru Penggerak (BGP) Papua, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sarmi mengundang lima Guru Penggerak untuk mendampingi para peserta dalam proses seleksi calon Guru Penggerak Angkatan 11 Daerah Khusus.

Baca Juga :  Pretest Calon PPG Guru PAI Dibagi Tiga Zona, Mana Saja?

Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sarmi, Yulius Pongtombang, S.Pd, mengatakan pihaknya telah menugaskan sepuluh Guru Penggerak untuk mendampingi peserta seleksi Calon Guru Penggerak Angkatan 11 Daerah Khusus.

Dikatakan setiap Guru Penggerak mendampingi lima guru yang dijadikan peserta seleksi calon Guru Penggerak Angkatan 11 Daerah Khusus Kabupaten Sarmi.

Strategi tersebut membuahkan hasil yang signifikan terutama dalam hal pelibatan guru-guru Orang Asli Papua (OAP). Terdapat 30 guru OAP dari 49 peserta yang mengikuti seleksi Tahap 1 ini.

Dengan adanya pendampingan tersebut, banyak peserta yang merasa terbantu dalam proses seleksi. Salah satu peserta atas nama Yeret Sineri menyampaikan bahwa dirinya selalu diberikan motivasi oleh Guru Penggerak di sekolahnya sehingga ia lebih bersemangat menjalankan program.
Dalam salah satu aktivitas, pilihan dalam menyelesaikan soal esai dengan cara menuliskan pada kertas folio atau mengerjakan pada Ms. Word, membuat peserta merasa tidak terbebani.

Peserta tidak memerlukan akses internet pada seleksi ini sehingga semua dapat melaluinya tanpa kendala. Bila dibandingkan dengan angkatan-angkatan sebelumnya, peserta merasa lebih senang dengan program ini.
Yuliana Rosalina Sorontou, salah satu peserta menuturkan bahwa beliau tidak perlu lagi bergadang menunggu jaringan internet stabil untuk mengunggah berkas yang diperlukan.

Hal tersebut karena berkas langsung diserahkan ke tim seleksi yakni perwakilan dari Dit. KSPSTK Ditjen GTK dan BGP Papua.

Peserta berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan, mengingat masih banyak guru-guru yang melakukan pelayanan di daerah-daerah sulit akses transportasi dan keterbatasan akses internet dan listrik.

Salah satu peserta atas nama Yus Larenggam menegaskan bahwa mekanisme ini sangat membantunya karena dirinya bertugas di daerah kepulauan yang hingga saat ini sejak 5 januari 2024 masih terjadi pemadaman lampu.

Baca Juga :  Memanusiakan Manusia Melalui Pendidikan Agama yang Moderasi

Adapun kondisi normalnya adalah ketersediaan layanan listrik selama enam jam yakni dari pukul 18.00 sampai dengan 24.00 WIT. (kemendikbudristek/siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?