Nasional

Banyak yang Pensiun, Indonesia Butuh Dosen Muda

JAKARTA - Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) menjadi terobosan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk melahirkan dosen dan peneliti unggul masa depan. Pendidikan tersebut merupakan skema beasiswa percepatan studi S-2 sekaligus S-3 selama empat tahun masa studi di perguruan tinggi terbaik dalam negeri.

Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti menyatakan, para mahasiswa PMDSU diproyeksikan akan lulus Doktor pada usia di bawah 30 tahun. Indonesia membutuhkan dosen muda karena dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, dosen millennial ini akan lebih mudah untuk beradaptasi.

“Di sisi lain, banyak pula dosen yang mulai pensiun. Namun untuk regenerasi dosen, kita masih memiliki tantangan, terutama pada peningkatan kualifikasinya,” sebutnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi (SISTer) per Oktober 2019, jumlah dosen yang berusia di bawah 40 tahun sebanyak 104.470 dosen dari total 253.214 dosen. Dari jumlah tersebut, sebagian besar masih berkualifikasi Master karena dari populasi dosen Indonesia, baru sekira 15% yang sudah berkualifikasi Doktor.

Dengan adanya skema PMDSU, Dirjen Ghufron pun optimis para lulusannya nanti dapat mengisi kebutuhan SDM untuk kemajuan pendidikan tinggi Tanah Air.

“Biaya meluluskan Doktor dari PMDSU hanya satu per tiga dari biaya yang dibutuhkan untuk menyekolahkan Doktor di luar negeri. Dengan kualitas yang tak kalah baik. Bahkan, mereka ini lebih produktif, ada yang sudah menerbitkan lebih dari lima publikasi internasional, dan ada yang mencapai 22 publikasi,” imbuh Ghufron.

Mohammad Nasir saat masih menjabat Menristekdikti juga mengapresiasi para mahasiswa PMDSU yang sudah cukup banyak menyumbang jumlah publikasi internasional. Tercatat hingga 9 September 2019, 547 publikasi telah dihasilkan oleh 211 mahasiswa PMDSU dan 133 promotor.

Adapun dari PMDSU Batch III, publikasi terbanyak sementara diraih oleh Alexader Patera Nugraha (Unair) dengan 22 publikasi. Kemudian disusul oleh Putri Cahaya Situmorang (USU), R. Joko Kuncoro (Unair), dan Suhailah (Unair) masing-masing dengan 5 publikasi.

“Untuk mewujudkan SDM Unggul, Indonesia Maju sebagaimana visi Pemerintah, kita memerlukan inovasi-inovasi pada pendidikan. Salah satunya, yaitu melalui PMDSU. Para mahasiswa PMDSU ini adalah anak-anak bangsa yang bertalenta. Dan kami akan melakukan beragam program terobosan lain untuk mencari talenta-talenta terbaik,” tutur Nasir.

Nasir mengingatkan para mahasiswa PMDSU agar menjadi insan yang berkarakter dan membekali diri dengan wawasan kebangsaan. Baginya, lulusan PMDSU bukan sekadar menjadi Doktor biasa, tetapi harus tetap memiliki karakteristik khas Indonesia sehingga mampu melihat potensi berdasarkan keunggulan komparatif bangsa.

“Kalian adalah anak-anak pintar, sehingga benar-benar harus mampu memanfaatkan ilmu yang dimiliki untuk hal yang baik. Bukan tidak mungkin 10 sampai 20 tahun ke depan kalian yang akan mengisi posisi-posisi strategis dan pembuat kebijakan,” kata Guru Besar Universitas Diponegoro itu.

Sementara terkait PMDSU sebagai bagian pengembangan manajemen talenta, para mahasiswa PMDSU ini kemudian dijuluki sebagai “Kopassus” Ilmuwan yang diharapkan akan menjadi agent of innovation.

Kemenristekdikti, ke depan juga memiliki beberapa cara lain untuk percepatan pembangunan SDM melalui program Talent Scouting. Upaya ini, lanjut Menteri Nasir, dilakukn agar semakin banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di perguruan tinggi rangking terbaik dunia. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?