Dosen ITS Dr Ir Heri Supomo MSc merancang kapal berbahan bambu. Karyanya yang membanggakan dilirik hingga Benua Biru.

Inovasi Internasional

Eropa Melirik Inovasi Kapal dari Bambu


SURABAYA – Salah satu dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur Dr Ir Heri Supomo MSc bersama tim tidak henti-hentinya menelurkan inovasi terbarunya. Saat ini, ia sedang disibukkan untuk melanjutkan penelitiannya terkait bambu yang akan diaplikasikan sebagai perabotan kapal.

Heri berhasil menciptakan prototype sebuah kapal dengan menggunakan bahan dasar bambu. Kapal bambu ini ditawarkan sebagai alternatif pengganti kapal berbahan kayu yang semakin langka saat ini. Dengan kekuatan yang lebih tinggi dibanding kayu, keamanan yang lebih terjamin, serta harga yang mencapai 50 persen lebih rendah dari harga kapal kayu.

Sejak 2008 silam, dosen yang akrab disapa Heri ini sudah merintis penelitiannya. Dalam pra penelitian selama dua sampai tiga tahun, ia sudah mulai membentuk tim dan melakukan kajian-kajian pustaka.

Setelah ia menemukan dasar-dasar yang memerkuat penelitiannya, peraih Medal of Distinction dari Royal Institute of Naval Architects (RINA) Inggris itu dan tim lanjut pada tahap penelitian dasar. Dalam penelitian ini, Heri menggandeng beberapa dosen di jurusannya beserta mahasiswanya untuk bekerjasama dalam meneliti kekuatan, mekanikal propertis, sifat-sifat fisis, dan konsep-konsep dasar pemilihan material.

Pada penelitian dasar yang dilakukan, didapatkan jenis bambu dengan kualitas terbaik. Jenis bambu yang digunakan dalam inovasi ini adalah betung. Bambu jenis ini adalah jenis terbaik apabila dilaminasi memiliki nilai kuat tarik dan tekan lebih baik daripada kayu jati. Yaitu sebesar 130 N/mm2 dan 50.73 N/mm2 serta renggangan mencapai 8,93 persen.

“Bambu bisa dipanen dalam waktu tiga tahun. Sedangkan kayu baru dapat dipanen saat 25 hingga 30 tahun tanam,” jelas ayah tiga anak itu.

Dosen Departemen Teknik Perkapalan ini memang berinovasi menggunakan bambu sebagai pengganti kayu. Bambu memiliki jumlah populasi yang melimpah dan memiliki masa panen yang sangat singkat jika dibandingkan dengan kayu.

Berdasarkan perhitungan Heri dan tim, kekuatan konstruksi dengan bambu laminasi didapatkan pengurangan tebal kulit sebesar 27 persen pada kapal ikan 30 GT. Itu jika dibandingkan dengan kayu jati.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bambu laminasi memiliki ketahanan dan nilai elastisitas yang baik ketika diberi beban tarik maupun tekan. Proses pembuatannya juga lebih mudah dan fleksibel karena tidak ada ukuran baku.

“Tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan pembuatan kapal,” tambah pendiri paguyuban Laskara yang menaungi industri galangan kapal di seluruh Jawa Timur tersebut.

Setelah konsep-konsep dasar penelitiannya rampung, Heri langsung menginjak pada penelitian terapan. Di mana kapal bambu pada penelitian ini dibuat kapasitas 60 GT yang artinya, panjang kapal kurang dari 24 meter. Kemudian kapal tersebut diterapkan dengan suatu permodelan struktur yang menguji kekuatan bahan bambu untuk kapal dengan beban di laut.

Setelah usai melakukan pra penelitian hingga penelitian terapan, pria asal Ngawi itu mengaku mendapatkan hasil yang memuaskan. Bahwa bambu ini kuat, aman, dan layak untuk dijadikan pengganti kayu.

Bambu laminasi ini pun disosialisasikan pada Industri Kecil Menengah (IKM) galangan kapal rakyat. Heri mengatakan bahwa masyarakat menanggapi positif dan cenderung meminta untuk merealisasikan kapal bambu. Kapal ini telah didukung oleh hasil pengujian laboratorium dan adanya prototype alat serta model bloknya.

Bahkan, penelitiannya ini menarik perhatian beberapa universitas di Inggris dan Jerman. Sehingga, ia melakukan kesepakatan untuk berkolaborasi dalam penelitiannya.
Kedepannya, pria yang kerap kali diundang untuk mepresentasikan penelitiannya di Eropa itu mengaku berencana untuk mengomersilkan kapal bambu.

“Sebelum mengomersilkan, saya ingin mendirikan pabrik bilah kayu terlebih dahulu. Kalau sudah melewati bagian tersulit ini, jadi mudah untuk diproduksi,” tuturnya.

Heri pun berharap agar mendapat dukungan dari pemerintah terkait edukasi serta fasilitas dari beberapa hal pokok. Terutama untuk mendukung rantai pasokan material bambu.

“Selain itu, saya berharap bambu semakin dibudidayakan karena tidak hanya berfungsi sebagai bahan konstruksi tetapi juga penahan longsor,” kata dia.

Apa Tanggapan Anda ?