Putri Augista Nur Azizah dan Febrilia Agar Pramesti saat melakukan ujicoba baterai.

Inovasi Tokoh

Energi Listrik Terbarukan dari Asamnya Tomat

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

SURABAYA – Tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur menemukan inovasi yang cukup berbeda dengan yang lainnya. Sari buah tomat mampu dimanfaatkan sebagai pengganti zat kimia berbahaya pada baterai. Melalui inovasi baterai gel dari buah tomat, diharapkan bisa digunakan masyarakat sebagai baterai yang ramah lingkungan.

Temuan itu, tidak lepas dari baterai kerap dijadikan masyarakat sebagai sumber energi listrik yang efisien. Dalam komposisinya, baterai memiliki elektrolit (zat kimia) yang berbahaya bagi lingkungan, seperti lithium dan timbal. Terlebih, jika zat tersebut bereaksi akan menimbulkan ledakan dan keracunan pada tubuh.

Beranjak dari kondisi tersebut, tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berhasil memanfaatkan sari buah tomat sebagai pengganti zat kimia berbahaya pada baterai. Ketiga inovator itu yakni Febrilia Agar Pramesti, Abduh Muharram Chairacita, dan Putri Augista Nur Azizah. Sedangkan pencetus ide dan pengarah dari karya inovasi tersebut adalah mahasiswa pascasarjana Kimia, Randy Yusuf Kurniawan, di bawah bimbingan dosen Ir Endang Purwanti Setya N MT.

Selama ini, buah tomat dianggap tim sebagai buah berasa asam yang sangat mudah dijumpai di wilayah tropis seperti Indonesia. Selain harganya yang relatif murah di pasaran, buah tomat juga digemari masyarakat. Lain halnya, dengan buah berasa asam seperti lemon, jeruk, dan kedondong yang harganya relatif mahal.

“Buah tomat berasa asam tersebut diukur keasamannya melalui kadar vitamin C dan menghasilkan 10-40 miligram vitamin C per 100 gram tomat,” jelas Randy Yusuf Kurniawan.

Tomat yang menjadi bahan uji, yakni tomat mentah sampai masak dengan mengambil sari tomat terlebih dahulu dengan cara dijus kemudian diuji. Asam merupakan sumber proton, di mana proton ini ketika bereaksi dengan elektroda menghasilkan elektron yang mengalir ke sirkuit luar sehingga terjadi aliran listrik.

“Tetapi, sari tomat tersebut masih berbentuk cairan. Dimana elektrolit yang berupa cairan menghasilkan tegangan listrik yang kecil,” jelasnya.

Rangkaian baterai dari gel sari buah tomat.

Sebelum dirangkai menjadi baterai, sari tomat ditambahkan biopolimer berupa agarose untuk menjadi elektrolit berbentuk gel. Penambahan agarose mampu meningkatkan densitas atau kerapatan elektrolit.

“Rapatnya elektrolit membuat nilai tegangan listik menjadi tinggi,” sambung mahasiswa asal Surabaya itu.

Dalam penelitiannya, menurut Febrilia Agar Pramesti, tegangan listrik yang dihasilkan dan diperoleh yakni 1 volt dengan memberikan perlakuan melalui perbandingan volume sari tomat dan agarose encer sebesar 1:2.

“Untuk agarose encer sendiri dibuat dengan melarutkan biopolimer agarose ke dalam air dengan perbandingan volume 1:3,” tutur mahasiswa yang akrab disapa Febri itu.

Febri juga menjelaskan bahwa nilai tegangan 1 volt yang dihasilkan itu hanya dalam skala kecil. Bisa jadi jika dilakukan scale up atau pembesaran skala volume, tegangan listrik pada baterai gel ini akan lebih besar.

Mahasiswa semester tujuh yang juga bertindak sebagai ketua tim itu menyatakan, baterai gel dari buah tomat ini juga dinilai tim mampu menghasilkan tegangan dan arus yang sangat stabil. Tim menjalankan baterai selama 30 menit, tegangannya menjadi 0,985 volt, hanya selisih 0,015 volt saja.

“Selisih ini sangat sulit diperoleh pada penelitian baterai umumnya,” beber Febri.

Melalui inovasi ini pun, tim berharap baterai gel dari buah tomat ini bisa digunakan oleh masyarakat sebagai baterai yang ramah lingkungan. Serta mampu mengantarkan timnya untuk lolos bertarung di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-31 yang bakal digelar Agustus mendatang di Yogyakarta.

Apa Tanggapan Anda ?