Ilustrasi anak menonton TV. Anak perlu pendampingan ketika menonton TV.

Opini

Pentingnya Mendampingi Anak di depan TV


Siedoo, ANAK-ANAK usia dini hingga usia SD memiliki kecenderungan menjadikan televisi (TV) sebagai hiburan. Bukan sebagai salah satu media pendidikan. Tanyangan hiburan beraneka ragam, menjadi pilihan anak-anak untuk menikmati sepanjang hari hingga malam.

Bahkan, kadang mereka lupa belajar karena takut melewatkan sesuatu yang menarik dalam acara yang sedang dinikmati. Seperti serial sinetron atau pun film-film yang sebenarnya kurang pas untuk anak seusia mereka.

Kecenderungan semacam ini harus diwaspadai orang tua. Sehingga, perlu orang tua mendampingi anak selama menonton acara TV. Orang tua harus peka dengan acara yang disukai anak. Apakah acara itu bersifat mendidik, menghibur, atau justru meracuni otak anak melalui tayangan menarik.

Memang, saat ini pihak pengelola acara TV telah mengurangi hal-hal yang dimungkinkan ditiru oleh generasi anak-anak. Seperti, dengan cara diblur sesuatu benda dalam tayangan acara. Misalnya rokok yang dihisap, todongan senjata api atau senjata tajam, luka berdarah, adegan kekerasan, serta adegan terkait pornografi dan pornoaksi.

Namun, adegan setelahnya atau sebelumnya tetap saja bisa ditiru anak. Contohnya, adegan seorang menodongkan pisau kepada lawan main, kemudian mereka berkelahi. Ketika adegan penodongan, pisau diblur. Namun, adegan perkelahian tetap saja nyata ditonton. Hal semacam itulah yang perlu diwaspadai.

Memang televisi bukanlah penyebab utama terjadinya tindak kejahatan atau kekerasan di masyarakat. Tapi TV merupakan faktor yang memperkuat atau mengukuhkan nilai kekerasan yang sudah ada.

Pendampingan anak selama menonton TV merupakan tindakan bijak orang tua. Agar anak tidak mengalami desensitizing process (proses kehilangan kepekaan akibat tindakan yang sebenarnya luar biasa, malah dianggap normal karena terlalu sering disaksikan).

Bagaimanapun, TV lebih cenderung mengedepankan fungsi hiburan dan informasi. Sementara fungsi pendidikan bagi TV cenderung diposisikan sebagai unsur pelengkap.

Pendidikan utama tetap di rumah dan sekolah. Meskipun kita tahu bahwa apa pun yang disiarkan TV, sadar atau tidak, dimaksudkan atau tidak, akan senantiasa menyosialisasikan nilai-nilai sosial-budaya tertentu dan berdampak pada pemirsa.

Orang tua juga mampu mengawasi anak, jangan sampai tidak belajar di rumah karena terlena dengan tayangan TV. Berilah jam menonton TV seperlunya saja. Misalnya antara pukul 16.00 hingga 18.00. Malam hari digunakan untuk belajar, mengerjakan PR dan istirahat.

*Narwan, S.Pd
Guru SD Negeri Jogomulyo, 
Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

 

Apa Tanggapan Anda ?