Daerah

Sekolah Cikal Awasi Tatap Muka Terbatas secara Ketat

JAKARTA - Selain di tingkat SMA, penerapan belajar tatap muka terbatas di Sekolah Cikal juga berlangsung di tingkat SD Cikal Cilandak. Sebagai sekolah yang menerapkan pembelajaran secara personalisasi, Sekolah Cikal berharap proses pembelajaran tatap muka terbatas ini dapat berjalan dengan lancar, aman, dan maksimal. Sehingga dapat menjadi persiapan untuk pembukaan sekolah di level lainnya.

“Kami sebagai pihak sekolah, dan mewakili orang tua berharap, semua pihak yang turut serta dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, mengikuti protokol kesehatan, dan protokol lain yang diberikan. Serta harapannya dapat membantu meningkatkan motivasi belajar murid dan mengoptimalkan proses belajarnya," kata Kepala Sekolah Cikal Cilandak, Windy Hastasasi.

Ia menyatakan bahwa Sekolah Cikal telah dan akan selalu melakukan pengawasan keamanan dan kesehatan ketat bagi murid kelas 5 dan kelas 6 selama uji coba ini. Sekolah Cikal berupaya mempersiapkan dan memastikan kelayakan sarana prasarana, serta optimalisasi penerapan metode pembelajaran campuran (blended learning) dapat lebih optimal.

Windy juga menambahkan bahwa orang tua murid Cikal pun mengikuti pelatihan proses pendampingan belajar campuran (Blended Learning) sesuai arahan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Selama proses persiapan uji coba, orang tua murid Cikal akan diundang untuk sosialisasi kegiatan pertemuan tatap muka terbatas, dan protokol kesehatan.

"Serta mengikuti pelatihan pendampingan Blended Learning yang disyaratkan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta di kanal sekolah.mu,” tambahnya.

Seperti diketahui, sesuai dengan keputusan dari Dinas Pendidikan dan Kesehatan (DISDIK) DKI Jakarta, Sekolah Cikal Cilandak dan Sekolah Cikal Amri-Setu turut serta menerapkan uji coba pembelajaran tatap muka terbatas. Sistemnya yaitu, pembelajaran campuran (Blended Learning) dari tanggal 7 sampai dengan 29 April 2021 dengan pengawasan kesehatan yang ketat dari berbagai pihak.

Baca Juga :  Sekolah Cikal Ajak Siswa Belajar Daring Bareng Dokter

Kepala Sekolah Cikal Amri-Setu, Siti Fatimah, menyatakan bahwa sebagian besar dari orang tua dan murid di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) menanggapi baik penerapan tatap muka terbatas ini. Itu setelah menjalankan survey dan berdiskusi secara langsung dan terbuka melalui pertemuan orang tua beberapa waktu lalu.

“Sebagian besar orang tua, maupun siswa sangat antusias dengan uji coba ini. Orang tua melihat bahwa anak-anak memerlukan pembelajaran tatap muka, bukan saja agar mereka dapat memahami materi ajar dengan lebih baik. Tetapi juga demi memenuhi kebutuhan sosial mereka, yakni membangun interaksi sosial dengan teman dan guru secara langsung setelah selama satu tahun,” tuturnya.

Ia pun menambahkan bahwa selama uji coba ini, Sekolah Cikal Amri-Setu telah berkolaborasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan pengawasan protokol kesehatan, fasilitas dan pelayanan. Serta akan selalu memberikan pendampingan informasi pada orang tua murid melalui Kontak Cikal dan pesan berkala.

“Kami tentu saja bekerja sama dengan berbagai pihak, baik dengan pihak Dinas DKI untuk memastikan semuanya dapat disiapkan sesuai arahan, dengan Puskesmas untuk sosialisasi kepada guru dan staf, dengan orang tua murid secara berkala. Serta mendapat dukungan dari pemerintahan setempat, RT/RW, kelurahan dan kecamatan,” tambah Siti Fatimah, atau yang lebih dikenal dengan Sifa.

Menurut Ratih Saraswati, Direktur Bisnis Operation Cikal, Sekolah Cikal dapat menjalankan proses uji coba pembelajaran tatap muka terbatas dikarenakan oleh kesiapan dan keberhasilan Sekolah Cikal dan sekolah lainnya. Baik negeri atau swasta memenuhi persyaratan seleksi dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang ketat dan detail, dan bukan karena hak istimewa (Privilege) sekolah swasta.

“Dari 92 Sekolah yang menjalankan pembelajaran tatap muka terbatas, Sekolah Cikal pun turut serta mengikuti seleksi kesiapan belajar dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang mencakup kesiapan dan kelayakan sarana-prasarana, penerapan protokol kesehatan, kesediaan Satuan Tugas Covid di sekolah, teknologi yang mendukung pembelajaran dari rumah, hingga kesehatan guru,” tutur Ratih.

Baca Juga :  Dihadapan Santri, Dosen Sampaikan Edukasi Digital

Sebagai Ketua Tim Satgas Covid-19 Sekolah Cikal, Maya Noviasari menyampaikan bahwa di dalam asesmen terdapat butir penilaian kesiapan sekolah dengan standar Kemdikbud, Keputusan Kadisdik DKI Jakarta No.1130 Tahun 2020, serta pedoman dari UNESCO dan OECD. Sekolah Cikal juga melakukan pendataan kesehatan terhadap tenaga pendidik serta peserta didik sebagai pemenuhan kriteria.

“Di bulan Januari 2021, Sekolah Cikal membentuk Tim Satgas Covid-19 dengan tugas pokok pencegahan, pengendalian dan penanganan COVID-19 di Cikal. Untuk itu, seluruh tenaga pendidik diupayakan telah mendapatkan vaksin COVID-19 sebelum blended learning dimulai,” kata Maya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?