Inovasi

Wah Mantap, Murid Kelas 10 Mampu Ciptakan Aplikasi Hitung Sampah

Siedoo, Murid kelas 10 Sekolah Cikal Surabaya, Jawa Timur membuat terobosan baru di bidang teknologi. Tiga murid membuat tim dengan nama "Arek Wedok", yang terdiri dari Happy Sri Sholihatul Hidayah, Angel dan Nays. Mereka menciptakan aplikasi Wasteens, sebuah aplikasi menghitung kepemilikan sampah manusia yang diproduksi sehari-hari.

Bukan hanya aplikasi yang diciptakan yang tidak biasa. Pemilihan nama tim murid kelas 10 ini pun juga dipilih secara khas mewakili Surabaya, Arek Wedok. Menurut Happy, pemilihan nama ini didedikasikan untuk mewakili kota asal Surabaya.

“Arek Wedok itu artinya kalau dalam bahasa Inggris itu The Girls, ” kata Happy, sebagai pimpinan tim Arek Wedok.

Happy menceritakan bahwa ide menciptakan aplikasi hitung sampah perorangan Wasteens ini didasari oleh kondisi masyarakat yang masih kurang peduli dengan kepemilikan sampahnya. Dimulai dari memetakan masalah di sekitarnya, tim berpikir bahwa sampah selalu jadi masalah utama. Kemudian, dari sana mereka berpikir lagi, bagaimana caranya bisa memberikan solusi dari masalah sampah ini.

Mengingat kebanyakan orang masih banyak malas mendaur ulang karena waktu, akses alat. Dari sinilah kemudian tim kembali memetakan apakah langkah awal sebelum daur ulang.

"Nah, ide menelusuri (tracking) sampah dengan aplikasi inilah terlahir supaya kita tahu pemasukan sampah atau pengeluarannya,” jelas Happy.

Ia juga menambahkan bahwa tim Arek Wedok berusaha membuat aplikasi yang tidak pernah terbayangkan oleh banyak orang, tetapi ternyata bermanfaat, dalam jangka waktu 2-3 minggu saja. Mereka ingin membuat aplikasi yang belum orang tahu kalau bisa ada.

"Tujuan akhir Wasteens ini pun adalah agar orang-orang bisa menelusuri kepemilikan sampahnya masing-masing. Orang-orang dapat tahu pengeluaran sampah mereka, apakah sampah yang diproduksi itu banyak atau sedikit perorangan dalam sehari,” urai Happy yang memegang sistem Coding aplikasi Wasteens.

Baca Juga :  Berikut Empat Aspek Esensial Sekolah Inklusi

Diakui Hingga Tingkat Internasional

Siapa sangka, berbekal rasa keingintahuan yang tinggi tantangan inovasi itu dapat dijawab dengan menciptakan aplikasi Wasteens. Bahkan, karya ini pun diikutkan dalam kompetisi tingkat internasional. Membanggakan, ketiga murid ini berhasil lolos semifinal kompetisi internasional “Technovation Girls Challenge” 2021.

Menurut Happy dalam kompetisi internasional “Technovation Girls Challenge” bermula dari rasa ingin tahu mencoba peluang kompetisi dan kesempatan berbagai sesi pelatihan remaja tanpa biaya. Itu juga untuk mengasah kompetensinya selama belajar dari rumah.

“Pertamanya itu wali kelas aku di Sekolah Cikal memberikan info ada lomba Technovation Girls Challenge dengan minimal 3 orang dalam satu tim. Sehingga aku undang temenku yang memiliki ketertarikan yang sama. Kita berpikir mencoba saja karena tidak ada uang pendaftaran, dan ada 10 workshop gratis, bagi kami lumayan. Jadi, berpikir kenapa nggak coba?,” cerita Happy.

Meskipun tidak menang di tingkat nasional, ternyata peluang tetap tidak hilang. Happy dan tim tetap didukung mencoba mengunggah proposal proyek aplikasi “Wasteens” di tingkat internasional, dan proyek Wasteens karya Happy dan tim pun lolos penjurian hingga kini berada di sesi semifinal.

“Di pengumuman tingkat nasional, kami tidak menang. Namun, kita tetap didukung untuk mencoba tingkat internasionalnya. Lalu, ternyata kita masuk ke semifinalnya,” tutur Happy.

Apresiasi sekolah, pendidik, dan tentunya keluarga pun mengalir untuk Happy dan kedua temannya di tim Arek Wedok dengan gagasan Wasteens ini di fase semifinal.

“Kami senang sekali dapat ucapan selamat, dan semangat serta dukungan dengan membagikan video tentang aplikasi kami,” ucap Happy. (*)

Apa Tanggapan Anda ?