Opini

Cara Dukung Pengembangan Anak dengan Disleksia

Siedoo, Anak dengan disleksia dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang tetap berprestasi melalui strategi belajar dan pendampingan yang tepat. Terdapat beberapa cara yang diterapkan oleh Pendidikan Inklusi Cikal untuk mendukung pengembangan minat, bakat dan proses belajar anak dengan disleksia. Antara lain modifikasi kurikulum, akomodasi belajar, pemberian instruksi bertahap, dan pemberian jadwal terstruktur.

Dalam proses memahami pendidikan dan sistem sekolah bagi anak berkebutuhan khusus, Pendidikan Inklusi Cikal berada di dalam Sekolah Cikal sebagai sekolah Inklusi. Selain itu, dalam menjalankan peran sebagai sekolah terdapat dua hal penting yang dilakukan oleh Pendidikan Inklusi Cikal. Yakni modifikasi kurikulum dan akomodasi belajar bagi anak dengan disleksia.

Pertama, modifikasi kurikulum anak disleksia. Pendidikan Inklusi Cikal melihat anak dengan disleksia secara kecerdasan baik adanya. Namun memang dipahami bahwa terdapat hambatan dalam bahasa.

Kami di Pendidikan Inklusi Cikal melakukan penyesuaiannya ke anak dengan disleksia tersebut sesuai fase perkembangan. Misalnya ia kini merupakan murid kelas 3 SD, namun pemahaman bahasanya kami sesuaikan dengan program bahasa di kelas 2 atau kelas 1.

Tujuan belajar bahasanya memang tidak sama dengan temannya. Namun, di pelajaran lain misalnya sains, agama, tetap sama dengan murid lainnya.

Kedua, akomodasi terhadap kebutuhan belajarnya. Memang anak-anak dengan disleksia dikenal mudah terdistraksi dan memiliki gangguan fungsi eksekutif. Fungsi eksekutif adalah keterampilan dari bentuk kontrol kognitif yang dibutuhkan untuk mengendalikan diri dan mengelola perilaku. Serta regulasi diri sehingga penting untuk mengakomodasi belajarnya melalui kelompok kecil atau personal.

Rangkaian akomodasi dilihat dari kebutuhan anak, misalnya anak A harus belajar di kelompok kecil 4-6 anak atau one-on-one agar optimal. Selain itu, ada pula anak yang membutuhkan akomodasi dan modifikasi bersamaan.

Ditegaskan bahwa struktur merupakan hal yang esensial dalam proses belajar anak dengan disleksia dan harus dipahami oleh guru serta orang tua di rumah. Secara umum, anak-anak dengan disleksia sangat membutuhkan struktur dalam sebuah setting dan proses belajar. Jika tidak ada maka dampaknya tidak hanya tulis baca, melainkan pula ada canggung.

Ketika akan belajar anak pun perlu diberitahukan struktur dengan detail. Misalnya di sesi belajar bahasa hari ini kita akan membaca, lalu kita tanya jawab. Setelah itu kita boleh berkegiatan menggambar, dan terakhir kita menjawab pertanyaan.

Dalam hal ini, urutan harus jelas. Dan anak dengan disleksia akan baik sekali jika memiliki agenda.

Selain jadwal terstruktur, pemberian instruksi bertahap juga dapat menjadi salah satu strategi tepat bagi proses belajar anak dengan disleksia. Misalnya, menyiapkan anak ke sekolah, dimulai dengan menyiapkan bukunya, kenakan sepatu, lalu berangkat.

Dalam instruksi bertahap, orang tua perlu menyadari bahwa anak dengan disleksia berpikir bahasa itu sifatnya abstrak dan multi tafsir. Jadi perlu bertahap saat memberikan instruksi dan dari segi struktur itu harus multi sensori kewajiban buat anak dengan disleksia. Perlu visualisasi agar membuat belajar lebih efektif dan efisien. (*)

*Psikolog dan Wakil Kepala Kurikulum, Pendidikan Inklusi Cikal Surabaya
Vitriani Sumarlis, M.Si.

Apa Tanggapan Anda ?