Tokoh

Ciptakan Lagu Bertema Anti Rasisme, Angan DaHooman Wakili Suara Anak Indonesia

Siedoo, Sebagai sekolah yang mengutamakan proses belajar sesuai kebutuhan, Sekolah Cikal membuat proses belajar yang cukup unik saat kondisi pandemi. Dadi Yudistira, guru program Seni Sekolah Cikal Cilandak menyatakan bahwa di setiap kelas murid diberikan pilihan membuat proyek akhir seni sesuai minat dan bakat. Baik itu seni pertunjukkan, seni musik, dan seni rupa/visual.

Dikatakan Dadi, di Sekolah Cikal, di term 4, pembelajaran seni mencakup seni musik, seni pertunjukan/drama, seni rupa/visual. Setiap anak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari semua bidang seni dan sub seni secara menyeluruh.

“Namun, untuk tugas akhir mereka diperbolehkan memilih untuk melaksanakannya dalam pilihannya. Sesuai dengan tujuan characterized  dan personalized akan tercapai,” ujar Dadi, Seni (3/8/2020).

Salah satu siswanya bernama Angan DaHoomanmemilih seni musik sebagai tema besar proyek akhir yang akan ia buat. Dadi menambahkan bahwa Ia sangat takjub dengan hasil Angan yang membuat karya musik berjudul Trumpet bertemakan anti rasisme dengan genre hiphop.

“Saya bersyukur sekali dan takjub saat melihat Angan mempresentasikan musik original karyanya yang bergenre hip hop. Dengan konsep dan dengan produk video klipnya sekaligus,” tutur Dadi.

Ia juga mengatakan bahwa bermula dari bakat Angan di bidang musik, Angan berhasil membuat sebuah proyek akhir yang benar-benar luar biasa. Saat ditanyakan mengenai alasannya membuat lagu bergenre hiphop demi menyuarakan minat dan suaranya terhadap isu rasisme yang terjadi di Amerika. Angan menyatakan bahwa idenya terinspirasi dari pengalamannya berteman dengan banyak latar belakang budaya dan warna kulit saat di Amerika.

“Ketika aku tinggal di Amerika, aku banyak memiliki teman dengan latar belakang budaya dan warna kulit yang berbeda. Apa yang terjadi waktu itu di Amerika benar-benar mengagetkanku. Setiap orang berhak untuk hidup setara, siapapun tidak seharusnya mengambil hak hidup manusia lain. Adalah ketidakadilan jika seseorang kehilangan hak hidupnya hanya karena warna kulit,” tuturnya.

Sebagai salah satu anak Indonesia yang kini duduk di Kelas 5 Sekolah Dasar Cikal Cilandak, Angan juga menyatakan harapannya. Yaitu ingin agar masyarakat Indonesia tidak memiliki pola pikir rasis dan menghormati perbedaan latar belakang budaya.

“Aku berharap kita semua berhenti berperilaku rasis, kita sebagai manusia harus dapat menghormati manusia lain apapun latar belakangnya,” harap Angan.

Suara Angan melalui lagu Trumpet menjadi wakil dari jutaan anak Indonesia yang juga menyuarakan pentingnya hidup dalam kesetaraan dan tidak adanya aksi rasis lainnya. Selain itu, tentu karya Angan ini menjadi sebuah contoh unik pemberian tugas sekolah yang memaksimalkan kompetensi yang murid miliki di segala bakat dan minatnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?