BELAJAR. Kegiatan belajar mengajar sebelum pandemi covid. (foto: dokpribadi)
Opini

Pendidikan Agama, Toleransi dan Pandemi

Siedoo, Sudah hampir setahun kita mengalami masa pandemi dan beraktivitas dengan kondisi normal baru. Masyarakat di berbagai daerah berusaha beradaptasi dengan berbagai kondisi yang ada. Tidak terkecuali di dunia pendidikan. Di banyak tempat, kegiatan belajar mengajar terpaksa masih dilakukan secara daring karena situasi belum memungkinkan untuk guru dan siswa melakukan belajar tata muka.

Selama pandemi berlangsung, proses belajar mengajar diharuskan untuk menyesuaikan diri dari pendidikan konvensional yakni tatap muka menjadi pendidikan normal baru yakni pembelajaran jarak jauh atau daring.

Dengan diberlakukannya proses pembelajaran daring secara tersebut, guru atau tenaga kependidikan dituntut untuk bisa kreatif dan interaktif dalam menyajikan pembelajaran daring agar siswa tetap tertarik dan pembelajaran tidak monoton.

Dalam pembelajaran daring, guru tidak hanya dituntut untuk mampu menyampaikan materi ajar yang sudah ditentukan (Transfer of knowledge), tuntutan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana transfer nilai (Transfer of value) yang selama ini diperoleh dari pengalaman langsung dan contoh yang baik (uswatun Hasanah) bisa tetap dilakukan melalui pembelajaran daring.

Untuk pembelajaran daring dengan materi pelajaran umum seperti matematika, bahasa, atau Ipa lebih mengedepankan transfer of knowledge sehingga dengan adanya pembelajaran daring ini tidak terlalu menjadi permasalahan, meskipun tidak semaksimal seperti sebelumnya. Akan tetapi berbeda halnya dengan pembelajaran dalam pelajaran agama karena diperlukan transfer of value yang lebih sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran daring.

Proses pembelajaran dalam pendidikan agama dibutuhkan adanya interaksi social secara langsung dan dengan adanya contoh contoh yang baik dari seorang guru kepada siswanya. Sehingga akan ada proses inisiasi dan internalisasi nilai positif dari interaksi dalam proses pembelajaran itu.

Sedangkan selama pembelajaran daring, proses-proses inisiasi dan internalisasi nilai nilai positif melaui interaksi langsung banyak yang hilang. Misalnya, pembiasaan kegiatan keagamaan yang sifatnya kolektif seperti berjabat tangan dengan guru, sholat berjamaah, doa bersama telah berganti menjadi lebih individualis dan berjarak.   Jika tidak di-manage dengan baik, hal ini akan membuat siswa cenderung bersikap egois dan individualis dalam beragama.

Pendidikan agama secara daring yang hanya mengedepankan segi kognitif atau penyampaian materi saja, tanpa dibarengi dengan praktek atau contoh secara langsung (uswatun HAsanah) akan terjebak pada doktrinasi ajaran agama semata. Karena jika terjebak pada doktrinasi ajaran yang tekstual, maka siswa akan cenderung memilih cara bergama konservatif dan intoleran. Maka dari itu, sesungguhnya pendidikan agama berperan penting dalam proses pembentukan karakter sosial baru yang lebih religius sekaligus toleran.

Dalam praktiknya, jika seorang guru Pendidikan agama tidak bisa memberikan contoh secara langsung tentang Uswatun Hasanah, hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan materi berupa video singkat atau cerita bergambar disertai narasi tentang pentingnya akhlakul karimah yang di dalamnya juga terdapat toleransi beragama. toleransi.

Video singkat dan cerita bergambar tersebut dimaksudkan untuk menambah visualisasi sebuah uswatun hasanah agar lebih bisa dipahami dan tertanam di pikiran para siswa. Sebuah penanaman nilai yang belum tentu bisa diresapi dari hanya sekedar membaca teks atau menjawab soal materi tertentu.

Salah satu efek positif dari Pandemi adalah menurunnya kasus intoleransi. Berita-berita pada media arus utama serta postingan-postingan terkait intoleransi dalam media sosial semakin menurun. Tulisan-tulisan provokasi dan ujaran kebencian terhadap kelompok lain juga berkurang.

Hal itu disebabkan semua orang sibuk membincangkan naiknya kasus Covid-19 atau prediksi kapan berakhirnya pandemi atau bagaimana cara bertahan hidup dalam situasi yang tidak menentu akibat pandemi ini. Sesuai yang dikatakan oleh Menag bahwa tanpa melihat latar belakang agama, umat di Indonesia dalam posisinya masing-masing saling tolong-menolong dari kesulitan akibat pandemi. Pernyataan Menag tersebut bisa diartikan sebagai indikasi naiknya sikap toleransi yang menurut Komnas HAM sempat mengalami penurunan di tahun 2019 yang lalu.

Jika melihat dari sisi pemberitaan di media memang intoleransi menurun. namun demikian, dengan melihat situasi pembelajaran daring khususnya pendidikan agama yang memiliki kemungkinan akan kecenderungan intoleransi, maka perlu diwaspadai munculnya banyak generasi yang intoleran.

Yang pasti selama situasi tidak menentu seperti ini, para guru dan pendidik, termasuk juga para orangtua, harus tetap mengedepankan pendidikan anak terutama dalam menumbuhkan sikap toleransi dan menjaga kerukunan umat beragama agar senantiasa damai dan kondusif.

Toleransi itu sendiri bisa disebut otentik ketika terdapat keselarasan antara pikiran, ucapan, dan perilaku. Jadi orang yang ‘mengaku’ toleran tidak sekedar memiliki wawasan tentang apa itu toleransi atau berucap bawa dirinya sudah toleran. Tapi harus diterapkan juga dalam bentuk sikap dan perilaku, hal yang susah dibuktikan dalam proses pembelajaran daring, apalagi hanya dengan membaca buku teks atau menjawab soal yang sifatnya tekstual.

Menurut Baron dan Byrne (2012) ada sedikitnya empat faktor yang mempengaruhi sikap toleransi seorang siswa yaitu kepribadian, lingkungan pendidikan, interaksi antarkelompok, dan yang terakhir prasangka sosial. Salah satu tipe kepribadian yang berpengaruh terhadap toleransi adalah tipe kepribadian extrovert yaitu yang bersifat mudah berteman (sosialisasi), santai, aktif, dan cenderung optimis.

Pembelajaran daring belum bisa sepenuhnya men-cover tingkat sosialisasi siswa karena interaksi hanya dilakukan secara virtual, bukan tatap muka. Guru tidak bisa melihat apakah siswa tertentu sudah bersikap atau berperilaku toleran atau belum. Jika anak banyak menghabiskan waktu di depan komputer dan kurang sosialisasi dengan orang sekitar, akan cenderung berlaku sebaliknya yakni bersikap anti-sosial. Jika hal itu terjadi, hal ini bisa menjadi kontraproduktif terhadap toleransi itu sendiri.

Maka dari itu, dibutuhkan kerjasama antara guru dalam memberikan materi toleransi dan orang tua dalam melihat praktek toleransi secara langsung agar proses penyampaian materi dan proses praktik sikap toleransi dalam keseharian bisa dipantau dengan seksama. Semoga dengan berakhirnya pandemi ini akan semakin meningkatkan sikap toleransi di kalangan siswa. (*)

Faishol Ghoni

Mahasiswa CRCS-UGM

Apa Tanggapan Anda ?