SMA Mutual Kota Magelang

Rhoni Rodin.

Opini Tokoh

Peran Strategis Perpustakaan Sekolah dalam Pembelajaran


Siedoo, Dewasa ini, perpustakaan bukan hanya merupakan unit kerja yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi peserta didik. Tetapi juga merupakan bagian integral dari pembelajaran. Artinya, penyelenggaraan perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan mengadakan bahan bacaan bermutu yang sesuai dengan kurikulum, menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bidang studi, dan kegiatan penunjang lain. Misalnya berkaitan dengan peristiwa penting yang diperingati sekolah.

Perpustakaan memegang peran yang penting dalam menunjang kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sutarno (2003) menjelaskan bahwa perpustakaan sekolah sangat bermanfaat dalam menunjang penyelenggaraan dan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu, pada prinsipnya setiap sekolah diwajibkan menyediakan perpustakaan, dan perpustakaan merupakan bagian dari kegiatan sekolah.

Karena berbagai hal, masih banyak sekolah yang perpustakaannya belum berjalan sebagaimana mestinya. Berdasarkan data tentang perpustakaan sekolah dan lembaga pendidikan yang lain, serta perpustakaan umum disebutkan bahwa pada 200.000 Sekolah Dasar diperkirakan hanya sekitar satu % yang memiliki perpustakaan standar.

Dari 70.000 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) baru 34 % yang perpustakaannya standar. Kemudian dari 14.000 Sekolah Menengah Umum (SMU) hanya sekitar 54 % yang memiliki perpustakaan standar.

Seiring dengan kemajuan zaman, maka di zaman sekarang ini, ada perubahan arah pendidikan. Ada tiga arah yang harus diperhatikan yaitu teacher centered (berpusat pada guru), student centered (berpusat pada siswa), dan menuju learning centered (berpusat pada pembelajaran). Di sisi lain, kurikulum dan pembelajaran meliputi standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, dan standar penilaian, selalu berubah mengikuti tuntutan kebutuhan zaman.

Oleh karena itu, menyikapi tiga arah pendidikan tersebut, maka sebagai unit pelaksana teknis, perpustakaan harus memahami kebutuhan kurikulum dan pembelajaran. Bahkan dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Pada dasarnya ada 4 (empat) asset perpustakaan yang tak ternilai harganya yaitu data, informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan (wisdom/ hikmah). Bila keempat kekayaan tersebut dikelola dengan baik oleh perpustakaan, dengan pendekatan dan layanan terbaik, maka hasilnya luar biasa.

Baca Juga :  Revitalisasi SMK Dongkrak Kualitas Lulusan

Perpustakaan akan menjadi pemicu tegaknya peradaban. Hal ini sudah banyak terbukti dalam perjalanan sejarah.

Sebagaimana kita ketahui, paradigma pembelajaran abad 21 adalah konstruktivisme yaitu pembelajaran saintific. Pendekatan pembelajaran yaitu problem based learning, inquiry based learning, discovery based learning, project based learning dan lain-lain. Model pembelajaran saintifik memerlukan data, informasi dan pengetahuan (sumber belajar) yang banyak dan beragam. Disinilah letak peran penting perpustakaan dalam pembelajaran.

Oleh karena itu, perpustakaan tidak akan berkembang bila pembelajaran hanya melulu dilakukan dengan metode ceramah (lecture) dan bersifat satu arah. Kemudian model evaluasi/ ulangan/ ujian berbasis recall (hapalan), bukan pemecahan kasus/ masalah. Selanjutnya sumber belajar hanya dibatasi pada buku teks atau diktat guru semata.

Bahkan ada guru yang mengharuskan jawaban siswa berdasarkan apa yang tertera di buku teks atau diktat yang dibuatnya. Kesemuanya ini tentunya akan menghambat kreativitas dan inovasi para siswa.

Menurut M. Ihsanuddin, sebenarnya ada 3 (tiga) program perpustakaan sekolah yang berkontribusi langsung pada prestasi belajar, yaitu:

1) Pengadaan koleksi secara besar-besaran.

Pengadaan koleksi secara besar-besaran selain koleksi tercetak perlu juga dibangun koleksi digital yang berfungsi sebagai main library yang bisa diakses oleh seluruh sekolah di Indonesia.

Kemudian menyediakan pangkalan data berlayar seperti yang dimiliki PNRI, dapat juga menjadi referensi bagi semua guru dan siswa. Perlu sosialisasi yang intens agar diketahui dan dapat diakses oleh semua sekolah.

Selanjutnya perlu membangun pilot project perpustakaan yang melayani banyak sekolah di satu titik (komplek pendidikan). Sehingga lebih efisien dan efektif;

2) Program literasi informasi.

Program literasi informasi pilih model tertentu misalnya Big6. Buat silabus dan RPP (standar isi sudah ada pada situs Big6, tinggal disesuaikan). Kemudian buat buku materi literasi informasi.

Baca Juga :  Menilik Kepedulian R.A. Kartini Terhadap Pendidikan

Terapkan secara terintegrasi dengan kurikulum atau terpisah dari kurikulum (pada jam ekskul atau muatan local). Yakinkan pimpinan sekolah bahwa program ini berdampak secara signifikan terhadap prsetasi belajar siswa;

3) Program membaca.

Program membaca di sekolah. Kemendikbud sudah menetapkan kewajiban membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai setiap harinya. Perlu sosialisasi dan pengawalan agar program ini dapat berjalan.

Perlu dibuat standar kompetensi membaca pada berbagai level/ jenjang. Perlu dibuat daftar bahan bacaan (buku) yang menggambarkan level/ jenjang kemampuan membaca. Perlu upaya yang sungguh-sungguh, konsisten dan berkesinambungan hingga terbentuk minat baca, kebiasaan membaca dan kemampuan membaca yang baik pada diri setiap siswa.

Lebih lanjut, sebenarnya ada 3 (tiga) pengembangan program perpustakaan sekolah yang inspiratif, meliputi pertama, Munazharah (wacana kritis). Buatlah suasana di perpustakaan yang mendorong siswa senang mengkaji persoalan-persoalan penting, suka berdiskusi, bertukar pendapat, berbagi pengetahuan. Misalnya dengan membuat klub-klub diskusi/ kajian; kedua, Mulaahazhah (melakukan research/ penelitian).

Buatlah program agar siswa senang membuat penelitian. Berikan bimbingan literasi informasi agar penelitiannya berkualitas. Berilah hadiah bagi yang terbaik; ketiga, Muqaaranah (melakukan perbandingan/ bench-marking). Buatlah program agar siswa senang dengan hal-hal baru. Tujuannya agar ilmu terus berkembang dan siswa selalu memperoleh informasi atau pengetahuan terbaru atau terbaik.

Tantangan yang Dihadapi Perpustakaan Sekolah di Indonesia

Menurut Supriyanto (2012) bahwa tantangan pengelola perpustakaan semakin kompleks. Hal ini tentunya menyikapi perkembangan zaman. Di sisi lain kualitas sumber daya manusia perpustakaan, dalam hal ini tenaga pengelola perpustakaan masih jauh di bawah standar.

Sehingga muncul beberapa pertanyaan kepada kita, jikalau yang punya rumah sakit adalah dokter, yang punya sekolah adalah guru, yang punya perguruan tinggi adalah dosen, sudahkah perpustakaan yang punya pustakawan?

Baca Juga :  Wujudkan Perpustakaan Asyik, Dicki Pustakawan Untidar Miliki Konsep Berinovasi

Sebagian besar tenaga perpustakaan sekolah tidak kompeten dan belum professional. Sebanyak 92% tenaga perpustakaan sekolah tidak berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi. Sebagian besar tenaga perpustakaan sekolah tidak memahami kurikulum dan proses pembelajaran. Sehingga, tidak memahami dengan baik kebutuhan guru dan siswa dalam pembelajaran.

Indonesia belum memiliki akademisi di bidang perpustakaan sekolah dalam jumlah yang memadai (sangat sedikit). Berbeda dengan Australia, Kanada, USA, dan Negara-negara Eropa yang banyak memiliki akademisi bergelar magister atau doktor yang ahli/ kompeten di bidang perpustakaan sekolah.

Mereka sangat memahami kurikulum dan selalu mengikuti perkembangannya. Mereka juga sangat memahami teori-teori belajar, dan tidak sedikit kajian-kajian mereka dijadikan rujukan oleh para guru di sekolah.

Tidak mudah memahamkan program literasi informasi di sekolah. Begitu juga program membaca. Banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya faktor cultural (budaya) dan pengetahuan. Pola pikir pragmatis dan dedikasi yang rendah turut memperparah kondisi perpustakaan sekolah.

Banyak tenaga perpustakaan sekolah hanya berfikir bagaimana agar bisa menjadi PNS. Sementara kompetensi dan kinerjanya masih jauh di bawah standar.

Ke depan hendaknya ada kesadaran bersama betapa pentingnya akan peran perpustakaan dalam proses pembelajaran di sekolah. Kesadaran ini harus dimulai pada diri masing-masing, mulai dari para pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah (baik skala nasional maupun daerah), kemudian kesadaran para guru, kesadaran para pengelola perpustakaan, dan kesadaran masyarakat.

Sehingga dengan adanya kesadaran bersama ini diharapkan perpustakaan sekolah bisa menempatkan peran dan fungsinya serta memberikan kontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa.  Semoga !!!

 

 

*Rhoni Rodin

Penulis adalah Pustakawan IAIN Curup, Bengkulu.

Pustakawan Berprestasi Tingkat Nasional. Peserta DELSMA ke Jerman

Apa Tanggapan Anda ?