Mahasiswa ITK Balikpapan ciptakan Program Salam untuk meningkatkan kepedulian lingkungan generasi milenial. foto : ITK

Inovasi

Demi Lingkungan, Mahasiswa ITK Luncurkan Sahabat Alam


Siedoo, Tingginya kecintaan terhadap lingkungan hidup, mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menciptakan sebuah program inovasi yang menarik, yaitu Salam (Sahabat Alam). Pelaksanaan program Salam dilakukan melalui dua tahap, yaitu edukasi lingkungan dan aksi lingkungan.

Pada tahap pelaksanaan program ini, tim melakukan controling secara bertahap kepada siswa-siswa yang menjadi target program Salam. Sehingga, program yang dilaksanakan dapat mencapai hasil yang maksimal. Program ini diciptakan oleh tim yang beranggotakan Rachmat, Choliq, Rozikin, Ersha, dan Kamal.

“Alam bukan hanya pemberi dan pemasok kebutuhan hidup, melainkan juga pemberi makna kehidupan. Alam memiliki banyak cerita untuk setiap perjalanan hidup. Harmoni yang selalu beriringan dengan kegiatan manusia,” kata Rozikin.

Program inovasi ini muncul tidak lepas dari kondisi laporan kinerja instansi Pemerintah, Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan pada tahun 2017 bahwa, Indeks Pencemaran Air (IPA) naik menjadi 51,6% yang awalnya 42,1%, Indeks Pencemaran Udara (IPU)  dari 92,4% menjadi 97,9%, peningkatan sampah ke TPA dari 63,02% menjadi 64,79%.

Selain itu, juga kepedulian masyarakat terhadap menjaga lingkungan berkurang dan berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk.

Menurut Rozikin, isu permasalahan lingkungan yang terjadi terutama di kawasan mitra yaitu Sekolah Budi Mulia Balikpapan terkait sekolah, kurangnya perhatian dari pemerintah kota ataupun provinsi. Sehingga, sekolah ini memiliki fasilitas yang sangat minim, penghapusan mata pelajaran lingkungan hidup yang berakibat pada pengetahuan mengenai lingkungan berkurang.

Menurut dia, pada tahun 2015 terjadi musibah tanah longsor yang berakibat menghancurkan fasilitas. Bukan hanya dari segi keamanan, air yang merupakan kebutuhan penting saja sangat minim di sekolah ini.

Sumber air yang diperoleh sekolah hanya berasal dari sumur bor (yang airnya mengandung minyak) serta dari kubangan air yang dibuat sendiri oleh guru dan bantuan para siswa, dan pengolahan sampah terpadu tidak terlaksana di sekolah tersebut.

Baca Juga :  Ada Tragedi 'Maut' di Balik HPSN, Jaga Lingkungan, Sekolah Ini Dirikan Bank Sampah

“Hal inilah yang menjadi perhatian kami sebagai mahasiswa untuk memberikan pengetahuan lebih dan mengubah kebiasaan tidak sehat yang sering dilakukan target mitra. Diperlukan sebuah kegiatan terpadu untuk menangani masalah sampah dan sistem pembuangan limbah di Sekolah Budi Mulia ini,” jelasnya.

Program Salam ini, dengan harapan target pengabdian juga dapat membagi ilmu yang telah didapatkan sebagai wujud nyata seorang agen perubahan. Terutama dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Edukasi lingkungan terdiri dari edukasi permasalahan lingkungan, lingkungan dan alam, pengolahan sampah, pengomposan sampah, pengelolaan air, filtrasi air sederhana, hidup bersih dan manajemen lingkungan.

Kemudian aksi lingkungan yang terdiri dari kunjungan ke TPA Manggar untuk langsung mengetahui isu terkait lingkungan, pembuatan kompos, filtrasi air sederhana, penanaman pohon bersama dan kampanye lingkungan. Program ini dapat menjadi salah satu solusi alternatif. (*)

Apa Tanggapan Anda ?