Featured Inovasi

Bantuan Sepatu dari Undip, Penyakit Unik Ubaidilah Berubah Jadi Senyum

Siedoo, Derita yang dialami Ubaidilah Al Ghazali, bocah berumur 3,5 tahun, warga Dusun Dermo 1 RT 61 RW 26, Desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah berangsur - angsur berkurang. Penderita deformity foot jenis club foot sejak lahir ini hendak mendapatkan bantuan khusus dari kampus.

Ia mengalami kelainan pada kaki kanan sejak lahir. Sehingga, tidak bisa berjalan dengan sempurna, layaknya anak-anak sebayanya.

Pertumbuhan bagian kaki kanannya sejak lahir memang tidak normal. Sehingga, kaki yang terbentuk sampai dengan saat ini, tidak sempurna. Hal ini tentu sangat mengganggu dalam beraktivitas sehari-hari.

Namun demikian, Ubaidilah Al Ghazali, putra dari pasangan Agus Parwoto dan Novi Azarel kini dapat tersenyum lega. Team Riset dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah yang tergabung dalam "SIBAD Undip Group Research for Prosthetic dan Orthotic" memberikan perhatian lebih. Ia akan dibantu secara khusus, yaitu sebuah sepatu AFO (ankle foot orthotic shoes).

"Kasus yang dialami Ubaidilah merupakan salah satu kasus yang cukup unik. Karena salah satu kakinya memiliki telapak kaki beserta jari kaki tidak sempurna atau normal. Sehingga, mengalami kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari dan juga menjadi keluhan bagi orang tua dalam memenuhi kebutuhan jenis sepatu yang selalu berubah - ubah, sesuai pertambahan usianya," ujar Dr. Paulus Wisnu A, S.T, M.T, Pilot Project Team SIBAD Undip Research Group for Prosthetic and Orthotic.

Untuk merealisasikan bantuan itu, Ubaidilah Al Ghazali menjalani proses scanning guna proses desain - manufaktur an ankle foot orthotic shoes (sepatu AFO), Kamis (23/5/2019) lalu. Proses pengambilan data gambar dengan metode 3D scan menggunakan alat handyscann 500TM.

"Kasus ini masuk dalam kategori kelainan bentuk kaki (deformity foot) sejak lahir. Sehingga, dibutuhkan sebuah sepatu AFO yang cocok untuk anak tersebut dan tidak akan dibuatkan kaki palsu," ungkapnya.

Proses scaning pada pasien dilakukan dengan tujuan membentuk pola kaki pasien dengan geometri yang sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki Ubaidilah Al Ghazali. Sehingga, nantinya sepatu AFO yang dihasilkan seperti bentuk sepatu pada umumnya. Namun, dengan bentuk bagian dalam sepatu sesuai bentuk kaki pasien.

Selain dengan proses scanning, team SIBAD Undip juga melakukan metode pembentukan kaki pasien dengan metode lainnya. Metode foam box 3D replica dan metode pemotretan manual scanning. Dua metode ini juga dilakukan pada kegiatan tersebut untuk mendapatkan geometri ukuran kaki pasien yang benar - benar tepat, presisi dan akurat.

"Proses scaning, foto dan foambox membutuhkan ketelitian dan kesabaran," jelas Dr. Paulus.

Saat proses scan, diharapkan obyek tetap diam sehingga proses scaning bisa berjalan dengan baik dan hasil yang sempurna. Namun demikian, proses yang dilakukan pada Ubaidilah membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu dikarenakan ia sangat aktif dan selalu bergerak.

"Kita membutuhkan waktu cukup lama pada proses sacnning, karena obyek selalu bergerak," beber Dr. Paulus.

Menurut Dr. Paulus, sebenarnya team SIBAD Undip sudah berupaya melakukan pendekatan kepada calon obyek agar dalam proses scanning, foto dan cetak pola kaki, bisa berjalan dengan lancar. Namun karena obyek masih anak - anak, maka nalurinya sama dengan anak yang sebaya.

Bantuan Berawal dari Anggota Kodim 0705/Magelang

Sementara itu, turunnya tim Undip ini berawal dari Sersan Mayor Sakimun, dari Kodim 0705/Magelang yang mendapat informasi dari Babinsa Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jika di wilayah binaannya ada masyarakat yang membutuhkan kaki palsu atau sepatu AFO untuk anaknya.

Informasi tersebut oleh Serma Sakimun disampaikan kepada relawan. Gayung pun bersambut, sebuah grup riset kemanusiaan bersedia membantu mengatasi keluhan warga tersebut.

Adalah Team Riset dari Universitas Diponegoro Semarang yang tergabung dalam "SIBAD Undip Group Research for Prosthetic dan Orthotic" yang merespon informasi dari Babinsa. Team ini dibentuk sejak tahun 2018 silam.

Didahului koordinasi dengan menggunakan alat komunikasi, tercapailah kesepakatan dari SIBAD Undip, setelah mendapat persetujuan dari Ketua Team Riset Pengembangan Kaki Palsu Prof Dr ret nat AP Bayuseno, M.Sc. dan Ketua Riset Terapan Dr Jamari ST MT untuk segera menemui Ubaidlah, dan calon pasien lain Kopka Mugianto dan Nurhuda.

Kegiatan SIBAD Undip ini merupakan kolaborasi kegiatan riset bersama Undip - UAJY yang didanai Kemenristik Dikti tahun anggaran 2019 dan berlangsung selama 3 tahun (2019 - 2021).

Selain Ubaidilah, proses 3D scanning, foto dan foambox juga dilakukan pada pasien lain yaitu Kopral Kepala Mugiyanto (41), anggota Koramil Borobudur dan Nurhuda (47), warga Dusun Gadingan, Ngluwar.

Mugiyanto kaki kanannya diamputasi karena terkena ranjau saat melaksanakan tugas operasi pengamanan daerah rawan di Maluku tahun 2000. Sedangkan kaki kiri Nurhuda diamputasi pada Januari 2019 yang lalu akibat diabetes.

Proses scanning, foto dan foambox dilakukan terhadap Mugiyanto, sedangkan Nurhuda baru menjalani scanning dan foto. Foambox belum dilakukan karena luka amputasi kaki Nurhadi masih belum kering secara keseluruhan.

Kopral Kepala Mugiyanto dan Nurhadi akan dilakukan desain - manufaktur kaki tiruan bawah lutut (KTBL). Team SIBAD Undip juga sebelumnya telah memproses kegiatan seperti ini pada pasien Alm Siti Badryah dan Bejo. Keduanya pasien KTAL dan saat ini sedang tahap proses desain dan manufaktur KTAL oleh team.

Nantinya oleh team SIBAD Undip akan diupayakan sebuah rangkaian proses riset desain - manufaktur sepatu AFO dan KTBL / KTAL sampai tahap pengujian ke pasien. Dibawah kendali pilot project SIBAD Undip Dr. Paulus Wisnu A, ST, MT, didampingi oleh Babinsa, serta seluruh tim bekerja dengan maksimal walau sampai malam.

Berikut personel yang tergabung dalam 'SIBAD Undip Group Research for Prosthetic dan Orthotic" Ketua Team Riset Pemgembangan Prof Dr ret. nat. AP Bayuseno, M.Sc. dan Ketua Team Riset CARESystem sepatu orthotik Dr Jamari, ST, MT. Pilot Project terdiri dari Dr. T Paulus Wisnu A, S.T, MT, Baju Bawono, ST. MTdan Tony Yuniarto, ST, M.Eng.

Alumni dan mahasiswa S1 TI UAJY : Abet Adhy Anthony, ST, J.Wibowo,ST, Vincentius Kiky, Anthoineta, PK Fergiawan, Cornel,Aldo Sanjaya serta dibantu oleh engineer 3D Scan dari PUTP Atmi Surakarta Rino Dwicahyo W, A.Md, Patrick Zalfa dan Riski Maha Endra dan team dari EMA Pasific.

Sedangkan untuk team CAD desain sepatu orthotic dan kaki palsu terdiri dari Abed Ady Anthony, PK Fergiawan, J Wibowo, Vincensius Kicky, Yoseph Kuntoro dan Mizan.

Ditahap akhir adalah proses manufacturing Team Sibad Undip yang berkolaborasi dengan CV. EMA Pasific Surakarta dibawah pimpinan Robby Sepriatmoko dan team (Michael dan Angga). Pada proses foto juga dilibatkan 5 mahasiswa S1 Teknik Industri Universitas Atmajaya Yogjakarta sebagai bahan Tugas Akhir mereka dalam mata kuliah CAD/CAM dan persiapan proposal skripsi dengan topik desain produk alat - alat medis.

Sedangkan dari Kodim 0705/Magelang Peltu Hendrat, Serma Sakimun, Serma Giyatno Sertu Riyono bersama Marcelius Roni dan Sugeng yang merupakan relawan SIBAD Undip yang bertugas mencari pasien / calon penerima sepatu AFO atau KTAL atau KTBL. Diharapkan dalam waktu tidak sampai 4 bulan, Ubaidilah, Mugiyanto dan Nurhuda sudah bisa menikmati kaki palsu dari SIBAD Undip Group Research for Prosthetic dan Orthotic yang diberikan secara cuma-cuma.

Dari riset ini, kedepan juga dimungkinkan munculnya ide - ide kreatif riset kedepan yang dapat diajukan oleh team SIBAD Undip. Sehingga, bukan cuma produk kesehatan saja yang dihasilkan namun luaran riset lainnya, seperti publikasi riset ke jurnal internasional terindex scopus Q1-Q2, pengajuan patent dan sebagainya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?