Keluarga besar SMAN 1 Kertek, Wonosobo, Jateng menggelar acara silaturahmi. Kegiatan ini merupakan acara rutin tiap tahunan.

Daerah

Keluarga Besar SMAN 1 Kertek Jalin Silaturahmi

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

WONOSOBO – Keluarga besar Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah menggelar acara Silaturrahmi dan Halal bil Halal di Jaraksari, Wonosobo. Berbagai pihak menghadiri acara ini. Silaturahmi keluarga besar SMAN 1 Kertek merupakan agenda rutin tahunan.

Pada acara ini ditampilkan hiburan musik SMAKER Band yang semua personelnya merupakan guru dan karyawan SMAN 1 Kertek. Lagu-lagu kenangan sempat didendangkan sang vokalis Asri Nursari yang sehari-hari mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMAN 1 Kertek.

Silaturrahmi dan Halal bil Halal juga dihadiri Ketua Komite SMAN 1 Kertek Abdul Qodir, Kepala SMAN 1 Kertek Heri Pujiyanto, Kepala SMAN 1 Wonosobo yang juga mantan Kepala SMAN 1 Kertek. Serta, seluruh guru dan karyawan beserta keluarganya.

Kepala SMAN 1 Kertek Heri Pujianto mengatakan, pihaknya setiap tahun menggelar acara Silaturrahmi dan Halal bil Halal bagi keluarga besar almamaternya. Yang menjadi tuan rumah acara ini yaitu di tempat salah satu guru atau karyawan secara bergantian. Panitia juga menghadirkan ustadz pada acara ini.

Ustadz Muflikhun pada kesempatan ini menyampaikan soal ilmu akuntansi pada terapan ibadah. Ilmu akuntansi tidak hanya bermanfaat diterapkan dalam hal hitung-menghitung uang saja. Sebab, teori dan praktek akuntansi bisa dipakai untuk mengaudit perilaku atau kualitas ibadah seseorang. Demikian itu merupakan intisari dari tausyiah yang disampaikan Ustadz Muflikhun.

Melalui ilmu akuntansi setiap orang bisa mengaudit amal ibadah dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan model audit ibadah tersebut, maka kualitas hidup seseorang dalam mengamalkan kehidupan agama akan bisa diketahui samakin baik atau justru mengalami penurunan.

“Acara halal bil halal ini juga bukan sekadar untuk silaturrahmi dan saling meminta maaf-memaafkan. Tapi sekaligus bisa dijadikan ajang instrospeksi diri untuk menuju kualitas ibadah yang lebih baik lagi,” kata dia.

Menurut Muslikhun, sebelas bulan selain bulan Ramadan, mestinya kualitas ibadah dan perilaku seseorang dijaga sebaik saat beribadah dan berperilaku di bulan puasa. Namun diakui atau tidak, sebelum atau sesudah bulan suci, amal ibadah dan amal-amal baik yang lain mengalami penurunan kualitas.

Apa Tanggapan Anda ?