Nasional

1.153 Anggota Rohis Berkumpul, Saatnya Beraksi

BANGKA BELITUNG - Siswa yang tergabung dalam Kerohanian Islam (Rohis) SMA/SMK se Indonesia mengikuti Perkemehan Rohis Tingkat Nasional III Tahun 2018 di Bumi Perkemahan Juru Seberang Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 5 - 10 November 2018. Jumlah siswa yang mengikutinya mencapai 1.153 siswa.

Direktur Pendidikan Agama Islam Rohmat Mulyana Sapdi mengatakan, perkemahan tersebut bukan perkemahan biasa. Tetapi, mengandung misi strategis  menyalurkan ide-ide moderasi Islam ke kalangan pegiat Rohis di sekolah-sekolah. Hal ini guna menangkal kemungkinan penyebaran paham radikalisme di lingkungan sekolah.

"Perkemahan ini diproyeksikan menjadi ajang deradikalisasi di kalangan pegiat Rohis," ujar Rohmat dilansir dari kemenag.go.id.

Pada pelaksanaan Perkemahan Rohis Nasional, para peserta tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antardaerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi, dan berbagi informasi satu sama lain. Hanya saja, untuk siswa laki-laki dan perempuan tetap terpisah.

Rohis Adalah Pionir Perubahan

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan, Perkemahan Rohis adalah wadah silaturahmi dan media tukar menukar informasi antar Rohis SMA/SMK. Salah satu sesi perkemahan ini, mereka akan berkumpul membincang action plan Rohis mulai di tingkat satuan kerja, hingga nasional.

"Rohis adalah pionir perubahan dan menjadi pelopor dalam menambah wawasan keagamaan bagi anggota maupun siswa pada umumnya," tutur Guru Besar UIN Alaudin Makasar.

Perkemahan Rohis merupakan agenda dua tahunan Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendidikan Islam. Perkemahan terakhir dilaksanakan pada 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jawa Barat. Di Cibubur inilah, dibacakan komitmen pengurus Rohis yang menentang dan menolak pemikiran dan aksi radikalisme, yang dikenal dengan “Deklarasi Cibubur”.

Titik tekan Perkemahan Rohis III, kata Kamaruddin, adalah memperteguh komitmen aksi, setelah dua perkemahan sebelumnya hanya sebagai bentuk responsi keprihatinan terhadap fenomena radikalisme pada saat itu. "Kami mendesain bahwa Perkemahan Rohis III kali ini sebagai tonggak aksi menindaklanjuti kesepakatan-kesepakatan dalam dua perkemahan sebelumnya. Kini saatnya Rohis beraksi," tegas Kamaruddin.

Rohis Jangan Terjebak Hoaks

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saefuddin mengajak generasi muda mencontoh tradisi para periwayat hadits setelah Rasulullah Saw wafat. Menurutnya, ada dua pendekatan yang dilakukan para periwayat saat menerima hadits, yaitu: memeriksa konten dan memeriksa sumber riwayat.

“Jika benar tidak ada unsur kebohongan baru hadits tersebut disebarkan,” jelas Menag.

Menag menegaskan bahwa tidak semua informasi yang diterima harus langsung disebarluaskan. Informasi tersebut harus ditimbang isinya, apakah bermanfaat atau tidak.

Ditandaskan, perlu diperiksa juga sumber informasinya, terpercaya ataukah tidak. Ini penting agar Rohis tidak mudah terjebak dalam ghibah dan fitnah melalui hoaks.

"Membicarakan keburukan orang saja meski benar, itu berdosa karena disebut ghibah. Apalagi membicarakan keburukan yang ternyata salah atau fitnah. Islam ditebarkan dengan kasih sayang dan cinta," ujar Menag. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?