SMA Mutual Kota Magelang

Nyai Ahmad Dahlan, tokoh perempuan pejuang dalam pendidikan dan emansipasi perempuan. (Foto: twiter-@potretlawas)

Tokoh

Hari Ibu, Meneladani Nyai Ahmad Dahlan Melawan Kebodohan


Siedoo, Moment  Peringatan Hari Ibu, 22 Desember tahun 2018 ini ada baiknya kita menilik sosok salah satu tokoh pendidikan, tokoh emansipasi perempuan. Sehingga kita dapat meneladani perjuangannya. Dia adalah Nyai Ahmad Dahlan.

Dilahirkan di Kauman, Yogyakarta, dengan nama Siti Walidah, tahun 1872, setelah menikah namanya lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Seorang pahlawan nasional berkat pengabdiannya di bidang pendidikan, pergerakan, dan perjuangan, khususnya bagi kaum wanita Indonesia.

Dalam kiprah hidupnya, perjuangan Nyai Ahmad Dahlan adalah melawan kebodohan dan diskriminasi. Bersama suaminya, K.H. Ahmad Dahlan, ia mendirikan ‘Aisyiyah, organisasi yang memiliki perhatian khusus dalam agama, pendidikan, layanan kesehatan, dan sosial.

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” 

Petikan Surat An-Nahl ayat 93 itu menjadi semangat pemikiran Kyai Haji Ahmad Dahlan dan istrinya dalam mendirikan ‘Aisyiyah. Ayat itu mengingatkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki tugas yang sama dalam menyebarkan agama, dan yang terpenting, baik laki-laki maupun perempuan. Kelak akan ditanya apa saja yang telah dilakoninya di dunia.

Kesadaran inilah yang memunculkan pemikiran untuk menghimpun para perempuan dalam satu wadah organisasi. Sehingga, mereka bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat.

Nyai Ahmad Dahlan meresmikan ‘Aisyiyah bersama suaminya pada 19 Mei 1917, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1335 tahun Hijriah.

Minat besar dalam belajar mengajar

Layaknya perempuan di masa itu, Walidah kecil tak sempat mengenyam pendidikan formal. Namun, Walidah memiliki kemauan besar untuk belajar dan mengajar yang terjembatani lewat pernikahannya dengan Muhammad Darwis, nama kecil Ahmad Dahlan, pada 1889.

Meski sebenarnya pernikahan itu adalah pernikahan keluarga, karena Ahmad Dahlan adalah saudara sepupu Walidah. Pertemuan keduanya bagaikan peribahasa Jawa tumbu oleh tutup, cocok dan saling melengkapi. Pasangan muda ini saling mendukung untuk mewujudkan mimpi masing-masing.

Siti Walidah mendukung suaminya untuk mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah. Kepedulian Dahlan terhadap perempuan dan kesetaraan jender pun mendukung Walidah dalam berkiprah lewat ‘Aisyiyah.

Sejak suaminya mendirikan Muhammadiyah pada 1912, Walidah berperan menggerakkan pengajian, mengorganisasi kaum perempuan di Kauman, Karangkajen, dan Pakualaman, Yogyakarta. Mereka terdiri dari remaja putri, ibu-ibu, hingga para buruh batik.

Mereka diajari membaca Alquran, terutama sekali mengamalkan pesan dalam Surat Al-Ma'un, yang mengajarkan kepekaan muridnya atas kemiskinan di kalangan umat Islam.

Kelompok pengajian ini terbagi dua, yaitu kelompok remaja putri bernama Wal Ashri atau pengajian setelah Asar, dan kelompok Maghribi School yang digelar selepas waktu kerja untuk para buruh batik.

Nyai Ahmad Dahlan memang dekat dengan para buruh batik. Mengingat ayahnya, Muhammad Fadhil Kamaludiningrat, merupakan kiai penghulu di Keraton Yogyakarta, yang kemudian menekuni profesi sebagai saudagar batik.

Pada 1914, perkumpulan ini diberi nama Sopo Tresno, cikal bakal organisasi ‘Aisyiyah. Nama ‘Aisyiyah diambil dari nama istri Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Keteladanan Nyai Ahmad Dahlan

Nyai Ahmad Dahlan dikenal tegas dalam mendidik anak-anaknya, terutama soal beribadah. Pernah satu kali, salah satu anaknya, R. Dhuri yang memiliki minat di bidang musik, sedang asyik bermain biola hingga lupa salat.

Nyai Dahlan menegur tetapi tak diindahkan. Tanpa kompromi, Nyai Ahmad Dahlan mengambil biola dan membuangnya ke dalam tungku api.

Kalimat berupa pesan dari Nyai Ahmad Dahlan sangat dikenal hingga sekarang. Yaitu, ‘Sesungguhnya ada dua penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali oleh yang menderita penyakit sendiri. Kedua penyakit itu adalah kikir dan malas.’

Teladan Nyai Dahlan tak sampai di situ. Ia memahami dan melaksanakan pesan terakhir suaminya, sebelum meninggal dunia pada 1923. Di mana saat itu K.H. Ahmad Dahlan mengumpulkan istri, anak, dan cucu-cucunya.

Kepada mereka, ia berpesan: “Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu. Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.”

Tatkala Nyai Dahlan dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogyakarta, ia menolak tawaran dari pihak rumah sakit yang ingin menggratiskan biaya pengobatannya. Alasannya, Nyai Dahlan ingat pesan terakhir suaminya.

Ia lantas pulang untuk mengambil uang dan membayar biaya rumah sakit. Namun, rupanya, uang yang terkumpul tak mencukupi tagihan rumah sakit. Nyai Dahlan pun menyuruh salah satu anaknya menjual lemari untuk menutupi kekurangan biaya pengobatan.

Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 31 Mei 1946. Dua puluh lima tahun kemudian pemerintah memberikannya gelar sebagai pahlawan nasional.

Kiprah Nyai Dahlan tentu bisa terlihat dari warisan organisasi ‘Aisyiyah. Kini ‘Aisyiyah menjadi salah satu organisasi perempuan muslim terbesar di tanah air.

‘Aisyiyah mengusung program kerja yang tak pernah lepas dari akarnya: mengangkat derajat kaum perempuan agar bermanfaat untuk masyarakat umum. (*) -Dirangkum dari berbagai sumber

 

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Tempuran,

Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?