Tokoh

Suka-Duka Pertukaran Pelajar : Tanpa Perundungan dan Telat Itu Memalukan

SEMARANG - Beda Semarang, beda pula Hamburg, Jerman. Dua kota dengan karakter khas masing-masing sistem pendidikan, budaya, makanan, hingga adat kebiasaan masyarakat. Kaget, itulah yang dirasakan 19 siswa kelas XII SMA 5 Semarang yang mengikuti pertukaran pelajar dengan Heinrich Heine Gymnasium Hamburg, Jerman, 21 Agustus-13 September 2018 lalu.

Alarm ponsel membangunkan Vania Alyanissa. Shalat subuh menjadi awal serangkaian kegiatan menantangnya. Meski masuk sekolah pukul 08.00, dia harus sudah selesai menyiapkan diri satu jam sebelum itu.

Bukan karena jalanan macet, namun jangan pernah meninggalkan sarapan bersama keluarga Jerman. Dia tinggal bersama orang tua asuh di Jerman yang telah ditunjuk sekolah setempat. Satu orang tua asuh menampung satu siswa Indonesia.

”Jangan pernah meninggalkan sarapan dan makan malam. Bagi keluarga Jerman, itu momen penting untuk bertemu dan berdiskusi bersama,” kata siswi kelas 12 IPA VI ini setelah mengikuti audiensi dan penyambutan 10 siswa Heinrich Heine Gymnasium Hamburg oleh Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin di lantai II gedung Pemprov Jateng, dilansir Suara Merdeka, Kamis (11/10/2018).

Vania berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Cukup 10 menit sudah sampai sekolah yang dekat karena Jerman sudah menerapkan sistem zonasi. Siswi lainnya, Maria Dionisya Gerarda Despriani bahkan bisa sampai sekolah kurang dari 10 menit, meski berangkat dengan jalan kaki. Sementara Fathia Nur Anisa berangkat menggunakan bus sekolah. Tak ada siswa yang membawa sepeda motor atau mobil.

Mata pelajaran wajib di Jerman tak berjubel seperti di sekolah Indonesia. Hanya 8-9 mata pelajaran wajib, yakni Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, Olahraga, Seni, Bahasa Jerman, Biologi. Pelajaran lain boleh memilih, seperti Bahasa Spanyol, Perancis, atau Latin. Begitu juga dengan mata pelajaran Politik, Agama, atau Filsafat.

Dalam sepekan, mereka sekolah Senin-Jumat dan normalnya pukul 08.00- 13.20. Ada dua hari long day karena mata pelajaran tambahan pilihan sehingga pulang pukul 15.30. Selama di sekolah, vania belum pernah menemui perundungan.

”Kalau bercanda sih iya. They say ëni haoí, mungkin mengira saya dari Tiongkok,” kata Vania yang memang bermata sipit ini.

Tiga pekan berada di sana, Maria Dionisya Gerarda Despriani seperti bermimpi. Memperoleh orang tua asuh berprofesi pilot, dia diajak terbang dengan pesawat kecil berkeliling langit Hamburg. Ada satu hal yang ia ingat kuat adalah budaya disiplinnya.

”Kalau bilang sampai rumah pukul 19.00, ya harus tepat. Telat itu hal yang memalukan dan sangat tidak disukai,” kata Maria.

Tiga pekan di Hamburg, mereka tak hanya bersenang-senang tetapi juga dibebani dengan misi mengenalkan budaya dan hidup bertoleransi di Indonesia. Hal itu disampaikan perwakilan siswa pertukaran pelajar, Rayhan Dhany Rahardian.

Saat di Hamburg, siswa menampilkan drama tentang tata cara pernikahan dengan adat Jawa lengkap dengan bermain gamelan. Setiap siswa juga diminta mempresentasikan kekayaan dan kebudayaan lokal di kelas. Seperti tarian, obat tradisional, tempat pariwisata. Dengan bahasa Inggris tentunya. Sebaliknya, 10 siswa Heinrich Heine Gymnasium Hamburg juga mengikuti pertukaran pelajar di SMA 5 Semarang.

Mereka baru di Semarang per 9 Oktober dan belum mengikuti pelajaran, belum banyak yang bisa diceritakan.

”Saat di pesawat, udara seperti tak ada bedanya. Namun saat keluar, di sini sangat panas. Di Jerman 20 derajat celcius atau kurang, di sini lebih dari 30 derajat. Tinggal di Semarang harus pakai AC,” kata siswa Arne Laudel, siswa kelas 10.

Namun hampir tiga hari di Semarang, Arne telah berkeliling dan menilai Semarang sangat padat kendaraan. Dia juga mencicipi soto maupun satai.

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen memberikan sambutan kepada siswa SMA 5 Semarang dan siswa dari Heinrich Heine Gymnasium, Hamburg, Jerman, di Pemprov Jateng, Kamis (11/10/2018). (foto: TribunJateng.com)

Kepala SMA 5 Semarang Titi Priyatiningsih mengatakan, pertukaran pelajar ini memang program kedua belah pihak. Tujuannya, mengenalkan dan menambah wawasan pada era globalisasi. Semarang dipilih karena mereka menilai penduduknya besar dan bisa bertoleransi padahal banyak suku dan agama.

Dalam menyeleksi siswa, sekolah melakukannya ekstraketat. Siswa harus pintar, fasih berbahasa Inggris, serta memiliki materi untuk keberangkatan. Biaya tinggal dan makan sudah ditanggung orang tua singgah. Orang tua yang anaknya ikut pertukaran pelajar, menjadi orang tua singgah bagi satu siswa Heinrich Heine Gymnasium Hamburg.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen saat menyambut siswa Jerman, mengapresiasi program pertukaran pelajar ini.

”Semoga betah dan nyaman dengan lingkungan serta cuaca di Kota Semarang yang cukup panas. Yang pasti, masyarakat Semarang dan Jateng ramah serta menjunjung tinggi perbedaan. Apa yang digambarkan dunia bahwa muslim adalah radikal akan kita tepis di negara ini, khususnya di Jawa Tengah,” papar Yasin. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?