Nasional

Luar Biasa, Mapala UI Temukan 17 Mulut Gua Tersembunyi di Papua Barat

PAPUA – Mulut gua tersembunyai di kawasan karst Pegunungan Arfak, Papua Barat berhasil ditemukan tim ekspedisi Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI). Jumlah yang ditemukan ada 17 mulut gua. Tempat ini akan direkomendasikan kepada pemangku kepentingan untuk dijadikan objek wisata alam.

Melalui penemuan ini, Mapala UI menjadi tim pertama yang menembus kawasan kawasan karst di Distrik Testega. Gua tersebut sebelumnya belum pernah ditemukan tim lain.

Tiga mahasiswa Mapala UI dalam menelusuri gua, bersama satu mahasiswa Universitas Papua, dan dan satu mahasiswa Institut Kesenian Jakarta.

Anggota Mapala UI, Abdurrahman Aslam, penanggung jawab teknis tim menyebut, pihaknya mengetahui kondisi medan yang sulit melalui citra satelit seperti cekungan tertutup, sungai terputus, hingga lubang hitam.

“Mulut-mulut gua di kawasan karst Testega ini sebagian besar tertutup tanah dan dedaunan ketika pertama kali ditemukan,” ujarnya dilansir dari ui.ac.id.

Selama enam hari, tim telusur gua berhasil melalui berbagai tantangan medan yang lumayan ekstrem, seperti tebing-tebing dan cerukan-cerukan yang mendominasi jalur.

Setelah penemuan itu, tim Mapala UI bergabung dengan tim besar Ekspedisi Bumi Cenderawasih di Manokwari, Papua Barat.

Mapala UI telah memberangkatkan empat tim melalui Ekspedisi Bumi Cenderawasih sejak 9 Agustus 2018. Yakni, tim arung jeram, paralayang, telusur gua, serta tim bakti sosial kesehatan ke Kabupaten Manokwari dan Pegunungan Arfak.

Tim bakti sosial kesehatan bekerja sama dengan tenaga kesehatan setempat berhasil menjangkau sebanyak 10 desa dari target 5 desa di Distrik Anggi dan Anggi Gida di Kabupaten Pegaf.

Selain itu, tim yang terdiri dari para mahasiswa dan dokter Rumpun Ilmu Kesehatan UI  sukses menjangkau 300 pasien dan puluhan masyarakat umum serta siswa-siswi sekolah dasar di desa-desa.

Pencapaian Tim Paralayang berhasil melintasi angkasa Danau Anggi Giji dan Anggi Gida, Kabupaten Pegaf, selama empat hari. Mereka juga sukses memetakan titik-titik terbang dan mendarat yang ideal walaupun kondisi angin dan cuaca di sekitar danau terbilang kurang ramah.

Sementara itu, tim arung jeram menjadi tim perdana yang mengarungi hulu Sungai Prafi, Manokwari, yang dikenal deras dan memiliki kesulitan di atas rata-rata. Selama lima hari, tim arung jeram menelusuri Sungai Prafi sepanjang 16 kilometer hingga ke bagian bawah.

Tim arung jeram menemukan dan memberi nama beberapa titik jeram di bagian atas maupun bawah. Titik jeram bagian atas cocok bagi wisatawan yang memang punya keahlian. Sementara titik jeram bagian bawah dapat dimanfaatkan sebagai destinasi wisata yang lebih umum.

Ketua Pelaksana Ekspedisi Bumi Cenderawasih Fathan berharap rangkaian kegiatan ekspedisi mampu memberikan banyak manfaat bagi pengembangan pariwisata di Papua Barat.

“Kedepannya, tempat-tempat yang kami kunjungi ini dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah untuk kemudian dikembangkan menjadi destinasi-destinasi wisata minat khusus. Ini akan turut mengangkat popularitas serta menambah pemasukan Papua Barat,” ujar Fathan. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?