Seminar Nasional Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajarannya (Kabastra) di Auditorium Universitas Tidar Magelang, Jawa Tengah. Pemateri menyampaikan sastra & budaya penting dalam pengembangan BIPA.

Daerah

Sepotong Fragmen Novel Bisa Hanyutkan Pelajar

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Sastra dan budaya dinilai penting dalam pengembangan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). BIPA adalah program pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia (berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan) bagi penutur asing. Penyuntikan sastra dan budaya dalam program ini diharapkan membantu para pelajar asing secara realistik memahami teks-teks sastra Indonesia dalam kelas pembelajaran.

“Sepotong fragmen novel atau cerpen bisa saja mampu menghanyutkan pelajar asing yang membacanya dibandingkan dengan ‘cerita semu’ yang didapatkan dalam buku-buku kursus BIPA,” ujar Guru Besar Budaya dan Sastra Universitas Negeri Yogyakarta Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, M.Pd saat Seminar Nasional Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajarannya (Kabastra) di Auditorium Universitas Tidar Magelang, Jawa Tengah.

Selain Prof. Suminto, pada acara ini Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah Dr. Tirto Suwondo, M.Hum. dan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untidar, Dr. Yulia Esti Katrini, M.S. turut memaparkan materi mengenai pengembangan BIPA. Serta, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mempermudah pendidikan karakter anak bangsa pada sesi diskusi panel. Suminto yang juga sekaligus Penasehat Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), menyampaikan bahwa fokus perhatian bukan pada pengembangan materi ajar sastra dan budaya yang siap pakai di dalam kelas pembelajaran.

“Tetapi diposisikan sebagai materi dalam konteks pembelajaran (perolehan) bahasa secara umum,” jelas dia.

Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Bahasa Untidar Dr. Farikah, M.Pd menyatakan, tahun ke-2 pelaksanaan KABASTRA ini diharapkan dapat menjadi ajang sharing bagi dosen, pemerhati bahasa serta guru. Yaitu, mengenai perkembangan bahasa dan segala permasalahnya kemudian mencari solusi bersama.

Ia menuturkan, peserta sidang paralel pada KABASTRA II sejumlah 44 makalah. Mereka berasal dari dosen dan mahasiswa perguruan tinggi, pemerhati bahasa serta guru bahasa. Dalam kesempatan ini, Dr. Gde Artawan membacakan serta membagikan Buku Puisi bertajuk “Hatimu Sebatang Pohon” kepada rektor, Kepala UPT Perpustakaan dan Kepala UPT Bahasa UNTIDAR.

“Peserta terjauh dari Universitas Khairun Ternate dan Universitas Mulawarman Kalimantan. Serta kita mendapat kesempatan untuk menghadirkan Dr. Gde Artawan, M.Pd, dosen sekaligus sastrawan dari Universitas Pendidikan Ganesha, Bali,” jelas dia.

Apa Tanggapan Anda ?