Tokoh

In Memoriam Hamsad Rangkuti: Aku Sedang Menunggu Tuan

JAKARTA - Indonesia kembali kehilangan salah satu maesto cerpen, sosok penting dalam perjalanan dunia kesusastraan dan kebudayaan tanah air. Dia adalah Hamsad Rangkuti yang meninggal dunia di kediamannya Jalan Swadaya VIII, Tanah Baru, Depok, Minggu (26/08/2018).

Hamsad memberi warna dalam kesusastraan dengan menjadi acuan karya penulis generasi berikutnya. Hal itu tampak sekali ketika dia menjadi pemimpin redaksi majalah sastra Horison periode 1980-1990an.

Hamsad sangat memikat lewat karya-karya kreatifnya. Terbulti selama beberapa dekade, novel, cerpen, maupun buku kumpulan ceritanya begitu mengemuka dalam sastra Indonesia mutakhir. Salah satu contoh adalah cerpennya berjudul “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku Dengan Bibirmu?” yang dimuat di koran Kompas tahun 1998, selanjutnya diterbitkan menjadi kumpulan cerpen lainnya dengan karya Hamsad.

Dalam keadaan sakit, dia masih berkeinginan menulis sebuah cerpen. Hal ini diungkapkannya kepada sang istri, Nur Windasari. Nur menceritakan, saat mengutarakan ingin menulis tersebut, Hamsad mengatakan pada Nur ingin menulis cerpen lagi. ‘Aku Sedang Menunggu Tuan’ itu judul yang dikatakan suaminya.

"Kalau dulu kan berjudul 'Aku Sedang Tidak Menunggu Tuan', itu cerpen dalam buku yang menang penghargaan di tahun 2000-an. Pas ngomong itu dia lagi sakit, pas mau operasi jantung," cerita Nur.

Pria kelahiran Titi Kuning, Medan, Sumatra Utara, 7 Mei 1943 itu selama 75 tahun kehidupannya sudah melahirkan banyak karya novel dan kumpulan cerita pendek. Hamsad berhasil menyabet sederet penghargaan untuk konsistensinya menulis. Beberapa di antaranya adalah penghargaan Sastra Pemerintah DKI di tahun 2000, Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001), Khatulistiwa Literary Award 2003 untuk kumpulan cerita pendek “Bibir Dalam Pispot”, dan Penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi pada 2014 serta SEA Write Award di tahun 2008.

Sejumlah karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti "Sampah Bulan Desember" (bahasa Inggris) dan "Sukri Membawa Pisau Belati" (bahasa Jerman). Beberapa karangannya dimuat dalam buku Beyond the Horizon, Short Stories from Contemporary Indonesia.

Siedoo/NSK

Apa Tanggapan Anda ?