Pengukuhan mahasiswa baru Undip. Walikota dan Wakil Walikota Semarang tercatat sebagai mahasiswa baru Undip Semarang, Jawa Tengah.

Nasional

11.381 Mahasiswa Baru Masuk Undip, Ada Walikota dan Wakilkota Semarang


SEMARANG – Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah menerima sebanyak 11.381 mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019. Dari jumlah itu, ada calon mahasiswa yang istimewa. Dua diantaranya adalah Walikota Semarang Hedrar Prihadi dan Wakil Walikota Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Sebagai simbolis, keduanya berkesempatan menerima kartu mahasiswa dan disematkan jaket almamater oleh Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama di Stadion Undip kampus Undip Tembalang. Tahun ini mereka diterima sebagai mahasiswa baru Undip masing-masing untuk Program Doktor Ilmu Sosial dan Program Magister Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip. Rektor pun mengapresiasi walikota dan wakilnya yang masih meluangkan waktu untuk menimba ilmu.

“Saudara-saudara bisa mencontoh semangat walikota dan wakil walikota, yang ditengah kesibukannya memimpin Kota Semarang masih menyempatkan diri untuk belajar dan menimba ilmu,” kata rektor memberikan semangat pada para mahasiswa baru.

Pada tahun ini, sebanyak 11.381 putra putri terbaik bangsa kembali diterima Universitas Diponegoro tahun akademik 2018/2019. Mereka terdiri dari program Doktor 140 orang, Program Magister 964 orang, Program Spesialis 142 orang, Program Profesi 16 orang, program sarjana 8.239 dan program vokasi 1.896.

Dalam proses pengukuhan mahasiswa baru 2018, rektor secara simbolis melakukan pemasangan jaket almamater kepada beberapa mahasiswa baru. Diantaranya 8 orang mahasiswa warga negara asing dari berbagai negara, yakni Senegal, Timor Leste, Uganda, Sudan, Libya dan Nigeria.

Dihadapan 11 ribuan calon pemimpin bangsa tersebut Rektor menyampaikan bahwa Undip adalah kampus rakyat yang dipenuhi rasa welas asih dan kasih sayang. Undip tidak hanya melayani mahasiswa yang berkemampauan ekonomi, tetapi Undip dengan tegas memberikan jaminan akan melayani mahasiswa yang tidak mampu minimal 20% dari kuota yang ada.

“Bahkan Undip telah memberikan akses bagi lebih 30% mahasiswa yang tidak mampu. Baik melalui program bidikmisi maupun penetapan UKT kelompok 1 dan 2 serta 3,” jelasnya.

Rektor mengatakan, pada tahun ini ada lebih dari 1.000 mahasiswa baru yang mendaftar dan sudah memenuhi administrasi untuk diusulkan memperoleh bidik misi. Dikatakan bahwa, Undip adalah Indonesia mini. Karena mahasiswa Undip berasal dari segenap suku bangsa yang ada di Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, walaupun berbeda – beda suku, mahasiswa baru dipersatukan menjadi satu.

“Di Undip tidak ada semangat kesuku-sukuan, tidak ada suku Papua, suku Jawa, suku Batak, suku Bugis karena kita semua adalah insan-insan yang cinta NKRI. Karenanya kita adalah satu rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Rektor menambahkan, di Undip tidak boleh ada paham radikalisme, kesukuan, ras, dan lain-lain. Paham yang menyimpang dari ajaran Panacasila tidak ada tempat di bumi Undip. Dengan demikian, ia mengajak untuk mengembangkan dan melaksanakan paham-paham Undip. Yakni, paham kerja keras, paham kejujuran, paham tertib waktu, paham toleransi, paham kasih sayang, paham inovasi, jiwa ksatria, jiwa bertanggungjawab dan jiwa yang tawadu’ dan tawakal.

Ia berharap, para mahasiswa di Undip agar setelah lulus bisa menjadi penebar virus kasih sayang dan penebar rahmatan lil alamin. Oleh karenanya, selama di Undip dilarang dengan tegas segala bentuk perpeloncoan dan penistaan.

“Karena semua itu adalah pelanggaran atas hak asasi manusia dan kriminal,” ujarnya.

Rektor juga mengingatkan tidak akan segan mendrop out mahasiswa yang melakukan perploncoan. Serta sanksi disiplin keras bagi staf pengajar yang melakukan pembiaran terjadinya perpeloncoan.

“Undip tidak akan pernah mentolelir perilaku kasar,” tegasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?