Siswa peraih medali perak sedang dikalungi bunga. foto: kemendikbud

Internasional

Empat Siswa Indonesia Berprestasi di Kancah Internasional, Siapakah Mereka


JAKARTA – Di kancah internasional nama Indonesia semakin melambung. Meski tidak meraih emas dalam International Biology Olympiad (IBO) ke-29 di Iran baru-baru ini, tetapi setidaknya telah membawa harum bangsa dengan memperoleh empat medali perak. IBO tersebut diikuti dari 68 negara. Saingan terberat dalam ajang tersebut adalah negara-negara di Asia.

“Saingan terberat kebanyakan dari negara-negara Asia, seperti China, Taiwan, Thailand, Vietnam, India. Tahun ini kita gak dapat emas, tetapi tahun ini kita gak ada yang dapat di bawah perak,” kata Syailendra Karuna Sugito salah satu peserta peraih perak.

Selain siswa SMA Semesta BBS, Semarang, Jawa Tengah tersebut, ada tiga siswa lainnya. Yakni, Aditya David Wirawan (SMA Kristen 1 Petra, Surabaya), Samuel Kevin Pasaribu (SMA Unggul Del, Sumatera Utara), Silingga Metta Jauhari (SMA Negeri 8 DKI Jakarta).

Tentunya dalam meraih medali tersebut, ternyata tak lepas dari latar belakang siswa yang suka pada pelajaran biologi tersebut. Hal ini seperti yang diakui Aditya David Wirawan. Remaja berusia 17 tahun ini mengaku menyukainya sejak kecil.

“Sukanya sejak kecil,” akunya.

Menurutnya, biologi bukan hanya tentang menghafal materi, tetapi lebih kepada pemahaman.

Dalam ajang bergengsi tersebut, di kampus Shahid Beheshti University, Tehran, Iran, pelajar Indonesia mengerjakan empat topik praktikum, masing-masing selama 90 menit, yaitu:

1. Biologi Tumbuhan (fisiologi dan adaptasi tumbuhan)

2. Biokimia dan Biologi Molekuler (isolasi protein)

3. Biologi Hewan (anatomi lintah dan pengamatan tungau)

4. Ekologi dan Evolusi Mikroba

Siswa peserta IBO tahun 2018 ini merupakan hasil seleksi berjenjang diselenggarakan Direktorat Pembinaan SMA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi hingga tingkat nasional pada tahun 2017 di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pekanbaru, Riau.

“Empat medali perak ini prestasi yang luar biasa. Anak-anak kita sudah berjuang, memberikan yang terbaik,” kata Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto.

Dalam olimpiade, mereka didampingi Dr. Agus Dana Permana, dan Dr. Ahmad Faizal yang merupakan Pengajar di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung). Kemudian, Ida Bagus Made Artadana, M.Sc. (Staf Pengajar Universitas Surabaya), Ihsan Tria Pramanda, M.Sc. (Staf Pengajar Tim Olimpiade Biologi Indonesia), dan Muamar Surawidarto, M.Si. (Direktorat Pembinaan SMA, Kemendikbud).

Ahmad Faisal, salah satu pembimbing siswa mengaku bahwa para pembimbing tidak mengalami kesulitan dalam menyiapkan siswa menghadapi olimpiade. Namun, kendala utama datang dari cuaca di Iran yang cukup ekstrim, sehingga mepengaruhi kondisi kesehatan peserta.

“Siswa kita sempat ngedrop. Karena di sana cuacanya cukup panas dan kering. Jadi itu memengaruhi kondisi psikologisnya saat menghadapi ujian,” ujar Ahmad Faizal.

Lebih lanjut, Faisal sepakat dengan kebijakan pemerintah yang mulai mendorong penggunaan higher order thinking skill pada pembelajaran dan penilaian hasil belajar di sekolah.

“Biologi, kan selama ini identik dengan hafalan. Padahal di olimpiade tidak ada hafalan. Semuanya analisis,” katanya.

Apa Tanggapan Anda ?