Daerah

Mahasiswa UM Rela Turun ke Pelosok Desa Demi Anak Spesial

MALANG - Penyebaran informasi tentang anak berkebutuhan khusus di Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur dinilai masih rendah. Di desa ini, belum pernah ada program khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Terutama untuk tunagrahita, baik dalam hal pendidikan maupun mengembangkan kemampuan bina diri anak.

Dengan alasan itu, lima mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Malang (UM) terketuk hatinya dan turun ke lapangan. Mereka yaitu Rizkha Khoirunnisa, Anggita Yulia Giyanto, Atma Risanti, Luqyana Shiya Amira dan Uut Fauziyah. Mereka membuat Program Kreatifitas Mahasiswa dengan judul “Rumah Cerdas Bina Diri Bagi Tunagrahita”.

"Rumah cerdas bina diri bagi tunagrahita adalah sebuah wadah untuk memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat tentang anak berkebutuhan khusus serta pentingnya layanan pendidikan khusus," ujar Rizkha Khoirunnisa, seperti pers rilis yang diterima redaksi Siedoo.

Tunagrahita adalah anak yang memiliki hambatan dalam intelektual yang mengakibatkan adanya hambatan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Sehingga, ketergantungan kepada orang lain masih menempel dalam dirinya.

"Program ini juga bertujuan untuk melatih kemampuan bina diri bagi anak tunagrahita melalui Rumah Cerdas Bina Diri Bagi Tunagrahita. Serta, terwujudnya perubahan perilaku masyarakat terhadap pola penanganan tunagrahita secara tepat," jelas Rizkha.

Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang merupakan daerah sasaran tim dalam pelaksanaan program “Rumah Cerdas Bina Diri bagi Tunagrahita”. Dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk dapat menuju Desa Banturejo menggunakan kendaraan bermotor maupun mobil.

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan sosialisasi yang bertujuan memberi pengetahuan baru pada masyarakat mengenai hakikat tunagrahita dan layanan khusus yang dapat diberikan untuk tunagrahita. Identifikasi ini bertujuan untuk mengelompokkan anak berdasarkan hambatan yang dimilikinya.

Penyuluhan, memberikan pengertian pada masyarakat agar dapat menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus. Sehingga, tidak ada lagi yang disembunyikan keberadaanya.

Kegiatan Bina Diri yang dilaksanakan di masyarakat dengan menggunakan media monopoli yang dimodifikasi. Pengaderan dengan mencari penerus program, tim juga memberikan penguatan dengan cara menjelaskan kembali detail pelaksanaan program “Rumah Cerdas Bina Diri bagi Tunagrahita”.

"Itu agar pelaksanaan program tersebut bisa sesuai dan berjalan seperti seharusnya," urainya.

Pelaksanaa kegiatan bina diri dilakukan dengan mengunakan media, yaitu media monopoli yang dimodifikasi. Hal-hal yang menarik sangat diperlukan dalam melakukan pembelajaran untuk anak tunagrahita. Monopoli ini dimodifikasi menjadi sebuah monopoli kegiatan bina diri, yang setiap petaknya terdapat kegiatan bina diri.

Jika anak menempati petak tersebut, maka anak akan melakukan kegiatan bina diri sesuai petaknya. Dengan penerapan langsung, anak akan lebih mudah dalam memahami kegiatan bina diri.

"Selain itu, anak akan diajarkan cara berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain, melalui kartu dana umum dan kesempatan," tandasnya.

Apa Tanggapan Anda ?