Rhindra Puspitasari, M. Pd.

Opini

Menyelamatkan Anak dari Jajanan Palsu


Siedoo, Hari anak nasional menyadarkan kita semua untuk lebih peduli terhadap anak, termasuk menyelamatkan anak dari jajanan palsu. Dari pesan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), empat hal terkait produk kental manis, harus menjadi pemicu untuk menyelamatkan anak-anak kita. 

Pertama, label dilarang menampilkan anak-anak di bawah 5 tahun. Kedua, memakai visualisasi bahwa produk tersebut setara dengan produk susu lain. Ketiga, produsen, importir, dan distributor dilarang memakai visualisasi gambar susu cair dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. Keempat, label dilarang ditayangkan pada jam tayang anak-anak.

Sebagai amanah bagi kedua orang tua, kualitas jajanan baik makanan atau minuman anak harus dijaga. Anak harus mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi untuk tumbuh kembangnya. Saat ini maraknya jajanan tidak sehat sangat mudah beredar di pasaran yang mengancam anak. Apalagi, dunia periklanan kita kurang jujur dan hanya berorientasi pada laba belaka, tanpa mendukung kesehatan anak.

Sebut saja susu kental manis yang sangat digemari anak-anak. Susu kental manis yang notabene sangat digemari anak-anak tenyata 90 persennya mengandung gula saja. BPOM mengeluarkan surat edaran bernomor HK. 06.05.51.511.05.18.2000/2018 yang menyatakan label dan iklan pada susu kental manis beserta analognya, harus jujur dan tak boleh menipu (Komas, 8/7/2018).

Susu sangat berguna sebagai sumber tambahan gizi pertumbuhan anak. Syaratnya, kadar protein susu minimal 18 persen. Sementara susu kental manis hanya 5 persen dari total kalori, itulah penjelasan (Juwita Surapsari, 2018). Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi orang tua, guru, dosen, dokter dan masyarakat.

Jajanan yang beredar di pasaran tentu harus diawasi dengan benar, terutama jajanan untuk anak. Misal kadar MSG pada makanan tentu juga harus diawasi dengan seksama. Jangan sampai anak-anak kita sering mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat.

Anak-anak yang melihat iklan yang ditayangkan media tentu akan sangat mudah terpengaruh. Padahal apa yang ada dalam iklan tidak sesuai dengan kandungan gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak.

Bahkan, justru banyak menimbulkan penyakit di kemudian hari. Hal ini yang kita sebut sebagai “jajanan palsu”, baik berupa makanan maupun minuman.

Peran sekolah dan orang tua serta masyarakat sebagai Tri Pusat Pendidikan dalam mengedukasi generasi muda, menjadi sangat penting. Anak harus dilatih sejak dini memilih jajanan sehat untuk mereka. Makanan yang tidak sehat dan tidak sesuai memenuhi asupan gizi anak akan menghambat tumbuh kembang anak, baik pertumbuhan fisik maupun non-fisik.

Corbin (2012:7) berpendapat, tumbuh kembang anak, baik perkembangan motorik halus maupun motorik kasar, sangat dipengaruhi asupan gizi dan stimulus yang didapat anak. Jika anak mendapatkan asupan gizi baik, tumbuh kembangnya baik. Namun ketika masuk ke dalam tubuh anak adalah racun, mereka lambat laun akan sakit. Bahkan, risiko kematian makin dekat.

Menyelamatkan Anak

Menyikapi masalah maraknya jajanan palsu yang beredar di masyarakat, sekolah harus mengambil peranan penting untuk menyelamatkan anak. Sekolah harus memberlakukan kebijakan yang bisa membentuk karakter anak menyukai jajanan sehat. Guru di sekolah, baik dari jenjang PAUD sampai SMA/SMK memiliki andil yang cukup besar.

Kebijakan larangan jajanan tidak sehat mangkal di lingkungan sekolah sangat baik diterapkan. Kantin yang ada di sekolah juga harus menyiapkan jajanan sehat. Bukan makanan cepat saji atau jajanan yang mengandung pewarna, pemanis buatan dan MSG dengan kadar tinggi.

Pada satuan PAUD, guru bisa melarang anak membawa jajanan yang tidak sehat dari rumah, dan menerapkan jam makan snack dan makan siang di sekolah dengan makanan sehat yang telah disiapkan di sekolah.

Orang tua di rumah yang memiliki peranan strategis dalam mendidik dan memastikan tumbuh kembang anak, harus lebih selektif memilihkan makanan sehat. Pembiasaan mengkonsumsi jajanan sehat paling penting diterapkan di rumah. Ketika anak dididik mengkonsumsi makan sehat, anak juga akan lebih selektif memilih jajanan diluar sana.

Anak diedukasi dampak dari jajanan palsu. Misal, konsumsi SKM dibatasi dan hanya sebagai pemanis tambahan, makanan cepat saji seperti mie instan, segala jenis saos kemasan hanya boleh dikonsumsi satu minggu sekali.

Makanan homemade yang sehat seperti, jus, puding buah, kue tradisional, masakan sehat tanpa MSG dan lainnya harus diutamakan untuk dikonsumsi anak. Mengajak anak memasak dan makan bersama di rumah bisa menjadi kebiasaan yang baik untuk mengedukasi anak terkait makanan yang sehat, dampak dan mafaatnya. Dengan demikian, anak lebih mudah memahami dan mampu memilih jajanan sehat ketika tidak dalam pengawasan orang tua.

Masyarakat juga memiliki peranan yang penting dalam menyelamatkan generasi muda dari jajanan palsu. Pertanyaannya, masyarakat seperti apa yang mampu menyelamatkan generasi muda dari jajanan palsu? Jawabanya adalah masyarakat yang melek literasi tentang makanan.

Bagaimana masyarakat akan tahu dan membentuk budaya anti jajanan palsu apabila masyarakatnya saja tidak gemar membaca dan menggali informasi? Masyarkat harus paham terlebih dahulu, mana jajanan palsu dan mana jajanan sehat. Masyarakat bisa paham apabila mau membaca, mencari informasi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Regulasi tegas harus diterapkan pemerintah. Selain itu, KPAI, Kemdikbud, sekolah, masyarakat, dan organisasi ibu-ibu seperti PKK, Muslimat, Aisyiyah, harus fokus mengawal kesehatan anak dengan selektif memilih makanan. Melalui literasi kuliner, kaum ibu harus diedukasi dengan pendekatan konseptual dan praktis dengan makanan-makanan yang instan agar ramah anak.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat juga harus peduli dan ikut serta mengedukasi anak, agar memilih jajanan sehat bukan jajanan palsu. Dengan demikian ke depannya generasi kita akan terselamatkan dari peredaran jajanan tidak sehat. Semoga.

 

 

*Rhindra Puspitasari, M.Pd

Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAINU Temanggung, Jawa Tengah. 

 

Apa Tanggapan Anda ?